
Rama membuka baju dan panjang yang dia kenakan, lalu melangkah menuju kamar mandi dan berdiri di bawah shower. Menyalakan airnya dan membiarkan udara menyentuh kulitnya, matanya terpejam membayangkan sosok keberadaan Dea.
"Kamu kemana, Sayang. Aargghh!!" Rama berteriak lalu memukul tembok yang akan dicapai.
"Kau lelaki paling bodoh dan lembek sedunia, Rama!!" bikinnya pada dirinya sendiri.
"Bagaimana kau bisa menjadi wanita yang telah memilihmu di antara pria-pria lain, aarggh!!" Rama kembali memukul tembok dan mengeluarkan darah.
"Sayang, maafkan aku. Kembali' lah aku, ku mohon," Rama menangis seraya membentur-benturkan keningnya di tembok.
***
Sementara di tempat lain, "apa masih lama? Aku lelah?" keluh seorang wanita pada pria di sampingnya, pria itu tersenyum lalu mengelus pipi wanita itu dengan punggung tangannya.
"Sabar Dea, Sayang. Jakarta ke Jogja memakan waktu hampir sepanjang hari, itu yang aku baca di peta tadi. Itu pun kalau tidak macet," mereka adalah Dea dan Abraham, dua makhluk insan yang mencintai.
Obsesi Abraham akan memiliki dan membuat Dea berpisah dengan Rama semakin besar, saat mereka sudah melakukan hubungan intim pertama kali. Cinta Abraham begitu dalam pada wanita yang masih berstatus istri orang tersebut.
"Apa nanti mampir kerumah mama dulu?" Dea menoleh dan memutar tubuhnya menghadap Abraham. Mama yang dimaksud adalah, sang mama Abraham. Mama Abraham juga begitu menyayangi Dea, meski belum pernah bertemu.
Mereka hanya saling video call-an saja, dan itu membuat mama dari Abraham begitu disukai. Abraham dan Dea sudah menceritakan status Dea yang masih bersuami.
Entah di anggap orang tua tidak beradab atau apa, namun mama Abraham menyuruh Dea berpisah dengan Rama, suami Dea. Ternyata mama Abraham juga membenci orang yang berkhianat walau mengatas namakan cinta.
__ADS_1
Terdengar nada dering dari ponsel Abraham, Dea yang mendengar segera membantu mengambilnya, "jangan mulai," Abraham mendesis kesal. Pasalnya saat Dea mengambil ponsel di kantong saku celananya, tangan mungil itu sengaja mengelus senjatanya.
"Ish apa sih, cuma bantu ambil ponsel kamu," sahut Dea tanpa merasa bersalah, kemudian tersenyum usil dan menjulurkan lidah mengejek dan itu membuat Abraham gemas. Saat berada di dekat Dea, Abraham merasakan banyak tubuhnya yang menjadi sensitif.
Dea menyunggingkan senyum yang menimbulkan lesung pipinya, "Laras," cicitnya dan menunjukkan ponsel Abraham dan di sana ada Laras nama si penelpon. Abraham mengangguk dan tersenyum, Dea menggeser ikon di aplikasi berwarna hijau tersebut dan muncul wajah seorang wanita yang memajukan bibirnya.
Laras adalah sahabat Dea, dan dia mengetahui hubungan Dea dengan Abraham. Laras juga mengetahui permasalahan Dea dengan Rama, semenjak Dea berhubungan dengan Abraham, Dea memberikan nomer sahabat-sahabatnya kepada Abraham.
Dan ternyata berguna saat Dea kabur, Dea masih leluasa berhubungan dengan mereka melalui ponsel Abraham walau ponsel milik Dea di matikan, sengaja agar tidak bisa di lacak oleh Rama.
"Udah sampai mana?" tanya Laras dengan nada kesal, masalahnya mereka sudah mengatakan dalam perjalanan akan berlibur ke kota Jogja, namun Dea belum mengabari akan ketemu di mana.
"Sampai mana, Yank?" Dea bertanya dan menoleh kearah Abraham, Abraham hanya mengedikkan bahu tidak tahu. Dea berdecak sebal, pasti kekasihnya itu sedang mengerjai dirinya.
"Lalu kita ketemu di mana? Pacar lu gila, De. Udah ngajak mendadak, ditanya ngga jawab bikin kesel aja," Laras lalu mencebik, Dea terkekeh.
"Walau dia gila, dia cinta mati sama gue tahu," sahut Dea percaya diri, "halah dulu aja si Rama juga gitu, tapi ujung-ujungnya selingkuh juga. Jadi cinta jangan jadikan patokan," ucap Laras tanpa maksud menyindir.
Dea yang mendengar langsung tertunduk dan kemudian mengalihkan pandangannya ke jalanan, "kamu bener, tapi saya janji tidak akan menyakiti orang yang saya cintai," Abraham menyahut dan berkata demikian karena melihat Dea terlihat gelisah dan tidak nyaman, dan lalu sesekali menghirup udara sekitar.
"Eh, Dea maaf. Gue ngga bermaksud," Laras langsung meralat ucapannya, "ngga papa kok, Ras," sahut Dea tidak ingin sahabatnya merasa bersalah karena terjadi itu semua kenyataan.
Dulu Rama, mengatakan sangat mencintai dirinya, berjanji tidak akan menduakan dan membagi cintanya, namun sekarang apa?
__ADS_1
"Eh, Sila, Panca, Dendi plus pacar-pacar mereka ikut'kan?" Dea mencoba mengalihkan topik yang akan menyakiti dirinya sendiri, Dea sudah bertekat akan bahagia dengan caranya sendiri. Entah itu benar atau salah, Dea sudah tidak perduli lagi. Dea ingin menjadi wanita kuat dan tidak mudah di tindas.
"Ikut dong, makanya gue tanya, kalian sampai mana!" seru Laras terdengar kesal, namun Dea kembali terkekeh.
"Kalian berangkat dulu aja, tar kita ketemu di sana," suara Abraham menginterupsi,"Hei, Pak supir, hati-hati bawa teman saya. Jangan di apa-apain," seloroh Laras yang langsung membuat Dea mendelik kesal kearahnya.
"Maaf nona, sahabat anda terlalu cantik dan baik, jadi tidak mungkin saya tidak aauu...." Abraham memekik saat Dea mencubit perutnya.
Laras yang berada di seberang tersenyum, 'semoga kali ini dia tidak membuat mu menangis dan bersedih,' gumam Laras saat melihat Dea dan Abraham bercanda, karena mereka melakukan video call dan menampilkan wajah Dea yang bahagia, seperti merasa jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
"Siapa?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di samping Laras dan mengambil ponsel lalu menyapa, "apa kabar, Cantik," sapa pria itu begitu melihat siapa yang ada di seberang.
"Jangan goda pacar saya tuan Alex," suara Abraham kembali membuat Dea tersenyum, "oh ada tuan Xavier rupanya, maafkan saya," seloroh pria yang bernama Alex tersebut.
Dea menangkap raut wajah cemburu pada sahabat nya, Dea dan Laras tahu dulu Alex sempat menyatakan cinta dan sempat juga mengejarnya namun harus kandas karena Dea lebih memilih Rama. Abraham pun sudah tahu kisah itu, dan dia juga masih ragu kalau Alex sudah move on dari pesona Dea.
Abraham sering melihat cara Alex menatap Dea dengan cara berbeda, sama seperti dirinya menatap Dea, penuh cinta.
"Sudah sampai mana, kalian?" Alex mencoba membuat keadaan cair, tadi setelah menggoda Dea, Alex melihat Dea memberi kode bahwa Laras cemburu.
"Tahu nih, Pak supir," seloroh Dea yang membuat Alex melengkungkan bibirnya. Abraham melirik pakaian Dea yang sedikit terbuka di bagian atas, 'sial' rutuk Abraham saat menyadari Alex pasti juga sedang melihat sesuatu milik Dea yang tidak sedikit terlihat.
Beruntung Dea yang memakai singlet memakai blazer, tangan Abraham yang bebas menyatukan kedua sisi blazer yang Dea kenakan, Dea yang menyadari langsung ikut membenarkan blazer yang dia pakai.
__ADS_1