
Mungkin ia perlu mengundang para sahabat sang istri datang kerumah kecil mereka agar mereka, para sahabat Dea bisa bertemu dan berbincang, mungkin dengan begitu Dea bisa luluh dan mau memaafkan dirinya.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Rama, dilihatnya si pemanggil, "dapat?" tanya Rama tanpa basa basi.
"Dapat bos, setengah jam lagi anda bisa terbang," jawab si asisten, Rama mungkin kesal dan segera mematikan telepon itu.
"Pak ngebut, dua puluh menit kita harus sampai di bandara!" perintah Rama sambil menepuk pundak Pak sopir, pak sopir hanya mengangguk menjawab perintah bosnya.
Pak sopir memutar tuas dan menginjak gas, Dea yang belum siap kepala terbentur jendela.
"Hati-hati, Pak!" pekik Dea kesal, mengusap keningnya yang tampak merah. Rama tersenyum gemas, bahagia mendengar istrinya marah-marah. Bagi Rama lebih baik Dea marah-marah meluapkan amarahnya dari diam saja.
Rama mendekat ke Dea, kemudian menarik kepala Dea dan mengusap pelan kening itu, meniupkannya.
"Sementara kita kerumah mama Abhel dulu ya," Rama mengecup kening Dea agak lama, menunggu jawaban sang istri.
"Nanti kamu tidur di kamar mas, di bawah di ruang tamu ada Raya," Rama berusaha berbicara dengan hati-hati, tetapi Dea masih saja diam.
Dea sebenarnya sangat tahu kalau Rama masih sangat mencintai dirinya, tapi dia tidak bisa menerima kebohongani. Jika Rama tidak mencintai dia mengapa sekarang dia menyusul kemari, pikir Dea.
Ada beribu pertanyaan di benak Dea, ada beribu rencana yang dia olah dalam otak cerdasnya. Dea juga tahu, Raya, istri kedua suaminya itu kaya, tidak mungkin mengincar harta suaminya.
__ADS_1
Sekarang mencari tahu apa tujuan wanita itu dengan suaminya, jika hanya ingin membantu ibu mertua dengan memberikan anak, tapi sudah menikah hampir setahun, Raya belum juga hamil.
Tidak mungkin kan kalau mas Rama mandul, bukan nya waktu tes kesuburan mereka berdua dinyatakan sehat semua? begitu pikiran yang terbesit di otak Dea.
Dea melirik tangan Rama yang sedang mengetik sesuatu dan mengirimkan pada nomer tidak diketahui namanya karena tidak terpampang namanya. Hanya ada di panggilan masuk saja.
Dua puluh kemudian menit mobil yang Dea dan Rama tumpangi tiba di bandara, tampak pria berjas hitam melihat ke arah mobil itu lalu berlari, di arahkan pada menenteng paperbag.
Rama yang sudah keluar dan berdiri di samping pintu tempat duduk Dea menerima uluran paperbag yang disodorkan oleh pria berjas hitam tadi.
"Tiket dan pesanan Tuan ada di dalam tas ini," kata pria berjas hitam tersebut, Rama hanya mengangguk dan menepuk pundak pria itu.
Lima menit kemudian beberapa pesawat sedang terbang terdengar, Rama menuntun Dea memasuki tempat pemeriksaan tiket, tak lama penerbangan keduanya naik ke atas pesawat dan pesawat tersebut terbang menembus langit.
***
Pesawat tiba di bandara Jakarta, Dea yang merasa tubuhnya lelah akhirnya tertidur pulas dan tidak dibangunkan, karena tidak tega akhirnya, Rama mengendong Dea menuju parkiran mobil.
Sebelumnya Rama telah melindungi kaki Dea, ya paperbag tadi sebenarnya berisi selimut dan akan digunakan saat sang istri tidur, untuk menutupi paha Dea yang terpampang.
Rama tidak rela tubuh Dea dilihat pria lain. Rama tersenyum menatap wajah Dea yang damai saat menikmati tidurnya, rasanya lama sekali tidak memandang sedekat ini. Rasa rindu membuncah di dada Rama, kepalanya tertunduk dan mengecup bibir pink milik Dea.
__ADS_1
"Aku sangat merindukan kamu, Sayang," bisik Rama pelan, sesampainya di tempat parkir asisten segera membukakan dan membiarkan atasannya memasukkan istri.
"Kamu langsung pulang saja," Rama memerintah, bukannya tanpa alasan, karena ini sudah malam dan asisten pribadinya tentunya sangat lelah karena ini waktunya istirahat.
"Baik bos," sang asisten mengangguk patuh dan menyerahkan tas Dea pada atasanya-, di belakang mobil yang Rama tumpangi ada mobil lain, sang asisten menaiki mobil itu setelah Rama meninggalkan tempat parkir itu.
Rama mengelus pipi Dea dengan punggung tangannya, menggemaskan sekali wanita ini jika tidur begitu pikir Rama.
Karena jalanan lenggang Rama sedkit menambah kecepatan mobil tersebut, lima belas menit kemudian mobil yang Rama kendarai sampai di rumah sang mama, beruntung saat dalam perjalanan dia sudah menghubungi satpam dan menyuruhnya menunggu dan membuka gerbang untuknya, juga untuk memberi tahu salah satu asisten rumah tangganya untuk membuka pintu utama.
Rama kembali mengendong Dea dan membawanya masuk setelah menutup pintu mobil, "banyak makan kamu sepertinya," Rama tertawa dengan ucapannya sendiri, dan segera membawa Dea masuk setelah salah satu Art membukakan pintu.
Saat memasuki ruang tamu, Rama berdoa semoga Raya sudah tidur, sehingga dia bisa langsung naik dan menidurkan Dea. Rama bernafas lega saat melihat pintu itu tertutup, dan kaki Rama menaiki tangga perlahan, sesekali menghembuskan nafas lelah karena tangannya menopang tubuh Dea.
"Kalian dari mana?" suara bariton dari belakang membuat Rama terkejut, dia memutar tubuh menghadap sang pemilik suara.
Rama bernafas lega karena sang ayah sendiri, bisa bahaya jika sang mama juga melihat Dea ada di sini. Walau sebenarnya tidak ada masalah karena Dea juga istrinya.
"Ini pah, habis liburan. Dea capek jadi ketiduran," Papa Roy hanya mengangguk dan pelan bahu sang putra.
"Bahagia selalu, dan jaga menantu papa," kata Papa Roy yang kemudian melangkah menuruni tangga. Rama hanya mendesah pelan, Rama tahu sebenarnya sang papa juga tidak begitu suka dengan Raya istri keduanya, tapi mamanya sangat mencintai istri keduanya.
__ADS_1