
"Kamu 'kan yang bikin ini?" tanya Dea polos sambil menunjuk kismark di aset gunung kembar miliknya, Rama maju perlahan, kali ini hasratnya sudah tidak terbendung, ingin sekali menuntaskan rasa rindunya sekarang.
Dea berjalan kearah shower, lalu menyetel airnya menjadi hangat, dia tidak sadar saat ini Rama juga sudah polos. Dea terdiri di bawah shower yang menyala, matanya terpejam menikmati air yang mengalir membasahi tubuhnya.
Dea tersentak saat tiba-tiba ada tangan kekar melilit di perutnya, tangan itu perlahan naik, ada sesuatu yang hangat menerpa bahunya. Dan tunggu, Dea merasakan ada sesuatu yang menganjal di bawah sana.
Dea sesekali mendesah kala tangan itu meremas aset kembarnya, "mau tau bagaimana ini ada?" Rama berbisik, tangan Rama yang satu meremas gunung kembar milik Dea yang satu menjelajah 'anggrek merah' milik Dea.
"Mas," Dea sedikit mengerang dan mendongak saat tangan Rama bermain di bawah sana. Dea menggigit bibir bawahnya, menahan hasrat yang di ciptakan oleh Rama.
"Mas kangen, Sayang," Rama membalik Dea dan membuat mereka berhadapan, "mas," Dea memeluk tubuh Rama.
Rama membawa Dea kebathup, perlahan Rama juga masuk kesana, menindih tubuh polos Dea. Entah siapa dahulu yang memulai hingga keduanya saling memanggut dan saling *******, saling bermain lidah dan bertukar saliva.
Setelah beberapa menit pemanasan akhirnya terjadilah sesuatu yang harus terjadi, sepasang suami istri saling memuaskan dahaga pasangan masing-masing.
Mata Dea terpejam dan bibirnya mengumamkan nama 'Abra' lirih, sangat lirih saat pelepasan.
Dea langsung cemberut begitu keluar kamar mandi, tubuhnya juga terasa remuk. Beberapa jam Rama meminta haknya di kamar mandi, seolah tidak ada rasa lelah pada diri Rama, seperti yang sudah-sudah. Sedang Rama, senyum selalu terukir dibibirnya.
"Aku mencintai mu, Sayang," Rama berbisik lembut di telinga Dea, wanita itu kini sedang duduk di depan meja rias, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang panjang menggunakan hairdryer.
Mendengar ucapan Rama, Dea hanya mencebik seraya berkata, "kalau cinta tidak perlu berbohong dan mendua," Rama melepaskan pelukan itu dan memegang kedua pundak Dea lalu menatap wajah itu melalui pantulan kaca.
__ADS_1
"Walau menikah dengan wanita manapun, percayalah cuma kamu yang ada di hati mas, De," Rama mengecup kepala Dea bagian belakang.
"Memang mas mau menikah lagi?" Dea mematikan hairdryer lalu meletakkan nya di meja rias, tubuhnya memutar menghadap sang suami setelah menyingkirkan tangan kekar itu.
Glekk, Rama menelan salivanya pelan, Rama tahu Dea bukan cemburu tapi sedang mengetes dan menguji dirinya. Rama bersimpuh di depan Dea yang sedang menatap dirinya, di genggam nya tangan wanita kesayangan nya itu.
"Ngga. Mas ngga mau nikah lagi," jawab Rama yakin, Dea menangkup kedua rahang tegas pria yang berstatus suami.
"Bagaimana kalau mama menyuruh mas Rama nikah lagi?" Dea kembali memberi pertanyaan konyol, Rama tahu sangat tahu, walau Dea diam tapi dalam hatinya masih ada luka yang menyala.
Rama yakin di sana ada dendam, dan suatu saat akan terjadi sesuatu yang akan membuat dirinya kehilangan Dea, tapi Rama berjanji pada dirinya sendiri apapun yang terjadi dirinya tidak akan melepaskan Dea.
Rama menggeleng lalu berulang kali mengecup lembut tangan Dea yang dia genggam, menyalurkan cinta dan penyesalan yang ada dihati dan yang dia rasakan.
"Kamu mau mas hukum, hmm," Rama menurunkan dan mendudukkan tubuh mungil Dea di bibir ranjang, lalu menaik turunkan kedua alisnya. Dea seketika melotot tidak percaya, "mesum," gumam Dea yang membuat Rama tertawa saat mendengar nya.
"Makan yuk," Rama kembali bersimpuh di depan Dea, meletakkan kepalanya dipangkuan wanita itu. Tangan Dea refleks mengusap dan menyisir rambut sang suami.
"Oke, kebetulan Dea juga sudah lapar gara gara mas kerjai," jawab Dea sembari merengut kesal, Rama tersenyum mendengar jawaban Dea, pria itu berdiri mengambil sandal rumah dan meletakkan dikaki sang istri seraya berkata, "silahkan tuan putri," Dea memukul pelan pundak Rama, hati Dea selalu tersentuh akan perlakuan dan perhatian yang Rama berikan padanya.
Tangan keduanya bertautan saat keluar dari kamar, Rama lupa jika mama Abhel dan Raya belum tahu jika Dea ada di sini. Tapi tidak apa, biar nanti sekalian bisa menjaga mama Abhel dari istri kedua ayahnya, pikir Rama begitu.
Di meja makan sudah ada empat orang yang hampir menghabiskan sebagian makanan mereka, Rama dan Dea sadar mereka terlambat untuk sarapan atau makan pagi karena ini sudah menunjukkan hampir pukul jam sembilan pagi.
__ADS_1
Semua orang menoleh kearah suara orang bercanda, sengaja dalam perjalanan menuju ruang makan Rama sesekali menggoda Dea. Dan itu menjadi kesenangan bagi dirinya, dan ini adalah moment yang dia rindukan setelah beberapa bulan ada jarak di antara keduanya.
"Lho mas kamu udah pulang?" Raya bertanya heran, bukannya kemarin suaminya itu mengatakan tidak akan pulang, dan entah pergi kemana. Tetapi sekarang dia di sini dan bercanda dengan istri pertamanya.
"Iya," jawab Rama singkat, tangannya menarik tangan Dea menuju kursi dan menarik kursi agar istrinya bisa duduk di sampingnya dan sarapan, walau terlambat.
"Memang Rama dari mana?" Mama Abhel bertanya karena memang sehari kemarin tidak melihat anak sulungnya tersebut, Raya tidak menjawab, istri kedua Rama tersebut hanya menatap Dea.
"Tante Vani," Dea menyapa sosok perempuan yang duduk di sebelah ayah mertuanya, sedari tadi Dea menatap tidak percaya akan keberadaan perempuan paruh baya di depannya.
Wanita yang di sapa Dea tersenyum lalu meraih gelas berisi air minum dan meneguknya sedikit lalu mengambil tissu dan mengelap bibirnya.
"Gimana liburannya? Mana oleh-oleh buat tante," Tante Vani menggoda Dea, sedang semua orang menatap penuh tanya pada keduanya.
"Kamu tahu Dea sedang liburan?" Papa Roy bertanya sambil memandang istri keduanya, Tante Vani mengangguk.
"Dia liburan bareng putra kita," kata tabte Vani, Papa Roy mengerutkan kening, belum paham arah sang istri berkata.
"Kalian liburan berdua?" Raya dan mama Abhel bertanya serempak dan bersamaan, Dea dan Rama juga menggeleng bersamaan.
"Tante kok di sini? Ada proyek sama papa Roy?" Dea masih penasaran, kenapa Tante Vani pagi-pagi sudah berada di sini. Tante Vani menekuk bibir berkata," Tante tinggal di rumah suami tante, " jawab Tante Vani.
Dea menggaruk hidungnya lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya yang tiba-tiba mengangga karena tidak percaya dengan fakta yang ia tangkap baru saja.
__ADS_1