
Laras mendengus sebal, kadang dia berpikir bahwa dia juga tidak kalah cantik dari Dea tetapi kenapa banyak pria lebih menyukai sahabatnya itu.
Jika Laras di tanya, kenapa mau berteman dengan Dea? Jawabnya adalah Dea itu baik, tidak membedakan sahabatnya, apa adanya, cerewet dan konyol namun ngangenin kalau ngga ada. Dulu saat Dea masih kaya raya, Dea sering menraktir Laras. Dari kesemuanya hanya Laras yang berasal dari keluarga tidak mampu namun Dea dengan kekehnya menjalin persahabatan.
Dan di saat orang tua Dea bangkrut karena sikap boros dan foya-foya sang kakak, Dea masih mau berteman dengan dirinya. Mungkin di sini keistimewaan seorang Dea. Dulu walau sering bertengkar dan adu mulut hebat, Dea dulu yang datang dan meminta maaf, sekali pun Dea tidak bersalah.
"Gue heran ama thu anak, ngajak liburan kok ke Jogja, ke Bali kek, ke luar negeri kek," gerutu Sila, "lagian si bule kan kaya raya, masak masih di Indo aja," gerutu Sila kembali karena tidak mendapatkan tanggapan.
"Tante Sila berisik," ucap Lea polos seraya menutup kedua daun telinga nya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.
"Awas aja kamu ya, nanti kalau sampai pantai tante uyel-uyel kamu," ujar Sila dengan nada gemas. Namun Lea hanya menjulurkan lidah dan duduk di pangkuan sang mama.
Kemudian suara mesin menyala terdengar, pertanda mereka akan berangkat. Satu persatu mereka meninggalkan halaman rumah Alex.
****
"Rama kamu hari ini ngga ke kantor?" tanya mama Rama yang heran masih melihat Rama mengenalkan pakaian rumah.
"Rama cuti, Ma," sahutnya dengan malas, "kenapa ngga pulang kerumah Raya aja sih?" pertanyaan yang terdengar mengusir di telinga Rama.
"Kenapa emang kalau Rama di sini? Toh ini masih rumah Rama' kan?" tanya Rama antara bingung dan kesal.
"Kasihan si Raya, kamu cuekin terus!" hardik sang mama. Rama hanya mampu menghela nafas dan memilih masuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Ini adalah waktunya aku sama kamu, De. Tapi kamu malah ngilang, maaf kalau udah bikin kamu kecewa," Rama menatap foto Dea yang berada di dinding kamarnya. Hanya ada foto Dea dan dirinya, tidak ada foto yang lain.
"Aku tidak akan melepaskan kamu sampai kapanpun, walau aku mati sekali'pun. Kamu duniaku, De," jari jempol Rama mengusap foto Dea, lalu bibirnya mengecup foto Dea, melampiaskan rasa cinta dan rindu juga rasa bersalahnya.
Tok tok tok, suara pintu kamar Rama di ketuk dari luar, "Siapa?" malas Rama membuka pintu dan dia bertanya terlebih dahulu.
"Ini mama, Ram," jawab sang mama dari luar, "Raya menelpon katanya dia sakit, kamu di suruh kesana. Ponsel kamu, kamu non aktif'kan?" tanya sang mama dari balik pintu karena tidak juga di bukakan pintu oleh Rama.
Rama turun dari ranjangnya yang nyaman, dengan malas kakinya melangkah menuju pintu. Ceklek, pintu terbuka dan Rama melihat sang mama sedang menopang kedua tangannya di depan dada.
"Kamu pulang kerumah Raya saja, dari tadi dia telpon mama mulu. Kasihan Raya kamu tinggal-tinggal, Ram," rayu sang mama, Rama memutar tubuhnya dan berjalan masuk lalu merebahkan tubuhnya pada sofa panjang yang ada di kamarnya. Sang mama pun ikut masuk, mata tuanya menelisik kamar putra bungsunya.
"Ck, kenapa hanya ada foto Dea di kamar kamu? Foto Raya mana?" mama dari Rama protes, foto menantu kesayangan nya tidak terpajang di sana.
"Ngga punya," sahut Rama malas, "lagian kenapa harus ada foto Raya sih, Ma?" protes Rama kesal. Sang mama hanya mencebik seraya berkata, "Raya juga istri kamu, Ram. Harusnya kamu adil," tegur sang mama.
Ya, awal perjodohan itu Rama awalnya tidak mau, dan mama serta Raya akan setuju apapun syarat yang di ajukan Rama asal dia mau menikah dengan Raya. Berat sebenarnya bagi Rama harus membagi hati, bukan hati sebenarnya karena Rama sangat mencintai Dea, dan buat Raya itu hanya bisnis.
Rama mengatakan tidak akan bisa adil kepada Raya, selain takut Dea tahu lalu meninggalkan dirinya, Rama juga takut kalau Dea akan membenci dirinya bila tahu dia menikah lagi. Dan sekarang terbukti, Dea membenci dirinya dan meninggalkan dirinya.
Bagi Rama Dea adalah cinta pertama dan terakhir bagi nya. Sang mama mendesah pelan, lalu duduk dan menatap intens sang putra.
"Lupakan Dea, bahagia lah dengan Raya, Nak," pinta sang mama dengan suara memelas. Drrt drrt ponsel mama Rama bergetar, "Raya," kata mama Abhel, mama dari Rama sedikit berbisik.
__ADS_1
"Ya, Nak," sapa mama Abhel saat sambungan telepon tersambung, "mama kemana aja sih? mas Rama mana?" suara tanya si penelpon dari seberang. Mama Abhel menyerahkan ponselnya pada Rama, dengan malas Rama menerima ponsel tersebut lalu mendekatkan ke telinganya.
"Ya, halo," suara Rama menyambut si penelpon, "mas Rama," suara wanita di sana terdengar mendayu.
"Ada apa, Ra?" tanya Rama pada si penelpon yang ternyata si Raya, "kamu kesini dong, aku lagi sakit nih," suara manja Raya terdengar, Rama berfikir jika yang menelpon Dea, dia, Rama pasti segera kesana dan pasti begitu khawatir.
Mengingat Dea, Rama jadi merindukan istri pertamanya itu, 'Mas rindu kamu, De,' sisi hati Rama berbicara.
"Mas, kamu masih di sana'kan?" Raya memastikan kalau Rama masih ada karena tidak ada suara, Rama mengangguk tanpa sadar.
"Mas, kamu masih di sana'kan?" ulang Raya karena Rama tidak menjawab, "Ya, masih," jawab Rama sedikit ketus, mama Abhel memukul lengan Rama mengingatkan.
"Mas lelah, maaf ngga bisa kesana," jawab Rama langsung, dan terdengar helaan nafas dari sana.
"Ya sudah, Raya aja yang kesana," kata wanita itu kemudian, tuut tuut tuut, ponsel yang di pegang Rama mati sebelum dia sempat menjawab, Rama menyerahkan ponsel itu ke mama Abhel.
"Ruang tamu masih bersihkan, Ma?" Rama mendongak menatap sang mama setelah tadi sempat menunduk dan berpikir bagaimana caranya agar Raya tidak masuk ke kamar ini.
"Masih. Kenapa?" kedua alis mama Abhel menyatu, heran dengan pertanyaan sang putra, "ngga papa," jawab Rama kemudian.
Rama segera keluar dan turun mencari pekerja rumah tangga di rumah mama Abhel, "ada apa, Dhen?" tanya asisten rumah tangga itu setelah beberapa saat mendengar majikan mudanya memanggil dirinya.
"Tolong dong mbok, kamar tamu itu di bersihkan. Di semprot atau di ganti seprei," pinta Rama dengan halus seraya menunjuk kamar tamu di bawah tangga, mata asisten rumah tangga itu mengikuti dan mengangguk paham setelah tahu kamar mana yang di maksud.
__ADS_1
Di rumah Rama memang terdapat beberapa kamar, di atas ada kamar utama, terdiri dari kamar Rama sendiri, kamar sang mama dan papa, kamar sang adik, dan ruang kerja masing-masing untuk dirinya dan sang papa jika lembur di rumah.