Gairah Cinta Duda Tampan

Gairah Cinta Duda Tampan
Rencana Papa Roy


__ADS_3

  "Jadi Tante Vani istri Papa Roy?" suara Dea melengking, Tante Vani mengangguk dan mengulum bibir, Rama kesal melihat interaksi istri pertamanya dengan istri kedua papa-nya.


    Apa mereka saling kenal, di mana, kenapa bisa seakrab itu? Berbagai pertanyaan bersarang di benak Rama.


      "Sudah ayo makan, katanya tadi lapar," Rama memutus perbincangan yang menurutnya tidak penting, Rama membalik piring di depan Dea lalu mengisi dengan nasi, tangannya berhenti kala Dea memegang tangannya dan mengatakan cukup.


      Raya menangis dalam hati, seumur pernikahan mereka, Rama tidak pernah memperlakukan dirinya seperti itu. Berbicara saja jika menurutnya penting, jika Raya bertanya Rama menjawab seadanya.


      "Rama, memang kalian kemarin kemana?" Mama Abhel mengulang pertanyaan yang belum putranya jawab tadi.


      Rama bingung mau menjawab apa, kemarin dia pergi karena menjemput istrinya yang sedang melarikan diri yang ternyata sedang berlibur bersama para sahabatnya.


        "Bukannya lu kabur, De?" pertanyaan dari mulut Raya membuat semua orang mengalihkan pandangan kearahnya, "kok bisa mas Rama ketemu lu sih?" desak Raya lagi dengan raut wajah tak enak.

__ADS_1


      "Kamu kabur? Kenapa?" Tante Vani yang bertanya, matanya menatap lekat anak mantu dari suaminya dengan istri pertamanya.


    "Dea ngga kabur, cuma lagi suntuk," Rama membela istri tercintanya, Raya melengos. Terus saja kau bela istri mandulmu, begitu pikir Raya. Tante Vani terkekeh sambil menutup mulut kemudian geleng-geleng.


    Mama Abhel hanya menyimak percakapan istri kedua suaminya dan menantu pertamanya, entah kenapa hatinya seperti tercubit. Matanya beralih menatap Raya, ada guratan kesedihan yang nampak di wajahnya. Mama Abhel mendesah pelan, ini seperti hukum karma sedang berjalan.


    Dulu dia memaksa bahkan menjebak anak sulungnya hingga bisa menikah dengan Raya, itu juga yang dulu dia lakukan pada Papa Roy.


    "Mumpung ini hari Minggu dan kami, maksud papa, papa dan Rama libur bagaimana kalau kita mengobrol saja di ruang tamu. Sekalian pengenalan," ucap Papa Roy setelah menandaskan makanan dan minuman miliknya.


    "Wah boleh juga itu, Mas," Tante Vani menyetujui usul sang suami, "mbak juga setuju kan?" Tante Vani mengalihkan pandangan dan meminta pendapat istri pertama suaminya.


      Mama Abhel terlihat ragu, sekilas dia melirik Raya seakan meminta pendapat. Raya pun mengangguk mengiyakan permintaan istri muda ayah mertuanya.

__ADS_1


    "Kalian ngga kemana-mana 'kan?" Tante Vani beralih menatap Rama dan Dea, Dea menggeleng seraya mengunyah makanannya.


    "Mau nambah lagi?" Rama menawari Dea yang terlihat begitu lahap, Dea tersenyum malu-malu. Dia memang lapar karena dari kemarin siang belum makan, mau minum kelapa muda pun tidak jadi karena Rama sudah datang dan mengajaknya pulang.


        "Sayurnya aja, Mas," pasrah Dea akhirnya, dengan cekatan Rama mengambil kan sayur dan memindah kepiring Dea, setelah mengambilkan sayur Dea, tangan Rama mengusap pucuk kepala Dea, "dimakan dan habisin," kata Rama yang hanya diangguki Dea.


      Sungguh hati Raya ingin menjerit dan menangis melihat langsung perlakuan suaminya pada istri tuanya, Tante Vani yang melihat hanya tersenyum.


        "Kami duluan," pamit Tante Vani yang sudah menerima uluran tangan dari Papa Roy, mereka hanya mengangguk.


  Seketika Papa Roy berbalik dan mengulurkan tangan kearah Mama Abhel, ada keraguan di hati wanita itu. Mama Abhel tahu tadi istri keduanya yang meminta Papa Roy mengajak keruang tamu bertiga.


      "Ikut saja, Ma," suara Rama menginterupsi, Mama Abhel mengangguk lalu menerima uluran tangan Papa Roy dan mereka bertiga berlalu dari sana, Papa Roy mengapit dua tangan istri-istrinya melangkah menuju ruang tamu, dan kini menyisakan Dea, Rama dan Raya.

__ADS_1


__ADS_2