
"Cantik sih, tapi sombong," cibir ibu Astuti yang sering bercakap-cakap dan bercanda dengan Dea.
"Buat apa cantik tapi songong dan sombong," cibir ibu-ibu yang lain, Raya yang mendengar cibiran itu lalu membuka jendela dan menatap tidak ramah pada mereka, "miskin saja belagu!" ketus Raya kesal lalu menatap Rama yang sedang memperhatikan pria sebelah rumah.
"Mas Rama, ayo! Katanya mau nganter aku pulang, terus kamu mau nyari istri kamu yang kabur!" Raya berteriak dan melirik ibu-ibu itu, bermaksud memberi tahu bahwa Dea bukan istri yang baik. Tetapi di luar dugaan.
"Pantes mbak Dea kabur, madunya pahit kaya gitu, ha ha ha," semua ibu-ibu itu tertawa terbahak sedang Rama langsung masuk dan menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan rumah istri pertama nya setelah mengunci dan mengembok semua pintu dan pagar.
"Kok bisa sih, istri mandulmu itu betah tinggal di sana," rasa kesal menguasai Raya, mengingat cibiran yang dia dapat tadi.
"Karena Dea memang ramah dan supel, jadi ibu-ibu itu menyukainya," sahut Rama yang terdengar seperti membandingkan antara Raya dan Dea.
"Bela aja terus istri mandulmu itu," ucap Raya terdengar kesal, Raya lalu membuang wajahnya dan memilih menatap jalanan.
Ckkiiiittt, tiba-tiba Rama menghentikan laju mobilnya, membuat Raya hampir terbentur dasboard, "Mas, ini sudah ke dua kalinya kamu membuat aku kaget lho!" seru Raya sambil memegang dadanya dan menarik nafas dengan cepat.
"Jaga cara dan nadamu bicara dengan ku, aku bukan membandingkan, namun itu fakta!" Rama lalu melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Begitu mobil yang Rama dan Raya tumpangi sampai di sebuah rumah mewah bercat putih, dengan gerbang tinggi menjulang berwarna kuning keemasan, Rama menghentikan laju mobilnya.
Rama menekan klakson berulang kali dengan rasa tidak sabar, kemudian sosok penjaga pintu dengan tergopoh-gopoh segera membukakan pintu gerbang yang tinggi menjulang itu, setelah pintu gerbang terbuka sempurna Rama memasukkan mobilnya ke halaman.
"Pak Daliman!" seru Rama memanggil orang yang tadi membukakan pintu gerbang untuknya.
__ADS_1
"Ya, Tuan," Pak Daliman datang tergopoh-gopoh dan langsung menunduk begitu sudah sampai di depan Rama, "tolong angkat dan bawa masuk koper Raya," titah Rama yang di balas dengan anggukan oleh pak Daliman.
"Kamu turun!" perintah Rama pada Raya, dengan kesal dan wajah di tekuk, Raya keluar dari mobil dan menatap sebal pada Rama.
Rama segera masuk ke mobilnya begitu Pak Daliman sudah menurunkan koper milik Raya, istri keduanya. "Aku tinggal dulu," pamitnya pada Raya dan hanya di balas anggukan oleh Raya.
"Pak Daliman, saya titip rumah. Selama saya belum pulang tanggung jawab rumah ini saya serahkan pada bapak," Pak Daliman pun mengangguk. Pak Daliman tahu Rama orangnya keras namun dia berhati lembut, tergantung orang yang Rama hadapi.
Pak Daliman adalah mantan supir pribadi papa Rama, namun karena kecelakaan dan menyebabkan Pak Daliman harus di istirahatkan dan karena sayang maka Rama mengusulkan akan mempekerjakan sebagai penunggu rumahnya dan Raya, istri keduanya.
Di sini Pak Daliman tidak perlu menyetir, hanya membuka dan menutup pintu gerbang yang di bantu satpam, di samping pos satpam ada rumah kecil dan beberapa kamar yang bisa di huni para pekerja di rumah itu.
Rama melajukan kendaraan roda empatnya menuju rumah mertuanya, niatnya ingin mencari Dea di sana terlebih dahulu. Sesampainya di depan rumah sederhana, Rama menghentikan dan mematikan mesin mobilnya, dia berharap sang istri pergi kesini.
Cukup lama Rama mengetuk pintu itu namun tidak juga kunjung terbuka, "Mas Rama nyari ibu dan bapak?" tanya seorang pemuda yang umuran nya masih terbilang remaja, Rama mengangguk meng-iyakan akan pertanyaan itu.
"Sudah tiga hari mereka ke desa seberang, saudara mereka ada punya hajat," ucap pemuda itu, "mbak Dea ngga ikut?" mata pemuda itu memindai sekitar, Rama menggeleng lalu tersenyum.
Lalu melangkah mendekati pemuda itu, "oya namamu siapa?" tanya Rama pada pemuda itu.
"Nama saya Radit, adiknya mas Rasya yang naksir mbak Dea," jawab pemuda yang bernama Radit tersebut lalu tersenyum kikuk. Rama tahu di perumahan ini banyak yang tertarik dan menyukai Dea, apalagi jika bukan karena sikapnya.
Tiba-tiba Rama tersenyum kecut saat mengingat telah menyakiti wanita yang baik seperti Dea, "Kata ibu mereka mau pulang kapan?" Rama mencoba mengalihkan percakapan yang pasti akan membuat rasa menyesalnya semakin besar dan bertambah.
__ADS_1
"Mungkin nanti malam, Mas," jawab pemuda yang bernama Radit tersebut. 'Kemana Dea sekarang? Tidak mungkin'kan dia kerumah temannya,' monolog batin Rama.
"Ya sudah...." telunjuk Rama mengarah pada pemuda di depannya.
"Radit," sahut pemuda itu yang seakan. menjawab pertanyaan Rama yang lupa akan namanya.
"Ah iya, Radit. Kalau begitu saya pulang dulu, terima kasih atas pemberitahuannya," ucap Rama kemudian segera melangkah ke mobilnya.
"Salam buat mbak Dea ya, Mas," seloroh Radit yang di tanggapi senyuman oleh Rama.
"Ke Butik atau ke resto dulu?" monolog Rama bimbang, kedua tempat itu adalah usaha kecil-kecilan yang di rintis Dea saat masih sendiri, sebagai penghasilan tambahan kala keluarga Dea bangkrut.
Sebenarnya keluarga Dea dulu cukup berada, hingga Dea bisa menabung dan mendirikan resto bersama sahabat nya. Usaha mereka pun berkembang pesat karena otak Dea yang pintar, namun di saat usaha kecil-kecilan Dea berkembang, justru usaha keluarga Dea bangkrut karena sang kakak yang hobi berjudi.
Beruntung Dea tidak menceritakan usaha yang dia sahabatnya rintis, semenjak Dea mengenalkan dia kepada keluarga nya,mereka langsung setuju dan berharap Rama segera menikahi Dea.
Setelah menikah, Dea sering memberi uang hasil keuntungan restonya tersebut di bantu oleh Rama, selang beberapa bulan Dea kembali membuka usaha butik. Lagi-lagi bekerjasama dengan sahabatnya, namun beda orang.Mungkin mereka ingin mencoba keberuntungan seperti sahabat yang lain.
Hanya perlu dua bulan usaha butik itu pun berkembang, Dea bisa meraup keuntungan yang lumayan dari kedua usaha itu. Akhirnya Rama melarang Dea keluar rumah karena selalu sibuk dan setelah itu Dea hanya perlu mengontrol hasil perkembangan usahanya melalui orang kepercayaannya.
Setelah sampai di butik, Rama di sambut ramah oleh para karyawati di sana, mereka menanyakan kenapa Dea, sang atasan tidak ikut. Rama menyimpulkan bahwa Dea tidak kesini, pun di resto. Mereka menanyakan Dea, dengan berbohong, Rama mengatakan dia kesini untuk berpamitan mereka akan liburan.
Mereka mendoakan agar Dea dan Rama segera di beri momongan seperti yang Dea ceritakan, lagi hati Rama merasa sakit karena telah menduakan cinta sang istri. Rama tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya mereka, sahabat dan karyawan Dea tahu jika dirinya telah menyakiti wanita yang mereka sayang.
__ADS_1
Flashback off.