
Dea cuek dan lebih memilih makanannya dari percakapan dengan istri kedua suaminya. Sepuluh menit kemudian Dea, Rama dan Raya selesai sarapan kemudian menyusul ke ruang tamu. Di sana Papa Roy bercanda dengan Tante Vani, sedang Mama Abhel hanya sengaja menimpali.
Rama memilih duduk di samping Mama Abhel, dan saat Dea mau duduk di sebelah Rama, Mama Abhel menggeser agar Raya juga bisa duduk di dekat Rama.
"Mas, ponsel aku masih ada di tas yang kemarin kan?" Dea belum duduk, Rama mengangguk menjawab pertanyaan Dea.
"Kuncinya mana? Biar Dea ambil," Dea menengadahkan tangannya pada Rama dan sama sekali tidak mau melirik ibu mertua dan Raya.
"Sebentar mas ke kamar ambil kunci," Rama berdiri dan melangkah menaiki tangga, "Mas, Dea tunggu di luar ya!" Dea setengah berteriak karena Rama hampir sampai di ujung tangga.
Pria itu mengacungkan jempol dan mengangguk, Dea melangkah keluar menuju tempat parkir mobil yang kemarin digunakan untuk memarkirkan mobil yang mereka bawa pulang dari bandara.
Dea berdecak bingung, mobil mana yang kemarin mereka gunakan, Dea ingat dia menyalakan saat masih di pesawat dan tiba-tiba dia sudah berada di ranjang dan di kamar sang suami saat terbuka.
Dea terlonjak kaget lalu memukul pelan lengan Rama yang tiba-tiba melingkar di lehernya lalu mengecup pipinya, sedang Rama hanya terkekeh. Kaki Dea melangkah mengikuti langkah Rama menuju mobil yang kemarin mereka gunakan.
"Ini bukan mobil kamu kan, Mas?" tanya Dea penasaran, Dea sangat hafal mana saja mobik yang Rama miliki. Rama hanya mengangguk kemudian memasukkan kunci ke dalam lubangnya lalu memutar dan membuka pintu mobil itu.
__ADS_1
Tubuh Rama yang besar itu merangsek masuk dan mengambil tas mahal Dea yang kemarin dia lempar di kursi bagian belakang. Senyum Dea merekah kala Rama menyerahkan tas itu, tangannya kemudian sibuk membuka tas lalu mengambil ponselnya.
Rama cemburu dengan ponsel itu, wajahnya dia tekuk. Rama bersandar pada pintu mobil sambil memandangi sang istri yang masih sibuk dengan ponselnya, seolah-olah ponsel itu adalah kekasihnya.
Rama tersenyum senang kala Dea tersenyum menatap sebuah foto di ponselnya, Rama yang cemburu merebut dan melihat apa yang sedang Dea lihat. Senyum juga tercetak di bibir Rama kala membaca pesan dari sahabat wanita istrinya.
(Lihat keponakan kesayangan mu itu, wajahnya langsung ditekuk begitu kamu di jemput suamimu) dan di sana ada foto Lea yang cemberut, bibirnya yang kecil dan mungil maju beberapa senti.
"Aish, ini anak. Ngga puas apa tidur bareng aku selama seminggu," Dea tersenyum sambil geleng-geleng.
"Kamu tidur dengan anak Laras?" Dea manggut-manggut sambil berjalan bersisihan dengan Rama, 'juga bareng Abraham,' gumam Dea dalam hati.
Saat memasuki ruang tamu Dea melihat ibu mertuanya sedang berbincang akrab dengan adik madunya, sedang papa mertua dengan Tante Vani hanya mendengarkan. Dea menghembuskan nafas pelan, Rama tahu istri pertama sedang gelisah.
Rama mengalungkan lengan kekarnya di leher Dea, dengan sedikit menunduk Rama menempelkan kepala mereka dan berkata, "jangan khawatir ada, Mas," Dea hanya mengangguk acuh, sudah biasa ibu mertuanya bersikap cuek padanya.
Raya tadi sempat melirik, rasa cemburu dan iri dalam hati, mengapa Rama tidak bisa melakukan romantis dan memperlakukan aku dengan baik, sebagaimana dia memperlakukan Dea. Aku juga ingin merasakan kasih sayang dari mas Rama, merasakan perhatian mas Rama, tidak ingin Rama bersikap acuh tak acuh padanya dan hanya sikap cuek yang dia terima, monolog batin Raya berteriak.
__ADS_1
Tante Vani yang melihat Dea masih berdiri dan sibuk dengan ponselnya segera menyenggol Papa Roy. Papa Roy menoleh lalu mengikuti arah pandangan istri keduanya, Papa Roy melihat Dea yang sedari tadi menunduk sibuk dengan ponselnya, Papa Roy menaikkan kedua alisnya seperti bertanya 'ada apa?', Tante Vani mendelik sebal pada Papa Roy yang tak peka.
"Dea, duduk sini nak," tangan Tante Vani melambai lalu meletakkan tangannya di sofa sebelahnya yang masih kosong, Dea mendongak dan mengulum senyum, saat kaki Dea hendak melangkah menuju tempat duduk Tante Vani tiba-tiba Rama menarik tangan Dea dan memaksa Dea duduk di sofa yang muat untuk dua orang, Dea melirik sebal pada suaminya tersebut, akan tetapi di balas dengan senyum manis oleh Rama, Dea mencebik gemas.
"Oya, De. Bagaimana bisnis kamu, lancar?" Tante Vani membuka percakapan dengan mengajukan pertanyaan pada Dea, Rama mengerutkan kening, dari mana istri kedua papanya tahu tentang usaha Dea, istrinya? Apa mereka dekat? Beribu pertanyaan masih bersarang di tempurung kepalanya, tetapi jika mengutarakan pertanyaan tidak mungkin karena Rama tidak menyukai istri kedua papanya.
"Lancar Tante, ya lumayan bisa buat nambah-nambah rekening," jawab Dea seadanya, memang begitu keadaannya, bisnis baju dan kuliner yang dia tekuni bersama para sahabat berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang bisa menambah saldo rekening miliknya, walau tiap bulan Rama mentrasfer sejumlah uang padanya, namun uang itu jarang ia pakai karena selain mengirim uang, Rama juga sering membelikan ini itu pada Dea, jadi dia tidak merasa butuh membeli barang itu.
"Beruntung Rama punya istri mandiri seperti kamu," Tante Vani memuji Dea, tidak bermaksud menyindir Raya, yang hanya ditanggapi senyum manis oleh Dea.
"Ya harus bekerja keraslah tante, kan biar buat bisa menghidupi keluarganya, tidak hanya mengandalkan uang suami," sahut Raya ketus, tidak terima di banding-bandingkan pikir Raya.
"Maksud kamu gimana?" Tante Vani menoleh, mengubah posisi duduknya menghadap Raya, sedang Rama mengepalkan tangan, tidak menerima Raya, menjelek jelekkan Dea, istri tercintanya.
"Sudah jelas kan tante, dia harus bekerja keras untuk memberi uang pada keluarganya, ayah dan ibunya," sinis Raya memandang Dea betapa kesal dan irinya dia, hati Raya bertambah sakit saat melihat Dea dan Rama saling bertautan jemari mereka.
"Setidaknya dia mandiri dari dulu, tidak mengantungkan kehidupan dan kebutuhan pada orang tuanya," kata Tante Vani membela Dea, istri kedua Papa Roy itu berharap sedikit membuka mata dan pikiran Raya tentang sosok Dea yang begitu mandiri.
__ADS_1
"Sudah Tante, orang kaya dari kecil itu tidak akan tahu rasanya susah-susah mencari uang, tidak seperti Dea yang harus mencari uang untuk melanjutkan kuliah, Dea orang beruntung tidak kaya harta tetapi punya otak cerdas," Dea menjeda ucapannya dan menarik nafas perlahan .