Gairah Cinta Duda Tampan

Gairah Cinta Duda Tampan
Keegoisan Raya


__ADS_3

  "Oya bagaimana kalau kalian bulan madu, agar menantu kesayangan mama cepat hamil," Rama memutar bola jengah, mereka sering bulan madu sebulan sekali, bahka selama delapan bulan ini dia tidak memberi nafkah batin pada Dea, istri pertamanya.


    "Rama banyak kerjaan, Ma.Lagi pula kami sering bulan madu, namun menantu kesayangan mama belum juga hamil, ingat ma,ini hampir setahun aku menikahinya," tegas Rama mengingatkan sang mama.


    Rama ingat, dulu dia dan Dea sering kontrol kesehatan dan hasilnya mereka sehat, namun entah kenapa Dea masih belum juga bisa hamil.


    "Apa jangan-jangan Dea memanupulasi kesehatan kalian, dia yang sebenarnya mandul namun meminta sang dokter menulis kalian sehat?" mama Rama mempengaruhi sang anak agar goyah, dan menceraikan Dea. Jika Rama dan Dea berpisah, maka mama dari Rama akan mendapatkan lima persen harta milik besannya, itu adalah janji mertua dari Rama.


"Kamu di mana Dea, Sayang. Aku minta maaf, kembalilah," Rama meratapi kepergian istri pertamanya, saat ini Rama sudah ada di kamar  rumah sang mama yang dulu dia tempati sebelum menikah dengan Dea. Tidak lama terdengar dering ponsel milik Rama.


  "Ya, halo," jawabnya singkat begitu telepon tersambung dan saat mengetahui yang menghubungi adalah istri keduanya.


    "Kamu ngga pulang kerumah, Sayang?" tanya Raya dari seberang, Rama menghela nafas, dalam hati dan fikirannya, apa wanita itu tidak mengerti dirinya sedang bersedih karena wanita  yang dia cintai pergi, dan itu ulahnya.


    "Ini aku pulang," sahut Rama malas, "kamu perjalanan pulang kesini?" tanya Raya terdengar bahagia.


  "Ngga, aku pulang kerumah Mama. Aku pulang kesana kalau Dea udah ketemu. Ada apa menelponku?" tanya Rama to the point, terdengar wanita itu berdecak.


  "Kenapa harus nunggu dia sih," ketus Raya tidak terima, "kenapa aku selalu di nomer dua kan?" tanya Raya seperti tidak terima.


  "Karena kau memang yang kedua, dan selamanya akan menjadi yang kedua," ketus Rama, "sudah aku mau istirahat, lelah tubuhku," timpal Rama.


  "Kalau lelah kesini aja, Sayang. Tar aku pijit," ucap Raya dengan suara mendayu-dayu. Klik, sambungan telepon itu pun Rama matikan tanpa menjawab dan ponselnya dia mode pesawat agar Raya tidak lagi menganggunya, dibukanya galeri ponsel miliknya.

__ADS_1


  Di sana banyak foto Dea dan dirinya yang terlihat begitu bahagia, sampai petaka itu datang, Ingatan tentang kejadian yang membuat wanita yang dia cintai berubah.


  Flashback on


    "Halo, Sayang," sapa Dea saat dia menelpon.


  "Apa kabarmu? Maaf aku belum bisa pulang, masih ada kerjaan di luar kota," bohong Rama waktu itu, dan Rama membayangkan wanita itu pasti sedang cemberut tapi terlihat menggemaskan dan seksi. Memang Rama sering bepergian ke luar kota, namun hanya dua hari.


Dan semenjak menikah dengan Raya, istrinya itu ikut ke luar kota, tanpa sepengetahuan Dea tentunya.


  "Aku baik....." ucapan Dea terputus karena ada yang memanggil dirinya.


    "Sayang. Mas Rama, kamu telepon siapa? telepon istrimu, kan ini jadwalmu denganku, cukup ya aku mengalah pada wanita miskin dan mandul itu," wanita yang mengaku istrinya merajuk.


    "Tapi mas merindukan dia, Raya," Rama sangat geram pada istri keduanya ini, Rama belum sadar jika sambungan itu masih menyala.


  "Ya Tuhan, Dea!" pekik Rama kemudian, berkali-kali Rama mencoba menghubungi istri pertamanya, Dea. Namun tidak juga diangkat, terakhir kali mencoba nomer ponsel Dea sudah tidak aktif, "maafkan aku, Sayang. Maaf aku sudah berbohong padamu," sesal Rama lalu mengusap wajah tampannya dengan kasar lalu menjambak rambutnya.


    Seminggu sudah ponsel Dea tidak aktif dan dia akhirnya pulang kerumah Dea karena ini jadwalnya bersama Dea, wajah Dea tidak terlihat sedih, namun Dea irit bicara dan dingin, saat Rama akan menyentuhnya, dengan kasar Dea menepis dan meninggalkan dirinya.


    Saat di kamar pun Rama sudah menjelaskan ini adalah keinginannya sang mama, Dea juga tahu kalau mama Rama sudah lama menginginkan cucu. Berkali-kali Rama menolak perjodohan tersebut, dengan alasan sangat mencintai Dea dan tidak akan menyakiti wanita-nya.


    Namun sang mama dan istri keduanya sepertinya menjebak dirinya hingga pernikahan itu terjadi dan tanpa restu Dea, Dea dan Rama dulu berfikir masih banyak di luar sana yang sudah menikah bertahun-tahun namun masih belum dikaruniai momongan dan akhirnya mereka berhasil.

__ADS_1


Pagi harinya, Dea terlihat biasa. Ada rasa bahagia di hati Rama, namun Dea masih belum tersentuh. "Dua minggu mas tinggal di sini," ucap Rama kala itu, "hmm," sahut Dea singkat.


  "Mas akan turuti apapun permintaan kamu sebagai penebus kesalahan yang mas buat," sambungnya, namun Dea yang sedang mencuci piring tidak menoleh.


    "Kamu dengar ngga aku bicara!" sentak Rama sambil menarik lengan Dea, membuat wanita-nya hampir jatuh,  "maaf, mas ngga sengaja," Rama berniat menolong namun Dea mengelak dan berdiri dihadapannya.


    "Bebaskan aku," kata Dea dengan tenang, Rama tahu sifat Dea keras kepala, tidak mudah di pengaruhi, berpendirian teguh. Jika Dea ingin ini maka harus terjadi, beruntung Dea tidak banyak permintaan.


    "Tidak, aku tidak akan menceraikanmu. Aku mencintai dirimu, Sayang," Rama mencoba meraih tangan Dea namun gegas ditarik dan Dea menjauh.


    "Ck, egois," cibir Dea tanpa airmata, "oke, aku ngga akan meminta cerai. Tapi aku ada syarat," Dea meletakkan jarinya di dagunya yang lancip.


    "Katakan," pinta Rama, perasaannya mulai tidak enak, "pertama jangan pernah kau bawa WANITA-MU itu kemari, jika tidak kau tidak akan pernah melihatku lagi," Rama mengangguk menyetujui permintaan pertama Dea.


    "Kedua, aku tidak ingin kamu menyentuhku. Kecuali aku yang mau," Rama mengeram marah, tangannya mengepal tapi ini adalah konsekuensi yang harus dia terima.


    "Ketiga, mulai hari ini setiap aku kemana pun kapan pun, kamu ngga perlu kirim pengawal, tenang saja aku tidak akan kabur, aku akan kabur jika permintaan pertama dan ketigaku kamu langgar," ucap Dea santai.


    Braakk, tangan kekar Rama menghantam kran yang ada di sebelah kirinya, dan akhirnya air kemana-mana. Tanpa sarapan Rama gegas pergi ke kantor dengan perasaan dongkol.


    Di kantor pun masalah semakin rumit, ada beberapa klien yang protes dan berniat membatalkan kerjasama mereka, namun dengan keyakinannya akan meyakinkan klien tersebut mereka tidak jadi menarik saham mereka.


Hari-hari berlalu dengan cepat, dan berganti minggu, minggu berganti bulan sampai kejadian yang membuat Dea pergi tanpa dia duga.

__ADS_1


    "Sayang, aku ingin tinggal bersama Dea. Kan menurut cerita mama, dia tidak punya teman," rayu Raya kala itu, sebenarnya Dea memiliki banyak teman dan sahabat, namun semenjak Dea menikah Rama membatasi pergaulan istrinya dengan teman-temannya, apalagi teman Dea kebanyakan pria.


    Rama tahu, diantara mereka ada yang memiliki perasaan lebih karena sikap Dea yang humoris, supel, periang dan baik hati. Dan alasan itulah yang membuat dirinya jatuh hati pada Dea, gadis polos yang keras kepala.


__ADS_2