
"Berapa lama kalian menikah? Dan apa alasan papa menghiyanati mama?" Rama mencoba bertanya dengan sabar dan tidak ingin emosi. Dia tahu rasanya menjadi sang mama, pasti rasanya sama dengan yang Dea rasakan.
Mengingat Dea, hati Rama menjadi sesak, dan perasaan bersalah kembali menyeruak. Papa Roy menghela nafas lalu melepaskan tangan dari istri keduanya, menghampiri Rama dan memeluk tubuh putra kesayangannya.
"Maaf, papa membuat kalian kecewa. Tapi papa mencintai mama Vina, dia cinta pertama papa, papa tidak bisa melepaskan dia begitu saja setelah tahu saat papa meninggalkan dia, dia sedang hamil anak papa waktu itu," ucap papa Roy panjang lebar.
"Maksud papa?" mama Abhel terkejut dengan kenyataan yang dia terima hari ini. Kini dia merasakan menjadi Dea juga Raya, dinikahi pria yang tidak mencintai dirinya dan suami yang sangat dia cintai memiliki wanita lain selain dirinya.
***
Di belahan kota lain, pasangan yang sedang jatuh cinta sedang menikmati perjalanan untuk liburan.
"Yank," Abraham menoleh saat wanita yang dia panggil memanggil panggilan kesayangan untuknya.
"Bisa ngga sampai di pantainya pas matahari terbit?" Abraham hanya mengangguk setelah melihat peta goggle.
"Makasih, makin sayang deh," Dea merangsek mendekat lalu memeluk dan mengecup bibir singkat Abraham, "asal kamu bahagia, aku akan melakukan apapun," ucap Abraham sambil tersenyum.
"Kecuali kalau kau memintaku untuk pergi kemana-mana, lebih baik aku pergi ke surga," imbuh Abraham yang membuat Dea mendelik tajam.
"Sudah di bilang jangan ngomong kaya gitu!" sentak Dea kesal, lalu memilih bocoran jalanan, tidak terasa airmatanya keluar. Abraham merasa bersalah, lalu menepikan mobilnya setelah melihat sekitar sepi.
"Kemarilah," Abraham menarik lengan Dea, namun karena kesal Dea hanya diam tanpa melihat ke arah Abraham.
"Maaf," kata Abraham yang kemudian mengecup pipi Dea setengah melepas seltbelt yang membelenggu dirinya, Dea melacak jejak airmata itu lalu menghadap Abraham yang saat ini tengah tersenyum.
"Berjanjilah jangan ngomong kaya gitu lagi," ucap Dea dengan suara parau, Abraham mengangguk dan membentangkan kedua tangannya. Dea tersenyum manis lalu merangsek dan duduk di pangkuan Abraham.
__ADS_1
"Maaf, maaf, maaf, maaf," kata Abraham berulang kali memberikan kecupan pada wajah Dea, wanita itu mengangguk dan berkata, "aku tidak suka kamu berkata seperti itu," kemudian memeluk Abraham yang di balas Abraham dengan mengeratkan pelukan tersebut.
"Aku janji," kata Abraham berbisik di telinga Dea, darah Abraham berdesir hebat saat hidungnya mengendus leher Dea. Jiwa kelelakiannya seketika bangkit, "sial," umpat Abraham yang di dengar Dea.
"Kenapa?" Dea menarik tubuhnya dari pelukan Abraham dan menangkup kedua rahang tegas pria itu, Dea tersenyum lalu menggigit bibir bawah kala melihat Abraham sedang memejamkan mata.
Dea akhirnya kembali duduk di kursi penumpangnya setelah membuat Abraham geram, bagaimana tidak geram, Dea sengaja bergerak-gerak di atas pangkuan pria itu.
"Kamu tahu, jika tadi di kamar sudah habis kamu," desis Abraham di telinga Dea yang di tanggapi cebikan. Dea menekan tuas bangku penumpang yang dia duduki agar bisa agak turun pada sandarannya. Dea berpindah ke belakang mengambil makanan ringan dan minuman yang tadi sempat mereka beli di minimarket yang mereka lewati saat perjalanan.
Setelah mendapatkan apa yang Dea mau, wanita itu kembali duduk di bangku depan, membuka snack berisi kentang di iris tipis di beri bumbu tabur rasa keju dan babeque.
Jari-jarinya dimasukkan ke mulut karena banyak bumbu yang menempel di jemarinya yang lentik. Abraham yang melihat jadi gemas karena nya, sikap cuek dan apa adanya, itu yang membuat seorang Abraham Xavier kini tergila-gila pada wanita di sampingnya yang masih berstatus istri orang.
"Yank, nanti aku ga usah salin ya. Aku cuma bawa baju dua atau tiga biji soalnya," Dea menunjuk tas berisi pakaian dirinya dan Abraham di bangku belakang.
"Bukan gitu...." Dea berputar menghadap ke arah Abraham, tangan kirinya meletakkan camilan kentang yang tadi dia makan di atas dasboard kemudian menjilati sisa bumbu yang masih menempel, Abraham yang menarik tangan Dea dan memasukkan jari Dea kemulutnya dan membuat Dea terkejut.
"Gurih," kata Abraham setelah Dea menarik tangannya, Dea hanya membesengut dan membuat Abraham tertawa.
"Makanya jangan buat aku gemas," desis Abraham yang kemudian menarik hidung Dea yang mancung, segera di tepis tangan kekar itu.
"Sakit," Dea mengeluh seraya mengelus hidungnya yang mancung, Abraham memelankan laju mobilnya lalu menarik Dea dan mengecup hidungnya yang dia tarik karena gemas tadi.
"Maaf," katanya di sertai senyum yang membuat Dea mengangguk. Tidak terasa mereka sampai di tujuan. Abraham memarkirkan mobilnya di dekat sebuah tulisan pantai.
"Sepi sekali," Dea memandang sekitar, matanya berbinar kala dari jarak melihat ombak bergelung-gelung.
__ADS_1
"Ini masih malam, Sayang," Abraham ikut keluar dan berdiri mensejajari Dea yang sudah keluar terlebih dahulu, "senang dan bahagia?" tanya Abraham yang langsung diangguki oleh Dea.
"Sangat! terima kasih sudah buat aku," katanya yang kemudian membalas pukulan di leher Abraham, dan sedikit berjinjit untuk memberi kecupan pada pipi pria itu.
Uhuk uhuk uhuk, Dea terbatuk saat ada asap rokok menerpa wajahnya. Dengan kesal Dea memutar tubuh dan memukul kepala orang itu.
"Kebiasaan!" maki Dea pada orang itu, marah pria itu tertawa lalu menarik Dea menjauh dari Abraham dan berkata, "pinjam pacarnya sebentar lagi, Bro," Abraham hanya mengangguk.
Tuk, lagi, Dea memukul kepala orang itu. "Datang jam berapa?" Dea mencairkan suasana canggung tersebut.
"Dari tadi, kebetulan ada proyek di Jogja," pria bernama Dendi itu menghembuskan asap rokok ke udara.
"Istri lu si Ria ga ikut?" mata Dea menjelajahi sekitar, namun tidak menemukan sosok yang dia cari. Dendi mengangkat dan kembali menyesap rokok di tangan, lalu meniupnya ke udara.
"Gue udah pisah sama dia," sahut Dendi kemudian, Dea berhenti di depan Dendi lalu menahan tubuh pria berbadan kekar itu dengan kedua tangannya.
"Kenapa?" Dea mengernyit heran dan menopang kedua di tangan dada. Lagi Dendi hanya menggeleng, membuat Dea kesal.
"Lu selingkuh?" tanya Dea yang menuduh Dendi, kemudian dengan santai Dendi membuang rokoknya lalu menginjaknya hingga mati, dan memutar kepala Dea agar melanjutkan berjalan.
Abraham yang mendengarnya hanya tersenyum kecut, sebegitu cinta'kah pria itu hingga nekat menceraikan istrinya. Abraham tahu Dea tidak akan mau menjalin hubungan dengan sahabatnya, selain itu bisa merusak persahabatan, Dea sebenarnya wanita yang setia jika tidak di selingkuhi.
Abraham mengambil ponsel di tas pinggangnya, lalu kameranya dia arahkan kepada Dea yang sedang berlari karena di kejar ombak, saat Dea menunduk mengambil air laut, Abraham berdecak kesal.
"Kenapa malah di perlihatkan pada dia sih," umpat Abraham kesal mengingat 'pepaya' Dea pasti terlihat.
"Sayang!!" Dea memanggil Abraham, tangan Dea melambai memanggil pria itu. Abraham berjalan mendekati Dea dan Dendi yang kembali sibuk dengan ombak yang bergelung.
__ADS_1