Gairah Cinta Duda Tampan

Gairah Cinta Duda Tampan
Di Pantai


__ADS_3

  "Asin," kata Dea kemudian mengusap-usapkan wajahnya yang basah karena terkena air laut pada baju Abraham, dengan sigap Abraham mengambil tisu dan mengelap wajah kekasihnya yang berstatus istri orang.


  "Sebentar lagi matahari terbit, mau foto?" tawar Abraham yang langsung di angguki oleh Dea.


    "Mau foto pas matahari terbit?" Dendi yang tiba-tiba datang dan mengacak-acak gemas rambut Dea, "Den, rambut gue jadi berantakan!" serunya kesal, dengan sabar Abraham menata lagi rambut Dea yang tadi sempat di acak-acak Dendi.


      Dea membocorkan langit yang masih berwarna hitam, tidak lama dari ufuk Barat muncul matahari, perlahan tapi pasti. Tidak mau melewatkan momen itu, Dea meminta Abraham memfoto dirinya.


    Abraham melirik ke arah Dendi, pria itu juga mengambil gambar Dea. Dea setengah berlari mendekati mereka dan merebut ponsel Abraham, senyum Dea saat melihat foto dirinya terlihat sempurna, "perfect, Yank," katanya memuji Abraham.


    "Lebih bagusan punya Dendi," Dendi seketika gelagapan, "apa sih, Bro," ujarnya membela diri.


    Dea segera mengambil ponsel milik Dendi, Dea berdecak karena ponsel itu di kunci. "Kata sandinya?" tanpa melihat Dendi, tangan Dea fokus ke ponsel Dendi, matanya menyipit saat melihat fotonya menjadi wallpaper pria itu.


    "Kok foto gue jadi wallpaper di ponsel lu, Den?" kedua alis Dea bertautan, "091095" Dea menengok ke arah Abraham, "itu kan tanggal ulang tahunku," Dendi menggigit bibir bawah kuat, mata tajamnya mengungkapkan betapa tajamnya Abraham.


    Dea segera mengetik tanggal serta bulan dan tahun lahirnya, kedua bola mata Dea membola, "terbuka!" pekik Dea kegirangan. Tangan Dea berselanjar di ponsel Dendi yang dia pegang.


      Galeri foto di sana dia buka, mulutnya mengangga tidak percaya, "jangan bilang lu ngfans sama gue!" telunjuk Dea mengarah ke wajah Dendi, saat Dendi akan membuka mulut terdengar ada yang memanggil dirinya.


    "Tante Dea!" Dea menoleh dan senyum di mengembang, "Lea!" sahutnya tidak kalah, Dea berjalan ke arah Lea dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya pada sahabat baik.


    "Uluh-uluh anak tante ini bikin ngegemesin deh," Dea mencubit pipi chubby Lea lalu menghujani wajah bocah itu dengan ciuman, Lea tertawa karena geli.


    "Udah dari tadi?" Panca mendekat dan mengusak rambut Dea, "hu'um" sambil mengacungkan tangan. Lea menendang kaki Panca hingga membuat pria itu mengaduh karena terjebak, gemas Panca mengendong dan memberikan kecupan di wajah Lea, bibir Panca melengkung saat melihat pipi anak sahabatnya itu ada sisa parfum milik Dea.

__ADS_1


      "Kalian sudah sarapan?" Abraham maju dan mengalungkan tangan kekarnya di leher Dea, dan memberikan kecupan pada kepala wanita yang dia cintai. Tangan yang lain di perut Dea, Abraham seolah menunjukan dengan jelas, bahwa Dea hanya milik Abraham.


Laras yang melihat adegan itu tersenyum, matanya melirik ke arah Alex sang suami. Nampak Alex sedang membuang muka, cemburu'kah kamu? gumam Laras dalam hati.


Laras berdehem membuat Abraham melepas pelukan yang berada di pinggang Dea.


    Laras maju dan berkata, "boleh aku peluk pacar kamu," dengan senyum manis dan memohon akhirnya Abraham melepaskan pelukan itu.


    "Benarin jaketmu, 'pepaya' mu terlihat," bisik Abraham yang kemudian mengecup pipi Dea, kemudian melangkah mundur dan mengendong Lea, Dea dengan sigap merapatkan blazer yang dia pakai hingga 'belahan' nya tertutup.


    Laras maju dan langsung memeluk Dea, "apa kabar?" tanyanya yang langsung mendapat kecupan dari Dea di pipi.


    "Baik," singkat, Laras mengurai pelukan itu dan menelisik tubuh Dea.


      "Lu terlihat gendut, eh bukan tapi lebih berisi," bukan Laras yang berkata tetapi Sila, ternyata dia dari tadi menyimak percakapan para sahabatnya.


    "Iya'kah?" tanya Dea tidak percaya, "yank!" Abraham menoleh mendapati sang kekasih memanggil dirinya, "Ya?" tanyanya setelah mendekat, tadi dia bersama Lea juga Panca dan Dendi sedang bermain air laut.


    "Apa aku terlihat gendut?" Dea meraih tangan Abraham dan meletakkan di perutnya, Abraham melihat lalu menggeleng. Namun Dea tidak puas dengan jawaban dari Abraham.


      "Memang waktu aku di atas kamu ngga keberatan?" tanya Dea polos, Abraham segera membungkam mulut Dea dengan tangan kekarnya, namun segera di pukul oleh Dea.


    Sila dan Laras terkikik akan ucapan dari Dea, ternyata sekarang sampai dia masih suka ceplas ceplos dan mengutarakan isi hati dan pikirannya, "dia suka lu goyang dari atas," Sila menutup mulut dengan kedua tangan tangan, takut tawanya meledak.


    "Yank, laper," Dea mengalihkan percakapan yang membuat dirinya malu, "belum ada yang buka," jawab Abraham setelah mata elangnya membuka daerah sekitar.

__ADS_1


    "Tadi gue nyuruh si mbak bawa makanan, jaga-jaga kalau Lea kelaparan dan pengen ngemil. Lu mau?" Alex maju dan menawari Dea makanan, namun Dea menolak.


    "Ga usah, buat Lea aja," tolak Dea lembut, "yakin?" satu mata Alex menyipit tanda dia ragu akan jawaban wanita di hadapannya, tatapan mata Alex terkunci pada wajah Dea.


    "Yakin," jawab Panca yang baru datang lalu mengusak rambut Dea, "tadi Riri, cewek gue bawa makanan banyak," netranya beralih ke Dea.


    "Jaga-jaga sahabat gue dah," sambung Panca, Dea tersenyum lalu berkata, "makasih," ucap Dea manja lalu memukul lengan Panca. Panca berjalan meninggalkan mereka dan melangkah menuju mobilnya, di sana Riri, kekasih Panca sedang tidur.


    "Eh, Panca gue ga enak ganggu cewek lu," Dea berbisik, pintu mobil Panca memang sengaja dia buka, agar Riri mendapat udara segar. Panca terkejut, ternyata Dea mengikuti dirinya dan sekarang dekat dengan dirinya.


    "Ga ganggu kok," Panca masuk ke mobilnya dan menurunkan tuas bangku agar agak rendah, tubuhnya yang tinggi merangsek masuk mencoba meraih paperbag yang berisi rantang makanan.


    "Biar gue aja!" bisik Dea kesal, masalahnya dari tadi Panca tidak bisa juga mengambilnya, Panca mengangguk dan tersenyum, kemudian dia mundur dan mempersilahkan Dea masuk.


    "Sial, kenapa malah gue jadi kaya gini?" desis Panca pelan dan memandang sekitar, melihat Dea dalam berpakaian singlet dan memakai celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih meski tertutup blazer, masih bisa membuat jiwa kelelakian bangkit.


    "Eh, maaf," Riri tersenyum dan mencoba duduk, "maaf udah ganggu tidurnya," Dea mengulang permintaan maafnya karena tidak sengaja menyenggol kepala Riri dan membuat wanita itu bangun.


    "Ngga papa, De," Riri tersenyum ramah, "kata Panca kamu masak banyak, aku di suruh ambil," Riri hanya mengangguk dan membantu Dea mengambil paperbag itu, lalu menyerahkannya.


      "Terima kasih," ucap Dea di iringi senyum yang membuat lesung pipinya terlihat, "sama-sama," sahut Riri dengan di iringi senyum juga.


    "Dapat?" Abraham bertanya saat Dea keluar dari mobil Panca, "hu'um," jawabnya seraya menunjukkan paperbag yang dia dapat dari Riri.


    Tadi Abraham sempat melihat Panca menatap Dea tanpa berkedip, dan Abraham tahu penyebabnya. Oleh karena itu dia menyusul dan menunggu Dea di sini.

__ADS_1


__ADS_2