Gairah Cinta Duda Tampan

Gairah Cinta Duda Tampan
Bertemu Dea


__ADS_3

    "Ayo tante kejar Lea lagi!" gadis kecil itu ikut berteriak dan tertawa terbahak saat Abraham menangkap dan mengendongnya, lalu melangkah menuju Dea berada.


  "Kamu ga papa?" Abraham menurunkan Lea dan ikut berjongkok di depan Dea, menyentuh dan menghapus kening wanita-nya yang mengeluarkan keringat.


    "Tante kenapa?" Lea ikut berjongkok, sedikit mendongak karena tinggi badan yang berbeda.


    "Tante ga papa, Sayang. Hanya lelah," jawabnya seraya mencubit pipi gadis kecil itu gemas.


    "Kita kesana ya," Abraham mengajak Dea ke tenda yang mereka dirikan agak jauh dari bibir pantai, tendanya terbuka sehingga angin bisa melewati tenda tersebut. Dea hanya mengangguk patuh, sepertinya tidak dia sudah punya tenaga lagi.


    "Sayang, kamu jalan ngga papa? Om bule mau gendong tante Dea," Abraham mengusap lembut kepala gadis kecil di sampingnya, tampak gadis kecil itu berfikir akhirnya mengangguk setuju melihat wajah sang tante terlihat tidak baik-baik saja.


    "Hu'um, gendong tante aja, Lea jalan ga papa," Abraham menunduk dan mencium gemas pipi Lea, "terima kasih, Sayang," Lea mengangguk.


    Abraham berdiri dan meminta Dea berdiri, saat Dea berdiri wanita itu memekik terkejut karena tiba-tiba Abraham mengendong dirinya ala bride style, Dea segera menyembunyikan wajahnya di dada Abraham.


    Sesampainya di tenda, teman-temannya segera datang karena tidak biasanya Dea manja seperti itu dan mereka penasaran.


    "Dia kenapa?" Laras segera maju begitu Dea sudah diturunkan dari gendongan Abraham, wanita itu menggeleng tanda tidak apa-apa, Abraham mengambil tas Dea dan mengambil minyak kayu putih, yang beberapa hari ini bisa menangkal rasa tidak enak badan pada wanita-nya.


      "Hirup ini," Abraham menyodorkan botol itu setelah membuka dan menuang sebagian ke telapak tangannya, lalu mengusap tengkuk Dea. Dea terpejam menikmati sentuhan yang kekasihnya gelapnya berikan, sangat nyaman.


      "Dia kenapa, Bro?" Dendi maju dan menyentuh kening Dea, "ga panas," ujarnya.

__ADS_1


"Gue kecapekan," kata Dea dengan perlahan membuka mata, "kok bisa? emang kalian ngapain aja di kamar?" suara Dendi terdengar meninggi, matanya menatap sengit kearah Abraham.


      "Jangan salahin, Abra. Kami di kamar hanya tidur, lagian Lea tidur bersama kami," ketus Dea tidak terima kekasihnya di salahkan.


      "Tadi tante Dea lari-lari sama Lea, trus tante nya kecapekan," Lea maju dan memeluk Dea, Dea balas memeluk dan membuat anak kecil itu duduk di pangkuannya.


    "Hufh," Dendi mendengus lalu berdiri dan meninggalkan tenda itu, "tante maaf Lea ya, udah bikin capek harus kejar-kejar kesana kemari," oceh Lea merasa bersalah. Lea merasa bersalah karena dia kini tante kesayangan nya harus seperti ini.


    "Hish, bukan kok. Emang tantenya aja yang lagi ngga enak badan," mata Dea terpejam lagi, menikmati sentuhan dan pijatan di punggungnya.


    "Lu udah makan?" Alex bertanya, Dea berpikir lalu menggeleng.


    "Akhir-akhir ini ga selera makan," sahutnya masih dengan terpejam.


    "Kelapa muda?" Dea membuka mata dan menoleh kebelakang, Abraham mengangguk.


      "Mau," jawab Dea antusias, Abraham tersenyum lalu mendongak menatap teman-teman kekasihnya.


    "Ada yang mau kelapa muda juga?" tawarnya pada mereka, Sila dengan percaya diri maju dan menerima tawaran Abraham akan kelapa muda tersebut.


  "Tuan putri, apa tuan putri juga mau?" tatapan Abraham berpindah kearah Lea, gadis kecil itu mendongak seakan meminta izin sang mama, karena sang mama mengangguk tanda mengizinkan akhirnya dia berkata mau.


"Om bule, tante Sila juga mau dong," Sila maju dan mengajukan diri, Abraham mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


    "Ada lagi, mau beli masing-masing satu takutnya ga mau. Bukan pelit, cuma mubazir aja," Abraham mengutarakan maksudnya.


    "Lima aja, bro," sahut Panca yang merangkul kekasihnya, Abraham mengangguk dan menekuk dengkulnya di samping Dea lalu mengecup pipi Dea sambil berbisik, "aku tinggal sebentar," Dea mengangguk dan membelai rahang kekasihnya itu.


      "Lu serius ga papa?" Laras duduk di samping kiri Dea setelah Abraham melangkah meninggalkan mereka, Lea berdiri dan minta berpindah ke pangkuan sang mama, Laras langsung menghujani anaknya dengan kecupan di kedua pipi tembem itu.


    "Iya, gue ga papa. Kenapa emang?" Dea berbalik bertanya, Laras memperhatikan Dea dengan intens lalu menarik nafas dan menatap teman-temannya satu persatu.


      "Lu ga ngrasa ada yang aneh gitu di badan, Lu?" Laras meletakkan punggung tangannya di kening Dea, wanita itu menggeleng kuat.


      "Cuma beberapa hari ini gue sering merasa cepet lelah, udah gitu aja. Selera makan gue kadang naik kadang turun, tapi gue juga heran, beberapa hari ini gue seneng ngemil," Dea menyugar rambutnya dan membuat rambut panjangnya terikat.


      "Lu ga mual pengen muntah atau pusing gitu?" Dea mengernyit mendengar pertanyaan Laras, "memang dia sakit apa, La?" Alex yang melihat wajah sahabatnya pucat ikut penasaran akhirnya bertanya pada sang istri, karena jika bertanya langsung tidak mungkin. Pasti akan menyebabkan huru hara dalam rumah tangganya.


      Tiba-tiba Dea merasa mual, seketika ingin muntah, Dea segera berdiri dan berlari menuju toilet terdekat, "De, mau kemana?" teman-temannya memekik terkejut karena tiba-tiba Dea berdiri dan berlari.


      Belum sampai ke toilet rasa mual di perut Dea semakin bergejolak, huek. Dea muntah di sembarang tempat, wanita itu hanya mengeluarkan cairan berwarna kuning.


Tubuhnya seketika langsung lemas dan refleks dia berjongkok, Dea mengatur nafas, entah kenapa tiba-tiba dia merasa mual saat jauh dari Abraham, setelah merasa baik-baik saja dia mencoba berdiri dan tiba-tiba tangannya di tarik kebelakang membuat tubuhnya terhuyung, tubuh Dea memutar dan bruuk.


      Kepala Dea terbentur dada seorang pria yang langsung memeluk dan memberinya kecupan di kening cukup lama, tubuh Dea membatu saat mengenali parfum pria yang sedang memeluk dirinya.


        "Terima kasih, Tuhan. Akhirnya aku bertemu dengan Dea-ku," ucap pria itu masih memeluk dan menghujani keningnya dengan kecupan-kecupan.

__ADS_1


__ADS_2