Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
01. Saling Salah Sangka


__ADS_3

Kereta api ekspres dari stasiun Malang Kotalama telah menyandar lekat di stasiun besar Surabaya Gubeng. Ardhita menyambar ransel gunung jumbonya dan menyangkutkan di pundak. Ingin segera sampai di rumah dengan cepat.


Tidak sabar untuk menyambut Reiz, nama yang sudah dianggapnya kakak angkat dan tiba-tiba akan datang ke rumahnya. Meski pada nyatanya, nama Ardhita tetap tertulis sebagai anak perempuan ayah kandungnya sendiri.


Ayah Ardhita, pak Adam adalah seorang mandor bangunan di mega proyek milik sang tuan proyek. Yaitu pak Irawan, pria kaya dermawan yang mengangkat Ardhita sebagai anak asuh. Yang telah dicover seluruh kebutuhan hidup dan sekolahnya sejak Ardhita berusia 9 tahun. Hingga kini Ardhita berusia 21 tahun dan baru saja menamatkan pendidikan diplomanya.


Berulangkali, pak Irawan meminta pada pak Adam untuk membawa nama Ardhita ke dalam catatan keluarganya. Namun, dengan berat hati pak Adam selalu menolak. Sehingga, pak Irawan terus menganggap Ardhita adalah anak angkat tidak resmi dan tidak tercatat yang sangat disayanginya.


"Ayah akan ke mana?" tanya Ardhita menegur pada sang ayah. Pak Adam nampak rapi dan bersiap keluar rumah. Ardhita baru sampai di rumah sepuluh menit lalu dan akan mandi sore.


"Kakakmu, sudah sampai di Juanda. Nggak ada yang jemput dia di bandara. Driver proyek nganter pak Irawan di rumah sakit, Dit. Nanti ayah pun singgah ke rumah sakit nemenin!" Pak Adam berbicara sambil berjalan ke teras.


"Adit, itu segala makanan, tatalah di meja, Dit!" seruan pak Adam berpesan.Β 


"Iya, Yah! Hati-hati di jalan, Ayah!" Ardhita menyahut lantang sembari melesat ke dalam kamar mandi.


Tidak ingin nampak kusut di depan kakak angkat yang dalam benak Ardhita mungkin sangat cantik. Sebab, segala hadiah yang sering dikirim oleh Reiz selalu disukainya, kebanyakan warna pink dan selalu barang branded yang viral. Membuat tanggal ulang tahun Ardhita terlewati penuh warna.


Hanya beberapa kali belakangan inilah, barang yang dikirim terasa lain. Lebih dewasa dan bukan barang feminim. Seperti jam tangan warna silver, juga dompet kulit wana coklat. Bukan lagi warna pink atau pun ungu muda. Terakhir adalah sandal kulit warna hitam dengan size lebih besar dari telapak kakinya.


Akan tetapi, Ardhita tidak terlalu memikirkan hal itu. Hanya merasa suka dengan seluruh hadiah yang diberikan Reiz melalui jasa paket kurir. Yang selalu sampai di tangan Ardhita tepat waktu sebelum lewat hari ulang tahunnya. Pengirim hadiah dari Jakarta pun selalu menulis di kotak pembungkus dengan nama yang sama, Reiz.


Ketukan pelan di pintu kamar membangunkan Ardhita dari lena mimpi yang manis. Merasa telah bertemu dan makan bersama dengan kakak angkatnya yang cantik dan ramah. Bersendau gurau di meja makan dan saling bertukar lauk yang terasa mengasikkan.


"Yah, sudah pulang? Ayah sudah ke rumah sakit?" sapa Ardhita pada ayahnya di depan pintu.


"Baru saja sampai. Tetapi pak Irawan sedang mendapat perawatan dan terapi. Belum sempat bertemu, Dit," ucap pak Adam sambil melepas jaketnya.

__ADS_1


"Ayo, temui kakakmu. Dia ingin melihat kamu. Pakai kerudungmu," ucap pak Adam sambil melihat kepala Ardhita sekilas. Lelaki itu berlalu menuju ke belakang ke arah kamar mandi.


Ardhita meraba rambutnya yang masih terasa sangat lembab. Merasa tidak perlu memasang kerudung, sebab ini hanyalah di dalam rumah.Β 


Wajah cantik dan rambut indah yang terpantul di cermin, membuat Ardhita merasa percaya diri untuk menjumpainya. Berharap yang ingin melihat tidak kecewa pada apa yang dilihat. Ardhita meletak sisir dan berjalan keluar kamar dengan cepat.


Ardhita tertegun berdiri saat sampai di ruang tamu. Sosok cantik kakak yang ada dalam kepala, tidak nampak dijumpai.


Namun, hanya ada laki-laki tampan yang sedang duduk tegak dan memandang bingung kepada Ardhita. Mereka saling tertegun sesaat dan kemudian juga saling mengangguk.


Mencoba ramah dengan senyum kecil tanpa ada sepatah sapaan di antara keduanya.


Ardhita yang menghempas kaget, sebab ternyata ada lelaki di ruang tamu, bergegas ingin kembali ke dalam kamar. Hampir bertabrakan dengan sang ayah yang baru kembali dari kamar mandi.


"Ada apa, Dit?" tanya pak Adam, merasa heran dengan Ardhita yang buru-buru berjalan.


"Ayah, itu siapa? Kenapa ada tamu laki-laki di rumah kita? Kenapa Ayah tidak bilang kalo kakak bawa teman laki-laki??" tanya Ardhita dengan raut yang bingung. Pak Adam pun tampak lebih bingung.


"Teman laki-laki kakak kamu? Tamu laki-laki di ruang tamu itu ya kakak kamu, yang ingin melihat kamu. Makanya tadi Ayah nyuruh kamu pakai kerudung, Dit," ucap pak Adam. Mulai paham dengan maksud kebingungan Ardhita, putrinya.Β 


"Apa Yah? Jadi kak Reiz, kakak angkatku, anak pak Irawan adalah laki-laki, bukan perempuan??" tanya Ardhita memastikan, wajah cantik berseri itu tampak berubah kemerahan. Menyadari kekeliruan besarnya selama ini. Merasa jika salah sangkanya kali ini sangatlah keterlaluan.


"Lha, apa kamu tidak tahu? Tidak mungkin kamu nggak tahu, Dit,," respon pak Adam merasa sangat heran.


"Aku benar-benar tidak tahu sama sekali, Ayaaah," jawab Ardhita mempertegas.


"Ya sudah, sana kembali ke kamar. Pakai kerudung. Nanti susul Ayah ke depan," pak Adam menunjuk kamar putrinya dengan dagu berjenggot tipisnya.

__ADS_1


Ardhita meluncur ke kamar untuk memakai kerudung. Tidak lama, pashmina modis telah menempel menutup kepala dengan indah. Terlihat anggun, cantik dan sedap dipandang. Putri mandor Adam di proyek itu memang sudah terkenal sangat cantik.


"Jadi, nama Adit itu adalah Ardhita, Pak? Adit, anak Pak Adam itu ternyata perempuan?" tanya tamu lelaki tampan itu pada pak Adam.


Wajah itu tersenyum tetapi tampak masam. Seperti sedang menertawakan kebodohannya sendiri. Telah sangat lama menganggap bahwa anak pak Adam adalah laki-laki, bukan perempuan seperti fakta yang baru dilihatnya.


"Benar, Mas. Maaf, Adit memang anak perempuan saya dengan nama lengkap Ardhita Adam. Mas Reiz juga tidak tahu?"


Pak Adam membenarkan pertanyaan tamu kehormatan itu dengan mimik yang heran. Reizvan Irawan, anak lelaki dari bos besar di proyek segala pembangunan dan properti tempat pak Adam bekerja sebagai seorang mandor kuli bangunan, ternyata juga tidak tahu jika anaknya adalah perempuan.


Reizvan termenung memandang ke arah di mana Ardhita muncul sekaligus menghilang kembali. Teringat permintaan papanya beberapa hari lalu sebelum kritis dan dilarikan ke rumah sakit.


Dalam telepon, pak Irawan beberapa kali mengatakan padanya ada salah satu anak asuhnya yang pintar dan cantik. Seperti yang diketahui, ayahnya memiliki beberapa anak asuh di salah satu bangunan proyek.


Di antaranya anak pak Adam. Lelaki yang dulu beberapa kali pernah dilihatnya datang ke rumah dengan membawa anak kecilnya. Reizvan tidak berpikir jika bocah kecil bertopi dan berambut sangat pendek itu adalah perempuan. Hanya tahu jika bocah itu sangat tampan dan manis. Dengan penampilan lusuh yang menodai kulit cerahnya.


Reizvan sering sengaja membeli snack dan mainan mobil untuk diberikan pada anak lelaki pak Adam. Bocah itu hanya tersenyum senang sambil membungkuk dan kemudian berlarian pergi.


Hanya, jajanan dan mainan itu bukan dirinya yang mengulur. Selalu dimintanya pada Ajeng, anak perempuan dari salah satu asisten di rumah untuk memberinya. Reizvan hanya melihat dari balik kaca gelap ruang tamu. Sama sekali tidak menyangka jika bocah tampan itu adalah perempuan yang baru saja dilihatnya.


Kembali ingat pada permohonan sang ayah, pak Irawan yang sangat mendambakan cucu, memintanya agar mempertimbangkan salah satu anak asuh itu untuk dilamar dan dinikahi.


Namun, Reizoan menolak sebab sudah memiliki Irvoni, kekasih yang luar biasa dicintanya. Sedang pak Irawan sangat kecewa pada Irvoni yang selalu menolak niat putranya untuk melamar dan serius menikahi.


Apa yang dimaksud dan diinginkan pak Irawan untuk dinikahi adalah Adit, anak perempuan pak Adam tadi? Reizvan meraup wajah tampannya sesaat.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ

__ADS_1


Tolong aktifmu mendukung karya baruku ya, sayangkuuuh..πŸ™πŸ˜˜


__ADS_2