Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
16. Sama Kamar


__ADS_3

Reizvan hampir menghempas tubuh seseorang dengan pintu yang didorongnya dengan cepat. Ternyata Ardhita pun tengah beridiri di balik pintu dan akan membukanya. Mereka berdua sama-sama terkejut.


"Mau ke mana, Dit?" Reizvan telah menguasai rasa terkejutnya.


Gadis cantik itu terlihat pucat. Entah terkejut ataupun rasa dingin menggigit. Kerudang basah masih nekat disampirkan pada kepala yang menutupi leher dan rambut. Sedang Reizvan begitu familiar dengan aroma sampo miliknya.


"Kamu keramas, kan? Kenapa masih kamu bungkus rambut kamu dengan kain?" Reizvan merasa kurang nyaman dengan sikap Ardhita yang masih menutupi dirinya dengan totalitas. Masih bagus baju basahnya tidak dipakai. Jadi mampu mengurangi rasa kesal yang tiba-tiba Reizvan rasakan.


"Mas, kenapa papa memanggilmu? Apa yang dia bilang? Papa tahu kita tidak sama kamar?" songsong Ardhita dengan rentet pertanyaan. Abai pada protes Reizvan.


Lelaki yang ditanya terdiam. Memandang Ardhita yang tampak jelita meski wajahnya pucat. Gadis sopan dan lembut itu sedikit keras hati. Reizvan merasa jika itu justru tantangan untuknya.


"Pakai baju dulu, tidak usah berkerudung. Nanti kujelaskan, Dit," ucap Reizvan. Merasa otaknya bisa saja akan berserabut parah jika Ardhita terus mengenakan handuk kimononya.


"Iya, tadi mau ngambil ransel," ucap Ardhita sambil melangkah maju ke pintu.


"Kuambilkan," ucap Reizvan. Mencegah kepergian Ardhita dengan mencekal lengannya.


Tidak ada kekuatan yang ditunjukkan Ardhita. Hanya nenurut dengan melangkah mundur dan berbalik. Lalu berdiri lagi di tempatnya semula dengan canggung. Reizvan telah melangkah keluar dengan pintu ditutupnya.


Tidak sampai menit, lelaki itu kembali dengan ransel di pundaknya sebelah. Ardhita menyongsong dan akan mengambilnya. Namun, Reizvan tidak melepas dan terus menahan di pundak. Tatapan matanya tidak bisa dimengerti.


"Mas, kenapa tidak boleh? Aku ingin ganti," ucap Ardhita lirih. Gadis itu kedinginan.


"Berjanjilah tidak usah memakai kerudung jika di kamarku," ucap Reizvan tegas.


"Papa marah? Aku harus di kamar ini hingga papa tidur?" sahut Ardhita buru-buru dengan ekspresi yang resah.


"Nanti kujelaskan, Dit. Bisa tidak kamu tanpa kerudung di depanku?" tanya Reizvan tegas dan lembut.


Memperhatikan Ardhita yang terlihat bimbang dan sedih. Reizvan berusaha abai dan tidak lagi peduli. Merasa harus menegasi Ardhita. Demi rasa nyaman gadis itu selanjutnya.


"Bagaimana, Dit? Apa kamu memilih bertahan dengan handuk dan kerudung basah di kepalamu? Jangan lupa, jika waktunya mandi, bathrobe yang kamu pakai itu harus kamu lepas." Reizvan berbicara tegas. Sambil tangannya menepuk-nepuk ransel sebagai barang sandera.


"Mas sini ranselku. Aku sangat dingin. Iya, nggak akan kupakai kerudung di kamar kamu," ucap Ardhita mengalah. Lagipula tidak salah jika hanya Reizvan yang melihat di kamar. Maka dipilihnya akur saja.

__ADS_1


"Janji, Dit. Kamu dilarang bohong padaku," sahut Reizvan sambil menurunkan ransel pada Ardhita.


"Eits ... mau ke mana?!" tegur Reizvan tersenyum.


"Tukar baju ...." Ardhita terlihat bingung.


"Kenapa harus ke kamar mandi?" tanya Reizvan dengan menahan senyum.


"Mas Reizvan, kamu ...!" Ardhita ingin mengumpat tetapi ditahannya. Segera ditinggalkan lelaki usil itu ke dalam kamar mandi beserta ransel besarnya.


Reizvan hanya menggeleng dengan sisa senyumnya. Merasa suka bisa menggoda Ardhita. Rasanya murni sebagai canda belaka tanpa ingin bermodus.


Sebab, hanya pada Irvoni di bebaskan fantasi halunya untuk menggoda mesum sesuka hati. Dengan tidak ingin melakukan hal yang sama kepada Ardhita. Merasa malu sendiri andai jadi kakak lelaki yang cabul pada adiknya.


Ardhita telah keluar dari kamar mandi tepat saat Reizvan membuka pintu dari luar. Lelaki itu membawa sekotak besar susu kemasan dan satu sisir pisang hijau. Jika tidak sedang merasa tegang, kikuk dan malu yang sangat, mungkin bibir pucat gadis itu sudah lebar tersenyum. Sebab perut ratanya terasa perih dan lapar. Lelaki itu sungguh siaga dan tepat.


Reizvan terkesiap dengan gadis bergaun panjang yang keluar dari kamar mandi tanpa berkerudung di kepalanya. Terlihat sangat cantik dengan rambut panjang yang basah tanpa diikat. Meski terlihat pucat, pesona ayu keseluruhan Ardhita tidak mungkin lagi dipungkirinya.


"Wah, adikku sangat cantik. Rambutmu panjang, Dit," respon Reizvan. Tidak tahu lagi harus bagaimana berkomentar. Sedang hanya diam, kaku dan canggung, rasanya itu tidak mungkin. Tentunya terkesan aneh yang Ardhita pun akan merasa tidak nyaman.


"Yuk, kita habiskan bareng. Sambil kujelaskan sesuatu," sambut Reizvan dengan cepat, sambil melirik rambut Ardhita sekali lagi. Berharap rambut itu cepat kering seperti saat awal kali terlihat di pertemuan mereka yang pertama. Rambutnya berkilau dan lebat, serasa ingin sekali menyentuhnya!


Ardhita membuntuti lelaki itu untuk duduk di sofa dekat ranjang. Mencoba abai dengan pandang Reizvan pada rambut lembabnya yang sepunggung. Berusaha menganggap Reizvan seperti ayahnya saja yang sudah biasa melihat tak berkerudung dalam rumah.


"Bisa mulai dijelasin?" Ardhita kembali bertanya setelah kamar lengang sejenak. Msreka berdua sama-sama sedang menikmati pisang setelah meneguk susu instant langsung dari kemasan bergantian.


"Dit, kurasa papa sudah sangat sehat. Aku berencana kembali ke Jakarta secepatnya. Kamu akan ikut denganku, aku akan membawamu ke Jakarta, Dit." Reizvan kembali meneguk susu rasa vanila itu beberapa kali.


"Papa menyuruhmu mengajakku?" tanya Ardhita. Ada ekspresi berat di wajahnya.


"Kenapa? Kamu berat berjauhan dengan Handito?" tanya Reizvan menebak. Ardhita diam saja, tangannya sedang membelahi buah pisang menjadi tiga cabang dan kemudian dilahapnya satu per satu.


"Kenapa buru-buru ke Jakarta? Apa mbak Irvoni sudah kembali ke sana?" Ardhita juga melempar pertanyaan yang serupa. Tetapi Reizvan tidak diam, kepalanya sudah menggeleng.


"Bukan sebab dia saja alasanku, Dit. Irvoni masih di sini. Namun, aku sangat banyak kerja." Reizvan berbicara yang sesungguhnya. Lelaki itu kini memakan buah pisang, langsung saja dimakan tanpa dibelahinya.

__ADS_1


"Mas Reiz, kalo di Jakarta kerja apa? Kenapa tidak bantu papa saja di Surabaya?" tanya Ardhita hati-hati.


"Showroom, Dit. Meskipun milik orang tua asuhku, tetapi sudah seperti milikku. Semua di tanganku, hanya atas nama saja yang tidak."


"Rencana membantu papa itu ada, tetapi masih berat ninggalin Jakarta. Itulah aku tidak ingin bikin usaha sendiri di sana, aku masih mikir biar gampang jika sewaktu-waktu kutinggal dan kembali ke Surabaya," jelas Reizvan.


"Sebab kekasih Mas Reiz juga stay di Jakarta?" Ardhita menyelidik. Reizvan menatapnya dalam.


"Ada juga alasan sebab itu, Dit," jawab Reizvan.


"Mas, kapan ke Jakarta? Sebab, aku lusa wisuda ...," ucap Ardhita.


"Benarkah? Ya nunggu habis wisudamu saja, Dit," sahut Reizvan memutuskan.


Ardhita mengangguk, tidak ada lagi sahut perbincangan. Mereka sama-sama terdiam. Kamar terasa hening. Keduanya sibuk mengisi perut hingga satu sisir pisang hampir habis dimakan bersama.


"Dit, selama di sini, sebelum ke Jakarta, kita tinggal satu kamar saja, Dit" ucap Reizvan tegas tiba-tiba. Gadis itu membelalak.


"Kenapa, Mas? Bukankan jika papa sudah tidur, aku bisa kembali ke sebelah?" Respon Ardhita cepat. Reizvan menggeleng dengan sorot mata tegasnya.


"Kamar kita sedang diawasi CCTV, Dit. Sebaiknya kita patuh saja sementara di sini," jelas Reizvan. Ardhita serta merta mendongak dan memutar pandangan.


"Ya bukan di dalam, Ardhita ... tetapi di luar," terang Reizvan tersenyum. Ardhita pun meluruskan wajah yang sempat tegang dan kini pun tersenyum.


"Jadi, malam ini aku tidur di sini?" tanya Ardhita tampak kikuk. Reizvan mengangguk.


"Kita ... kita tidur di ranjang yang sama?" tanya Ardhita terlihat cemas.


"Kamu tidak menyuruhku tidur di bak kamar mandi kan, Dit?" tanya Reizvan menggoda, merasa sangat senang. Ardhita sedang merah padam mukanya. Bahkan jadi ingin tertawa sepuasnya, tetapi rasanya jadi iba.


"Ini hanya keadaan, Dit. Kita pasti akan sering berada dalam situasi yang sulit seperti ini. Kita jalani saja. Kamu pun tenanglah, aku tidak mungkin berbuat hal yang merugikan kamu. Kita hanya sebagai partner pernikahan," jelas Reizvan sungguh-sungguh.


Namun, Ardhita tidak fokus lagi dengan ucapan Reizvan. Dipandangnya tempat tidur luas itu sekilas. Teringat cara tidur Reizvan yang serupa gassing putar, rasanya tidak percaya jika berada di atas sana bersama lelaki itu akan berlalu dengan baik-baik saja malam ini.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ

__ADS_1


__ADS_2