Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
07. Sah


__ADS_3

Dengan derai tangis si gadis yang serasa tak percaya, akhirnya dua insan yang setengah dipaksa menikah itu pun bersetuju. Saling membahu dan bekerja sama menyiapkan sebuah akad nikah sederhana hanya di depan saksi dan penghulu.


Mencari cincin bersama dengan sedikit asal sebab terbentur oleh waktu. Menyewa jasa rias serta kostum panggilan agar datang merias Ardhita dan Reizvan dengan tidak terlalu berlebihan.


Yang mana tugas pak Adam adalah melobi penghulu dan pasukannya agar datang menikahkan di ruang rawat pak Irawan yang VIP dan luas. Sedang Ardhita dan Reizvan mengumpul dokumen darurat demi lulusnya pernikahan.


πŸ•Έ


Sah! Sah! Sah! Sah! Sah!


Terlaksana sudah akhirnya. Sebuah ikatan suci dan sakral yang tidak pernah sedikitpun disangka sebelumnya, kini telah terjalin dan lancar terlewati. Dengan pasangan pengantin yang keduanya juga tidak saling menyangka. Bahkan mereka berkenalan masih dalam hitungan jam saja di hari yang sama.


"Alhamdulillah. Kalian ... sudah ... sah ...."


Pak Irawan bersuara terbata. Ini adalah yang pertama semenjak memanggil pak Adam dan meminta agar menikahkan Ardhita dan Reizvan. Sang ayah kembali berbicara setelah orang-orang yang datang demi terlaksananya akad nikah telah berpamitan dan pulang. Pak Irawan terlihat gembira meski wajahnya sangat pucat dengan mata yang sayu dan lemah.


"Pa, apa Papa merasa baik-baik saja?!" Reizvan segera memburu tepi ranjang dan melihat seksama sang ayah.


"Iya, Reiz. Papa ... ingin ... pulang ...," jawab pak Irawan terbata dan susah. Namun, tampak bersemangat dengan samar senyuman.


Reizvan menghembus nafas lega. Sang ayah


yang hampir dua jam lalu sempat kritis, kini nampak bayang semangatnya. Penyakit syaraf yang pak Irawan derita memang sungguh membingungkan. Menerjang kapan saja, juga membaik dengan waktu tak terduga.


"Jika papa ingin pulang, harus menunggu dokter memeriksa lagi dan menyetujui keinginan Papa untuk pulang. Papa harus sabar menunggu sampai kondisimu bagus. Papa harus semangat," redam Reizvan pada ayahnya. Mengenyampingkan runyam hatinya setelah pernikahan.

__ADS_1


Berusaha tetap hangat meski hati dalam dada begitu kecewa. Sang ayah telah memutuskan sepihak jalinan kasih bersama Irvoni dengan meminta menikahi Ardhita. Rasanya sungguh sakit yang sangat.


Pak Irawan sedikit mengangkat kepala, berusaha mencari keberadaan sesuatu di ruangan. Namun, dari sorot matanya nampak kecewa sebab yang dicari tidak dijumpai.


"Mana ... Ardhita?" tanya pak Irawan dengan terbata.


"Sedang mengantar pak Adam di parkiran, Pa," sahut Reizvan sambil mendongakkan wajah ke atas. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran di kepala.


"Kamu ... keluar ... jemputlah istri kamu.... Jangan ... biarkan ... dia ... jalan sendirian ... setelah ... ayahnya ... pergi pulang," ucap pak Irawan memberi arahan pada Reizvan dengan kalimat yang panjang.


"Iya, Pa. Jika ada dokter yang datang, Papa minta diperiksa total lagi, ya. Jika oke, kita pulang," pesan Reizvan pada pak Irawan.


"Iya ... jangan khawatir.. Papa tahu, Reizvan. Susul ... istrimu," sahut pak Irawan tersenyum.


Setelah berbicara sejenak dengan suster sewa. Pengantin baru pria itu berjalan gontai keluar kamar demi menuruti ucapan ayahnya. Mencari Ardhita yang mengantar pak Adam pulang ke latar parkir di lantai paling bawah.


πŸ•Έ


Ayah dari pengantin wanita, pak Adam, telah meluncur keluar dan pergi meninggalkan rumah sakit besar ini belasan detik yang lalu. Bersamaan dengan undur dirinya para tokoh undangan akad nikah yang terhormat.


Ardhita masih berdiri termangu di tepi latar parkir dengan pandangan kosongnya yang jauh. Merasa tidak percaya dan sulit menerima akan perubahan status dirinya yang semudah membalik telapak tangan tiba-tiba.


Harapan untuk hidup gembira saat muda bersama teman-teman serasa lupus dan terpendam. Ingin melamar kerja di berbagai perusahaan di kota Surabaya terpaksa dilindas dan ambyar. Membayangkan pernikahan yang baru mengikatnya barusan, pasti akan membelenggu dan membentengi langkah mudanya di masa depan.


Ardhita hanya menangis tanpa isak dengan menyandar di dinding luar rumah sakit dalam kawasan latar parkir. Memandangi ujung kakinya yang berkuku cantik sebagai penglipur mata dan hatinya. Mendadak enggan masuk kembali ke dalam rumah sakit sebab merasa sangat malu.

__ADS_1


Dandanan Ardhita yang diinginkan sederhana, tetap saja tampak menonjol jika sendirian di parkiran. Apalagi ini sebuah rumah sakit, Ardhita jadi merasa malu dan tidak percaya diri untuk kembali ke dalam menuju ruangan pak Irawan. Kelebat pikiran untuk mendekam di toilet pun menghasut.


"Ardhita!"


Pemilik nama yang diseru menahan langkah dan berbalik. Mendapati Reizvan telah berdiri di belakangnya sangat gagah. Akan tetapi, wajah tampan itu tampak muram. Bisa jadi Reizvan pun merasa lebih tertekan darinya saat ini. Mengingat jika lelaki itu sudah memiliki gadis lain sebagai tambatan hati. Mendadak rasa iba hatinya pada lelaki itu mengalir.


"Mau ke mana? Papa mencarimu," tanya Reizvan dengan canggung. Wajah jelita bermake up indah itu terlihat jelas bekas tangisan. Tentu membuat perasaan lelakinya jadi trenyuh dan merasa serba salah. Merasa sebagai perenggut kecerahan di wajah ayu Ardhita.


"Aku ... aku ingin ke toilet. Mas Reiz duluan saja. Nanti aku menyusul," ucap Ardhita yang segera melesat ke dalam toilet. Rasanya ingin kembali menangis, tidak ingin Reizvan sempat melihat drama sedihnya.


Setelah cukup lama bersarang dan mendekam, serta merapikan lagi riasan wajah di kaca, Ardhita pun keluar sebab bosan. Ingin kembali ke ruangan pak Irawan, merasa jadi egois dan segan jika terus menepikan dirinya.


"Sudah cukup di toiletnya, Dit?" sapa seseorang saat Ardhita muncul keluar di pintu.


"Eh ... sudah, Mas," jawab Ardhita tergugu. Merasa terkejut sebab Reizvan masih bersabar menunggu di tempat yang sama.


"Ayo, kita barengan kembali ke kamarnya papa," ucap Reizvan dengan pandangan yang teduh. Bersikap tenang seolah tidak terjadi drama apa pun di antara mereka sebelumnya.


"Eh, iya, Mas," sahut Ardhita sambil mengangguk. Merasa canggung dengan sikap hangat yang ditunjuk Reizvan padanya.


Ardhita mengikuti langkah Reizvan menjauhi latar parkir dengan menghempas rasa segan. Merasa sedikit lega, prasangka jika Reizvan akan bersikap sinis, dingin ataupun tidak ramah, ternyata hanya rasa cemasnya belaka.


Lelaki yang sudah menikahinya dengan terpaksa itu, ternyata cukup bijak dan bersikap dewasa, tidak serta merta memusuhinya. Sikap baik sang suami membuat perasaan Ardhita merasa sedikit tenang dan rela untuk berjalan di sampingnya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ

__ADS_1


__ADS_2