Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
05. Tinggalkan Pacarmu


__ADS_3

Reizvan telah meluncur kencang membelah jalanan ibu kota Jawa Timur, kota terbesar kedua seantero Indonesia, yaitu Surabaya. Kebetulan jalur yang dipilih untuk menuju Rumah Sakit Umum Daerah Bhakti Dharma Husada Surabaya cukup lengang saat petang. Sehingga Reizvan pun bebas mengambil laju kecepatan seberapa pun yang dia inginkan.


Kendaraan itu membelok gesit melewati gerbang bangunan megah dan bertaman indah di RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya. Menuju latar parkir luas di belakang bangunan rumah sakit lantai dasar.


Reizvan berusaha mengendalikan langkah, sadar jika Ardhita akan sulit untuk mengimbangi langkah panjangnya. Mereka memasuki lift yang kebetulan sedang menganga lebar di pojok ruangan.


Pak Irawan dirawat di ruang VIP khusus pasien gangguan syaraf dan kepala. Berada di lantai dua bagian bangsal paling depan.


Bukan baru satu kali ini, tetapi sudah beberapa kali ayah Reizvan dibawa keluar masuk ke RSUD besar ini. Berbagai gejala gangguan syaraf seringkali muncul dan mengganggu. Seperti halnya sakit fertigo yang sangat mengacaunya.


Ceklerk!


Pak Irawan menoleh lemah saat Reizvan membuka pintu bersama Ardhita. Ada seorang wanita sedang duduk berjaga dan berdiri saat mereka masuk ke dalam. Melempar senyun segan dan mengangguk yang dibalas sang putra dan Ardhita dengan sikap yang sama.


"Assalamu'alaikum, Pa," sapa Reizvan dengan mendekati pak Irawan dan menyalam tangannya sejenak.


"Wa'alaikumsalam. Dengan siapa kamu datang?" tanya pak Irawan terdengar lemah dan susah.


"Lihat, Pa ... siapa yang sedang kubawa," ucap Reizvan sambil menegakkan punggung dan melepaskan tangan sang ayah. Lalu bergerak mundur, memperlihatkan sosok jelita pada pak Irawan.


"Pak Irawan," sapa Ardhita. Segera disalam dan dicium tangan pak Irawan.


Ardhita masih berdiri begitu dekat dengan ranjang pasien. Sebab, tangannya terus ditahan meski tidak kuat oleh pak Irawan.


"Kamu Adit?" Pak Irawan nampak senang memandang Ardhita yang mengangguk.

__ADS_1


"Iya, Pak. Saya Adit, anak asuh yang Bapak bantu biayai dari kecil. Terima kasih, sekarang saya sudah selesai bersekolah, Pak," ucap Ardhita dengan sopan. Berharap memberi semangat meskipun hanya dengan cara berkata demikian.


"Iya ... iya ... Sama-sama, papa juga senang sekali, Dit. Sudah sangat lama tidak melihat kamu. Kamu sudah tumbuh dengan baik dan menjadi gadis rupawan seperti ini. Rasanya bangga sekali memiliki anak gadis seperti kamu. Adam pasti selalu merasa bahagia," ucap pak Irawan dengan terengah. Tak disangka, air mata meleleh dari kedua mata pak Irawan.


"Pak Irawan, Anda menangis? Apa saya membuat perasaan Anda jadi sedih?" Ardhita terheran dengan air yang keluar dari mata pak Irawan. Reizvan pun ikut mendekati ranjang dan berdiri di samping adiknya.


"Papa ingat saat kamu kecil, sedih sekali waktu itu. Kamu ikut ayahmu bekerja di proyek bangunan tiap hari. Adam tidak tega meninggalkan kamu sendirian di rumah. Waktu itu ibumu meninggalkan ayahmu, membawa kakak-kakakmu dengan lelaki lain. Tetapi ibumu masih ingin dinafkahi materi oleh ayahmu. Kamu saat kecil itu ikut banting tulang, Dit."


Pak Irawan sudah tidak lagi menangis, tetapi masih memegang tangan Ardhita. Pria tua itu masih ingin didengarkan bicaranya.


"Waktu itu, Bapak tidak sengaja melihatku menggantikan ayah Adam yang sakit sebagai mandor bangunan. Bapak kasihan, lalu menjadikan saya anak asuh hingga sekarang. Terima kasih, ya Pa ...."


Ardhita menyambut bahagia akan ulasan pak Irawan padanya di masa lalu. Matanya pun berair dan mengalir. Rasanya memang sedih jika ingat masa kecil tanpa ibu. Sakit, sedih..


"Kamu bisa menggantikan ayahmu jadi mandor bangunan, Dit? Umur berapa kamu waktu itu?" tanya Reizvan menyela, wajahnya tercengang.


"Papa sangat salut dan kasihan sama Ardhita. Sama kayak kamu, nggak punya mama," terang pak Irawan menanggapi pertanyaan putranya.


Ardhita dan Reizvan memang sama-sama tidak bersama ibu kandung saat masih kecil. Ardhita dan ayahnya, ditinggal ibu kandung bersama lelaki lain. Sang ibu berselingkuh dan pergi membawa dua kakak lelakinya. Merelakan Ardhita bersama pak Adam, sebab sang suami kukuh menahan gadis bungsunya.


Sedang Reizvan, adalah anak semata wayang yang ditinggal ibu kandung dari dunia saat baru lulus bangku SD. Namun, pak Irawan menitipkannya pada kakak perempuan di Jakarta. Kakak perempuan pak Irawan juga hanya memiliki satu anak laki-laki tunggal saja. Sangat gembira menerima Reizvan untuk diasuh hingga sekarang pun.


"Reiz, apa Irvoni masih tidak ingin kamu lamar?" tanya pak Irawan tiba-tiba. Reizvan tampak terkedu sejenak.


"Irvoni sangat sibuk belakangan ini, Pa. Aku belum sempat berbincang lagi," ucap Reizvan berusaha tenang. Tidak ingin ayahnya jadi resah. Pak Irawan telah melarang membawa Irvoni datang menjenguk jika masih saja menolak lamaran putra tercintanya.

__ADS_1


"Jangan bohong, Reiz. Jangan sembunyikan apapun dariku," sahut pak Irawan dengan tegas dan tajam. Sepertinya, fertigo di kepala sudah berangsur membaik dengan cepat.


Reizvan yang merasa tersindir, hanya bungkam tak menyanggah. Merasa tidak adil jika terus mengarang cerita pada ayahnya yang lemah.


"Lebih baik kalian berpisah," ucap pak Irawan tiba-tiba dengan lirih namun sangat tegas. Ini membuat Reizvan terkejut.


"Masih banyak kesempatan, Pa. Irvoni belum terlalu matang. Aku pun laki-laki yang masih berumur 28 tahun. Masih panjang, Pa ...." Reizvan mencoba memberi pengertian pada pak Irawan.


"Reizvan! Kenapa kamu hanya mementingkan dirimu?! Jangan mencoba bersilat lidah. Papa menyuruhmu menikah, sebab Papa sudah tua, sakit-sakitan. Apa kamu ingin menikah saat tidak memiliki orang tua sama sekali? Kamu tidak ingin menikah didampingi Papa?? Tidak ingin anak-anakmu kelak sempat melihat Papa?!"


Pak Irawan berbicara lantang, seperti tidak sedang menanggung sakit sama sekali. Sangat tegas dan tajam berbicara. Matanya berkilat-kilat seperti seorang yang sedang sehat. Pak Irawan terlihat teramat bersemangat.


Reizvan mengatup bungkam bibir dan mulutnya. Terasa sedih akan ucapan ayah yang tercinta. Bukan dirinya tidak peka serta tidak paham akan maksud dan keinginan ayahnya. Tetapi bagaimana lagi, Irvoni tetap belum ingin dilamarnya.


"Reiz, tinggalkan pacarmu, lupakan Irvoni. Ada gadis lain yang jauh lebih baik dari pacarmu itu." Pak Irawan berbicara setelah duduk menyandar di ranjang dengan dibantu bangun oleh Reizvan.


"Papa menyuruhku mencampakkan Irvoni demi gadis lain?! Aku tidak bisa, itu mana mungkin kulakukan, Pa!" Reizvan menolak arahan papanya dengan keras.


"Papa sangat suka pada gadis itu! Apa kamu tidak ingin tahu, siapa?!" Pak Irawan berbicara keras dan abai pada penolakan putranya.


"Menikahlah dengan anak perempuan Papa. Tugasmu membujuknya agar dia mau menerima lamaranmu," ucap pak Irawan tegas dengan menatap tajam sang putra.


"Maksud Papa?!" Reizvan tampak gelagapan. Meski sudah sering didengar dan menduga, tetap saja tidak siap mendengarnya.


Serta merta menoleh Ardhita di sampingnya. Yang ditoleh juga sedang tertegun memandang pak Irawan dan anak lelakinya bergantian.

__ADS_1


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


__ADS_2