
Pisang dan susu itu sudah tidak sanggup lagi mereka habiskan. Mereka berdua tampak puas dan kenyang. Reizvan bahkan baru saja bersendawa panjang dan nyaring. Lelaki itu tak acuh meskipun tampak pias sesaat dengan memandang Ardhita yang tersenyum.
"Ini tandanya minta tidur, Dit. Kenyang sekali," seloroh Reizvan demi menambal rasa gengsinya.
"Kupikir hanya pria tua dan pekerja keras saja yang bisa sendawa besar sepertimu, Mas. Ayahku juga bunyinya nyaring begitu dan sering," ucap Ardhita menimpali. Merasa ingin tertawa. Pria setampan Reizvan, jika bersendawa ternyata tidak terkendali.
"Kamu ini, Dit! Ayolah kita istirahat saja, Dit!" Reizvan berdiri dan meninggalkan Ardhita di sofa sendirian. Membanting badan ke atas ranjang dengan melimbungkan diri melintang di busanya. Seketika ingat jika ada tubuh lain yang akan memakai ranjang bersamanya malam ini. Reizvan buru-buru merubah posisi dan menepi.
Namun, merasa heran saat melihat Ardhita bergelagat memakai kerudung. Gadis itu sedang menata kain lebarnya. Reizvan buru-buru turun ranjang dan mendekat. Berniat sambil mengejutkan dengan menyambar kerudung di tangan Ardhita.
"Auuwwh ...!" Ardhita menjerit sebab terkejut.
"Tadi bilang apa, kamu sudahj anji apa padaku, adikku ...?" tanya Reizvan bernada lembut yang berlebihan. Ardhita seketika tersenyum lebar tidak marah.
"Ish, geli! Lebay! Aku ingin turun ke dapur sebentar. Susunya enak sekali, sayang jika basi. Akan kuletak di kulkas, Mas!" jelas Ardhita masih tersenyum. Berusaha menyambar kembali kerudungnya. Tetapi semakin dijauhkan oleh Reizvan.
"Sudah, kamu tidur duluan saja, Dit. Biar kukembalikan pada mak Tin," sahut Reizvan cepat sambil melempar kain lebar itu ke sofa dengan asal.
Lelaki itu dengan bergerak cepat menyambar susu dan pisang. Kemudian dirinya lenyap ditelan daun pintu. Pemilik kerudung sedang melipat dan menyimpannya ke dalam ransel kembali.
Ardhita berpikir jika ranjang luas dengan busa tebal, empuk dan lembut itu pastilah sangat nyaman. Ingin sekali melempar dirinya di atas sana. Apalagi setelah kehujanan dan dingin. Sangat ingin merasa hangat dengan tidur berselimut tebal di atasnya.
__ADS_1
Akan tetapi, ingat ranjang itu milik lelaki yang sudah berkekasih, hatinya jadi gengsi. Risau dianggap penggoda dan tidak ingin dinilai gampangan, maka dipilihnya cara lain.
Reizvan yang melangkahi anak tangga dengan tergesa itu telah membuka pintu kamar. Menyelip ke dalam dan menutupnya pun buru-buru. Menyapu atas pembaringan dengan kedua mata jelinya.
Tetapi gadis yang disangka di sana tidak ada. Ranjangnya kosong dan masih serapi semula. Ternyata gadis itu meringkuk di sofa, menutupi diri dengan selimut yang diusung dari kamar di sebelah.
Reizvan berdiri terpaku di tempat. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin merasa iba, bisa jadi pun merasa kesal. Ardhita ibarat bungan mawar merah yang segar dan lembut, tetapi berduri. Tiba-tiba perasaannya jadi kesal bercampur gemas.
"Dit, ngapain kamu tidur sofa?" tanya Reizvan perlahan. Kakinya telah berdiri di samping sofa. Sedang menjulang memandang Ardhita yang juga sedang melihat ke atas padanya.
"Biar aman," sahut Ardhita cepat. Reizvan seketika menautkan alisnya.
"Apa maksudmu, Mas?" tanya Ardhita berjingkat duduk. Merasa gentar andai Reizvan tersinggung.
"Kamu berpikir aku akan memaksamu untuk malam pertama, Dit?" tanya Reizvan. Sesaat sadar jika soalannya cukup vulgar. Tetapi wajah cantik dengan muka memerah itu penyebab dirinya kian bersemangat menggoda.
"Bukan ... bukan seperti itu, Mas Reiz! Sungguh! Tetapi, aku tidak lupa bagaimana cara tidurmu yang seperti kincir angin. Kamu pun juga susah bangun kalo tidur ...," ucap Ardhita menjelaskan.
"Hanya seperti itu saja kenapa takut, Dit?!" ucap Reizvan pura-pura tidak suka, susah payah menyembunyikan senyumnya.
"Ya nanti kalo ketendang, atau tiba-tiba ketimpa badanmu yang gede, tapi kamunya nggak ngerasa, tetap tidur koma, aku bisa sakit hati, nelangsa, lalu menangis. Lebih baik cari aman dan tidur jauh-jauhan saja!" Ardhita berbicara berapi-api tanpa jeda. Reizvan benar-benar ingin tertawa.
__ADS_1
"Ah, kamu jangan alasan, Dit!"
Tawa Reizvan lenyap saat menyambar tubuh tergolek itu bersema selimutnya. Segera dibawa menuju ranjang dengan sangat cepat. Selain tidak ingin mendapat amukan Ardhita, rasanya juga amat berat. Merasa gemas sekali hingga nekat diangkatnya Ardhita tergesa.
"Hah, kamu berat sekali, Dit ...!" Reizvan terengah saat mengeluh. Wajah tampan itu kemerahan. Entah sebab lelah, atau sedang sadar dan malu pada gadis yang sedang ternganga menatapnya. Wajah Ardhita pun tak jauh beda responnya, terlihat merah padam.
"Sudah, tidur nyenyaklah, Dit. Jangan coba-coba pindah lagi ke sofa. Kecuali kamu suka kugendong seperti barusan tadi?"
Reizvan berbicara hanya memandang sekilas pada Ardhita. Kemudian merebah badan dan menjauh ke sebelah, berpaling agar gadis yang sedang terbelalak itu tidak sempat melihat senyum pias di wajah maskulinnya. Juga untuk menghempas canggung di antara mereka agar tidak semakin menjadi.
Ardhita sibuk mengendalikan perasaan dan degub di dadanya. Tindakan Reizvan yang mengangkat dan menggendongnya tiba-tiba sangatlah mengejutkan. Tidak disangka dirinya baru saja mendapat gendongan untuk pertama kali saat dewasa dari seorang lelaki. Akan tetapi tidak ada rasa marah, justru rasanya jadi tersentuh.
Selama ini hanyalah ayah Adam, itupun saat dahulu kala. Juga pak Irawan pun pernah beberapa kali menggendongnya waktu kecil. Tentu saja sekarang tidak sekali pun mendapatkan gendongan lagi.
Ardhita menatap punggung lebar yang terus diam tak bergerak dengan haru. Merasa percaya jika lelaki itu menganggap dirinya sekedar adik. Juga yakin, Reizvan tidak mungkin bertindak macam-macam padanya, lelaki itu telah memiliki Irvoni yang teramat dicintanya.
Menyangka jika Reizvan begitu cepat terlelap. Mungkin lelaki itu memang kenyang dan bisa cepat mengudara. Maka dirinyanya pun berusaha keras meniru. Ardhita memejamkan rapat kedua matanya. Berharap jiwa lekas terbang sejenak ke nirwana dengan rekah senyum di bibirnya.
πΈπΈπππΈπΈ
Vote, dooong... βπ
__ADS_1