Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
12. Hampir


__ADS_3

Pak Irawan telah meniti pijakan ketiganya. Reizvan seperti habis daya melihat sang papa melangkah.


"Pa, tunggu saja di bawah. Nanti aku dan Ardhita akan turun menemanimu ke proyek!" Reizvan menahan lengan pak Irawan.


"Kamu ini kenapa, Reiz? Papa juga ingin olahraga di balkon. Kamu lupa pesan dokter, agar Papa berjemur pagi-pagi. Sambil ngajak istrimu, apa salahnya?" Pak Irawan berbicara pelan dengan nafas terengah. Tetapi semangat itu tergurat jelas di wajah tegasnya.


"Apa tak sebaiknya nunggu suster dulu, Pa? Ini kan masih sangat pagi," Reizvan berusaha terus menjegal langkah sang ayah.


"Apa-apa suster ... lalu apa saja gunamu? Menikah? Ya sudah, tunjukkan baktimu. Kasih Papa cucu perempuan cepat-cepat," ucap pak Irawan datar. Mendadak kembali menambah langkah satu ayun kakinya.


Diantara gejolak resahnya, sekelebat ide menyapa di kepala.


"Pa, permisi ya ... perutku tiba-tiba sakit melilit. Hati-hati, aku nggak kuat lagi, Pa!" Reizvan dengan buru-buru menyelip di samping pak Irawan. Berjalan di depan sangat cepat meninggalkan ayahnya dengan jalan yang lamban di tangga.


Ceklerk


Ardhita sedang melipat mukena di atas sajadah. Sangat terkejut memandang pintu yang sudah ada Reizvan di sana.


"Dit, ada papa!" seru Reizvan memandang cemas Ardhita.


Tanpa basa-basi lelaki itu menarik tangan Ardhita berdiri. Mengajaknya berjalan cepat meninggalkan kamar dengan mukena yang belum selesai dilipat berserak di lantai.


Ardhita sangat tanggap dan juga tidak peduli lagi. Mengikuti tergesa lelaki itu untuk berpindah ke kamarnya di sebelah. Reizvan membuka pintu dan menutupnya buru-buru dengan jantung berpacu.


"Aku ke kamar mandi saja, Mas," ucap Ardhita gugup. Reizvan melepas cekalan tangannya buru-buru. Ardhita hampir saja menubruk sebab tersandung kaki pemilik kamar. Sebelah tangan Ardhita menahan kuat di dada Reizvan agar tidak tersungkur dan terus tegak berdiri.


Tok Tok Tok


Ardhita segera menjauh dan menuju kamar mandi tergesa. Merasa justru canggung membayangkan pak Irawan melihat mereka berdua di kamar. Sedang mereka hanya pura-pura tanpa ada satu barang pun miliknya di kamar ini.


"Pa," sambut Reizvan sambil memegang daun pintu.

__ADS_1


"Mana Ardhita?" tanya pak Irawan, menyapu pandangan ke dalam kamar.


"Lagi mandi, Pa," sahut Reizvan.


"Tadi kamu bilang sakit perut?" tanya pak Irawan sambil menunjuk Reizvan dengan dagunya. Anak lelaki yang rupawan itu justru tersenyum sambil mengacak rambut lebatnya.


"Anu, Pa ... kita gantian guna kamar mandinya," ujar Reizvan beralasan.


"Jadi bisa ditahan?" Pak Irawan menggeleng kepala beberapa kali.


"Nanti ajak istrimu ke balkon," ucap pak Irawan sebelum berbalik. Lelaki tua itu berjalan meninggalkan kamar menuju salah satu sisi balkon yang mengelilingi lantai dua.


"Dit ... Adit! Papa sudah pergi!" seru Reizvan di pintu kamar mandi. Tidak ada bunyi gemericik air sayup pun dari dalam. Pintu tiba-tiba terbuka. Menyembul perempuan yang sedang dicarinya.


"Papa sudah pergi?" tanya Ardhita melewati pintu tanpa memandang wajah Reizvan.


"Aku akan kembali ke kamarku," ucap Ardhita lirih sambil berjalan cepat menuju pintu.


"Kenapa tidak kamu saja yang menemani?" tanya Ardhita. Ada nada sinis di suaranya yang trnyu saja dipahami oleh Reizvan.


"Kamu kenapa, Dit?" Reizvan menarik Ardhita lebih dekat. Namun, gadis itu bersikap berat dan bertahan tidak memandangnya.


"Ardhita ...," panggil Reizvan kembali. Berusaha menghadapkan lurus Ardhita dari wajah berpalingnya. Wajah berkerudung itu menunduk.


"Dit, kamu ini kenapa?" tanya Reizvan. Dagu Ardhita diangkat dengan punggung tangannya.


"Kamu menangis lagi? Ada apa, Dit?" Wajah itu sangat sembab dengan kelopak mata menebal. Jelas terlihat jika Ardhita baru saja menangis. Reizvan tekejut dan bingung. Bahkan, Ardhita justru menangis lagi setelah ditanyainya. Semakin merasa serba salah.


"Ardhita ... katakan padaku, ada apa?" desak Reizvan sambil terus menahan dagu Ardhita. Beberapa titik air telah jatuh ke tangannya. Baru sekali ini air mata wanita jatuh menitik mengenai kulitnya. Trenyuh sekali rasanya.


"Aku ... aku ingin pulang. Pak Irawan sudah sehat semula. Aku pulang saja ...," sahut Ardhita merengek sedih.

__ADS_1


"Lhoh, kenapa tiba-tiba begitu? Papa belun sehat, masak harus kita tinggal?" tanya Reizvan.


"Hanya aku yang pulang ke rumahku. Aku tidak mengajakmu," sahut Ardhita sambil berusaha tidak lagi menangis.


"Jika aku tidak ikut, ayah kamu akan sangat sedih. Pak Adam akan mengira kamu kutelantarkan. Apa kamu tidak menjaga perasaan ayahmu?" tanya Reizvan berupaya menyadarkan Ardhita. Mulai dimengerti jika perasaan gadis itu sedang sensitif.


"Katakan, kenapa menangis seperti itu? Kenapa tiba-tiba ingin pulang?" desak Reizvan. Merasa jika tangis Ardhita belum ada alasan terang penyebabnya.


"Mungkin aku memang berlebihan. Aku mungkin juga lebay dan sensitif. Terserah anggapanmu, tetapi aku tidak suka dengan reaksimu saat kubangunkan tadi. Coba saja diingat, apa saja yang kamu katakan padaju saat kamu tadi kubangunkan. Kurasa kamu yang keterlaluan, mas Reiz. Atau aku yang keterlaluan?"


Ardhita berbicara dengan tetap membiarkan dagunya bergerak-gerak di punggung tangan Reizvan. Merasa nyaman, seperti dukungan yang mencipta ketenangan hati tersendiri.


"Dit ... kumohon, maafkan aku. Sikapku tadi memang sangat keterlaluan. Maaf ya, Ardhita," ucap Reizvan setelah terdiam sekian detik. Membenarkan jika diinya memang bersikap kasar dan keterlaluan.


Reizvan telah memegang pundak Ardhita, lalu ditarik dan akan dipeluk. Merasa patut meminta maaf dengan tindakan. Akan tetapi, gadis itu menahan dan menjauhkan diri dengan cepat.


"Jangan Mas, aku nggak enak, nggak biasa." Ardhita kian mundur hingga tangan Reizvan benar-benar terlepas dari pundak.


Lelaki itu meredupkan mata dan menghela nafas. Merasa serba salah dan bingung bersikap. Selain dengan materi, selama ini hanya pelukan dan sentuhanlah dirinya terbiasa meredakan amarah serta sedih wanitanya, Irvoni. Namun, Ardhita menolak perlakuan yang seperti itu. Lalu bagaimana ....


"Aku akan menyusul papa ke balkon saja, Mas," ucap Ardhita. Merasa canggung jika berada dalam kamar lelaki tanpa ada alasan.


Bukan dirinya polos dan tidak pernah masuk ke kamar lelaki. Temannya sangat banyak dan pergaulannya pun terbuka. Tetapi tentu ada batasan dan semua dilakukan bersama-sama teman lain dengan sangat beralasan. Yang hampir semua demi kelancaran tugas belajarnya.


"Iya, temani papa bersenam duluan, Dit. Tolong jika dia nanya, bilang aku masih sakit perut di kamar mandi," ujar Reizvan sambil berjalan membuntuti Ardhita.


"Iya," sahut Ardhita abai dan hanya suara saja terdengar.


Gadis itu telah melewati pintu tanpa menutup. Berjalan cepat ke arah pintu menuju balkon. Reizvan memandang ayun punggungnya yang menjauh. Merasa gamang, bagaimana memperlakukan gadis itu selanjutnya dalam atap pernikahan yang patut.


πŸŽπŸ•ΈπŸ“πŸ•ΈπŸŽ

__ADS_1


__ADS_2