
Pak Irawan berhasil mendapat kelulusan dari dokter syaraf dan dokter penyakit dalam untuk meninggalkan rumah sakit malam itu. Dengan jaminan seorang suster dari rumah sakit besar sendiri yang telah disewa keluarga Irawan untuk lanjut merawat mandiri.
Rumah megah berlantai dua yang masih terang benderang itu seperti menyambut gembira kedatangan sang tuan pulang ke rumah kembali. Sebagaimana wajah pak Irawan yang tampak cerah saat menoleh pada menantu barunya yang cantik dan sudah sangat disayangi sejak lama.
"Adit, anggaplah ini rumah kamu sendiri." Pak Irawan berkata lirih tanpa sanggup berbicara lebih banyak. Rasa dadanya masih terengah jika harus panjang berbicara.
"Terimakasih, Pak Irawan," sambut Ardhita setelah memandang pak Irawan sejenak. Lelaki pemilik rumah yang sangat bersahaja itu mengangguk samar dan tersenyum kecil dan hangat padanya.
Ardhita dan suster yang disewa terus membuntuti pak Irawan yang sedang didorong Reizvan menuju sebuah kamar utama di bagaian depan dalam rumah. Berseberangan dengan sofa di ruang keluarga.
Pak Irawan telah dipindahkan oleh Reizvan dari kursi roda ke atas pembaringannya yang besar. Orang tua yang sebenarnya masih lemah dan perlu perawatan khusus itu tampak mendongak dari bantal.
"Ardhita lagi pergi ke kamar mandi belakang, Pa," jawab Reizvan, sadar siapa yang sedang didongak ayahnya.
"Hemmh ...." Pak Irawan kembali merebahkan kepalanya di bantal dengan gusar.
"Reiz, Adit sudah istrimu. Kalian tidurlah bersama. Jadilah lelaki yang bertabggung jawab lahir dan batin," ucap pak Irawan tiba- tiba. Menoleh pada Reizvan dengan wajah serius yang kaku. Pandangan mata tua itu menajam pada putranya.
"Iya, Pa. Papa jangan risau," ucap Reizvan buru-buru. Entah benar-benar janji yang akan ditepati, atau sekedar bermanis mulut belaka demi kesehatan papanya.
"Keluarlah, Papa sudah mending sekarang. Bawalah Adit segera istirahat di kamar kamu, Reiz. Ini sudah malam," ucap pak Irawan tidak bosan berpesan.
"Iya, Pa," sahutnya dengan pelan.
__ADS_1
Reizvan tidak ingin membuat bantahan pada pak Irawan, setidaknya di waktu dekat ini. Berharap kesehatan ayahnya segera pulih sempurna agar dirinya bisa kembali ke Jakarta lebih cepat. Lelaki itu mendekati suster dari rumah sakit untuk diajaknya berbicara.
"Aku keluar dulu, Mbak. Tolong jaga baik-baik ayahku," pesan akhir Reizvan setelah berbincang seperlunya pada suster sewa.
"Iya, Mas. Jangan khawatir," ucap suster berpostur jangkung itu sambil mengangguk.
Reizvan telah berjalan menuju pintu besar di kamar pak Irawan. Meraih gagang pintu dan menghempas pelan saat sudah dilewatinya.
Terlihat Ardhita baru keluar dari arah belakang dengan diikuti seorang wanita gemuk agak tua di belakangnya. Wanita itu melempar senyum ramahnya kepada Reizvan.
"Apa kabar, Mas Reiz?" sapa wanita yang tak lain adalah asisten pekerja di rumah pak Irawan.
"Alhamdulillah, Mak. Mak Tin, sehat?" tanya balik Reizvan dengan hangat. Wanita yang disapa mak Tin lalu mengangguk.
"Alhamdulillah, juga sehat. Mas Reizvan, Mbak cantik ini bener adiknya?" tanya mak Tin serius.
"Mak Tin, dari siapa tahu jika gadis ini adikku?" tanya Reizvan.
"Mbaknya ini yang bilang sendiri tadi, Mas," jawab mak Tin menunjuk pada Ardhita.
"Iya, Mak Tin. Namanya Ardhita, adalah anak asuh Papa. Dia memang juga adiku .... Apa ada kamar kosong yang siap ditempati, Mak Tin?" Reizvan bertanya dengan menghempas bimbang hatinya.
Bukan tidak peduli dengan keinginan sang ayah agar gadis itu sekamar bersamanya. Namun, tidak ingin jika Ardhita merasa tidak nyaman dan merasa tidak bebas. Reizvan berusaha paham akan jiwa muda Ardhita yang masih penuh tuntutan dan petualangan.
__ADS_1
"Uwalah, ada di belakang dua kamar kosong. Atau kamar di sebelahnya Mas Reiz juga kosong dan siap ditempati lho, Mas," terang mak Tin bersemangat.
"Tolong lebih rapikan lagi kamar di sebelahku saja, Mak Tin," ucap Reizvan dengan sopan.
"Nggih, Mas. Sudah rapi lho sebetulnya, hanya kugantikan cover kasurnya saja wess," sahut mak Tin seperti berbicara sendiri.
Wanita yang sudah berjalan pergi dengan beberapa langkah itu mendadak berhenti dan berbalik memandang sepasang insan itu kembali. Tampak akan ada yang ingin disampaikan.
"Kalau adiknya ingin diajak makan, juga ada nasi, sayur dan lauknya lho, Mas!" seru mak Tin sebelum kembali berjalan menuju lantai dua. Kamar Reizvan berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar yang akan ditempati Ardhita dan masih akan disiapkan olehnya.
"Dit, kamar kamu masih disiapin sama mak Tin. Kalo ada apa-apa kamu bisa bilang ke dia." Reizvan memandang Ardhita yang menyimak, lalu mengangguk.
"Iya, mas," sahut Ardhita kemudian.
"Sebaiknya kita makan dulu. Aku lapar banget. Tenagaku terkuras habis, lemes. Yuk, Dit!"
Reizvan menepuk lengan bahu Ardhita satu kali dengan lembut. Kemudian berjalan menuju arah dapur dengan cepat. Ardhita yang juga merasa lapar bergegas menyusul. Tidak tahu harus pergi ke manalah dirinya. Meski berada di tempat yang aman, rasanya justru berada di tempat yang jauh dan asing.
Dulu, selain ke lokasi proyek, pak Adam memang beberapa kali membawanya mengunjungi rumah ini. Akan tetapi, dia hanya menunggu dan bermain di taman luar depan rumah. Lambat laun, pak Adam tidak pernah membawanya lagi ke rumah ini.
Namun, sesekali masih membawanya ke lokasi proyek. Seperti biasa, membantu tugas pak Adam yang sebagai mandor bangunan di proyek milik pak Irawan. Sebab sibuk belajar dan sudah mandiri, ayahnya lebih suka meninggalkan sendiri di rumah. Tidak lagi dibawa-bawa ke mana pun.
"Duduk dan makanlah dengan kenyang, Dit. Anggap saja rumahmu. Jika kamu merasa segan, anggap saja aku tidak ada." Ucapan Reizvan yang hangat itu memecah lamun Ardhita.
__ADS_1
"Iya, Mas. Tetapi mana bisa kuanggap tidak ada, lalu aku di sini ikut siapa?" sahut Ardhita dengan asal. Berusaha sedikit melempar senyum dan canda. Mengimbangi keramahan Reizvan yang terlihat lebih tampan saat lelaki itu tersenyum.
ππΈππΈπ