Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
20. Menginap


__ADS_3

Bukan langsung menyapa saat lelaki yang hampir seharian tidak dilihat itu datang menemuinya. Namun, Ardhita hanya berdiri diam dengan bibir rapat membungkam. Sama hal dengan Reizvan yang juga masih terus diam menatapnya di depan pintu.


"Dit, bawa masuk anak bos ayahmu itu jika kalian memang sudah menikah!" Seruan nenek Asri cukup mengejutkan. Namun, mencairkan kebisuan di antara mereka berdua.


"Mas, kamu sama siapa?" tanya Ardhita sambil berdiri menepi. Mempersilahkan lelaki itu untuk masuk ke dalam ruang tamu.


"Aku sama Irvoni, Dit," sahut Reizvan dengan melangkah ke dalam melewati Ardhita.


Meletakkan dua kantong besar berisi entah apa di atas meja ruang tamu. Lalu menghempas diri duduk di sofa.


"Tutupkan pintunya, Dit. Dingin sekali di rumah nenekmu." Reizvan menunjuk pintu dengan isyarat gerak mata. Segera mendapat respon dari Ardhita yang menutup pintu dengan bingung. Sempat dilihat mobil keluarga Irawan di depan teras.


"Apa Mas Reizvan tidak segera pergi?" tanya Ardhita serba salah. Kini duduk di sofa di hadapan Reizvan.


"Aku akan menginap di sini. Papa sudah menjanjiku," sahut Reizvan dengan menyandar lelah di sofa. Ardhita terkejut sekali.


"Apa ... tidur di sini?!" sambut Ardhita terkejut.


"Aku sudah janji ke papa untuk menginap di rumah nenekmu." Reizvan menatap datar Ardhita.


"Maksudmu, papa memberi teguran ke kamu, Mas?" tanya Ardhita dengan cepat. Lelaki tampan itu mengangguk.


"Dengan siapa kamu wisuda, Dit? Jadi didampingi sama ibumu?" Reizvan sedikit meluruskan wajah menatap Ardhita, mengalihkan topik bahasan.


"Mas, di sini kamarnya cuma tiga. Yang satu buat barang-barang dan sisanya buat embah dan ...," sahut Ardhita masih ingin mambahas hal yang menurutnya cukup penting.


"Apa kamu nggak ada kamar?" tanya Reizvan serius, sebab Ardhita tampak gusar.


"Kamarku...? Ya, ada ...," sahut Ardhita terlihat gamang.

__ADS_1


"Ya sudah, ngapain bingung, Dit? Bisa tidur di kamar kamu, kan?" tanya Reizvan lembut.


"Ya ajak suami barumu ini di kamarmu saja lho, Dit. Lagipula biar dia saja yang ndampingi wisudamu besok," ucap nek Asri tiba-tiba. Ternyata sambil membawa getuk singkong dan kopi panas buat Reizvan.


Reizvan seketika menatap Ardhita sambil tersenyum. Memainkan kedua alisnya naik turun sesaat. Kemudian memandang pada nenek Asri.


"Terima kasih, Mbah. Ini, ada sedikit oleh-oleh kagem njenengan, Mbah." Reizvan segera menyambar dua kantong oleh-oleh dan mengulurkan pada nenek Asri.


"Waduh, berate ... lha ini apa ya?" tanya nek Asri dengan wajah berseri.


"Embah lihat saja. Silahkan dibuka, Mbah," timpal Reizvan dengan sopan dan hangat.


"Wadoh, suami kamu ini ganteng dan baik lho, Dit. Mbah bangga sama kamu. Pinter, meski nikah ora ngomong-ngomong, ternyata suamimu sopan sama orang tua. Ya semoga kalian ini jodoh, ora bakal pisah...," ucap nek Asri begitu sumringah.


Reizvan hanya tersenyum sambil menjambak-jambak rambutnya. Memandang Ardhita yang menunduk, wajah tampan lelaki itu pun terlihat serba salah.


"Terima kasih, Mbah ...," sahut Reizvan. Tidak tahu juga bagaimana menimpali dengan baik selain kata netral itu.


Nenek Asri berjalan ke belakang dengan membawa buah tangan dari Reizvan. Jalan yang agak sempoyong menunjukkan jika wanita tua itu memang sedang mengantuk. Mungkin sebab obat kejang sendi yang tadi diminum, kini telah mulai bereaksi.


"Diminum kopinya, Mas. Bubuk kopi itu asli buatan si mbah. Enak rasanya, khas banget," ucap Ardhita, berusaha mencairkan canggung di antara mereka.


"Kafeinnya pasti tinggi, Dit." Reizvan berkomentar sambil meraih cangkir kopi bersama tatakan.


Segera dirapatkan tepian cangkir dengan bibirnya. Kopi yang tadi berkebul asap, telah menghangat dan sangat pas dinikmati. Reizvan meneguknya tampak nikmat dan puas. Kopi kota Batu buatan nenek Ardhita, rasanya sungguh pas di lidah.


Reizvan sambil bertanya pada Ardhita, kenapa seluruh keluarganya tidak bisa mendampingi gadis itu untuk wisuda bahagia. Yang dijawab dengan malas oleh Ardhita, sedang banyak hal kebetulan yang menghalanginya mendapat wali untuk pendamping di wisuda.


"Masak embahmu setua itu akan kaubawa ke acara wisuda, Dit?" ucap Reizvan menanggapi. Namun, Ardhita hanya menunduk dan tidak menyahut.

__ADS_1


"Dit, besok aku saja yang mendampingi wisuda kamu," ucap Reizvan memutuskan. Tidak tahan memandang wajah Ardhita yang ditekuk. Gadis itu langsung mengangkat wajah dengan raut tak percaya.


"Apa, Mas?! Lalu, mbak Irvoni?" tanya Ardhita gelagapan. Rasanya sungguh suatu kejutan. Ekspresi itu tidak munafik jika dirinya pun enggan menolak.


"Dia pasti asyik dengan kawan satu tim kreatornya, Dit," terang Reizvan. Diletaknya cangkir kopi bersama tatakan di meja kembali. Cangkir itu ternyata sudah kosong.


"Kopinya sangat enak dan unik rasanya, Dit," ucap Reizvan berkomentar. Ardhita hanya tersenyum dan mengangguk.


"Dit, habis wisudamu, kita langsung pergi ke Jakarta. Apa kamu keberatan?" tanya Reizvan serius.


"Cepat sekali ... padahal aku ingin menginap beberapa hari di rumah nenek, Mas ...," sahut Ardhita terdengar merengek. Reizvan menahan nafas demi mendengar cara berbicara gadis itu yang rasanya terdengar manja.


"Tapi pekerjaan di Jakarta sudah ngejam di mejaku, Dit ," sahut Reizvan berusaha memberi pengertian pada Ardhita agar legowo dengan keputusan yang sudah direncanakannya.


"Apal Irvoni juga bareng kita saat kembali ke Jakarta, Mas?" tanya Ardhita. Hal itu telah membuatnya susah untuk mengiyakan ajakan Reizvan.


"Tidak, Dit. Irvoni justru akan kembali ke Jakarta selepas acara wisuda selesai, besok Aku akan menyusulnya denganmu."


Reizvan menjelaskan dengan tersenyum. Ruangan itu hening sejenak. Bahkan suara jengkerik malam pun tidak terdengar riuhnya. Mungkin sangat susah menahan rasa dingin malam yang seperti menggigit di sekujur badan dan kulit.


"Baiklah jika seperti itu, Mas. Aku pun bisa apa ...," sahut Ardhita pasrah.


"Terima kasih, Ardhita. Kamu memang adikku yang sangat cantik dan pengertian. Aku bersyukur memilikimu," sahut Reizvan kembali dengan ekspresi usilnya. Ardhita mencibirkan bibirnya sambil berdiri. Merasa salah tingkah dengan ucapan lelaki itu padanya.


"Mas, aku ingin istirahat di kamar dulu. Takut besok lambat bangun."


Ardhita langsung pergi meninggalkan Reizvan menuju arah kamarnya. Hatinya sedang berdebar tiba-tiba, tidak ingin lebih salah tingkah lagi andai lelaki itu kembali berbicara hal yang baginya sensitif.


Namun, pintu kamar itu tersangkut sesuatu saat Ardhita akan menutupnya. Saat berbalik, Reizvan telah berdiri di depannya dengan tangan menahan daun pintu. Baru teringat lagi jika lelaki itu akan menggunakan kamar yang sama dengannya malam ini. Ditinggalkannya pintu kamar tanpa sepatah kata pun dengan hati yang terasa semakin tidak aman.

__ADS_1


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


Maaf beloved readerskuuu... Up nya lambat2 ya.. πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2