Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
11. Tidak Dianggap


__ADS_3

Pintu yang sebentar tadi ditutup rapatnya, terasa dibuka lagi. Reizvan berbalik cepat dan melihat. Memang sudah terbuka lebar dengan Ardhita di sana. Gadis itu menggigit bibir dan samar tersenyum.


"Kenapa, Dit? Nggak ada air?" Reizvan menebak sambil berjalan mendekat.


"Aku belum ngecek, Mas," jawab Ardhita dengan berjalan keluar. Berselisihan dengan Reizvan yang menyelip masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat.


Gadis berkerudung itu hanya diam dengan terus memandang. Gerak Reizvan terlalu laju untuk ditegurnya.


"Apa masalahnya, Dit? Kran dingin dan kran panas di dalam, semua berfungsi dengan baik," ucap Reizvan sambil melewati pintu dan keluar.


"Siapa yang bilang rusak, aku enggak ...." Ardhita memandang Reizvan sambil menggelengkan kepala. Lelaki tampan itu mengerutkan dahinya.


"Lalu, kenapa kamu tidak jadi mandi?" tanya Reizvan bingung.


"Sini ranselku, Mas. Aku keluar lagi, sebab ingin ngambil baju ganti." Ardhita mengulur tangan pada ranselnya di pundak Reizvan.


"Jadi ...." Reizvan termangu dengan alis yang terangkat. Ternyata kekhawatirannya berlebihan.


Ardhita membawa ransel menjauh dari Reizvan. Tetapi lelaki itu terus mengikuti. Dari depan kamar mandi, ke samping ranjang dan di meja rias.


"Mas Reiz, jangan ikuti terus. Aku ingin mengambil baju dari ransel." Ardhita menegur Reizvan terang-terangan. Merasa segan sekaligus canggung.


"Apa masalahnya?" gumam Reizvan bertanya. Tidak ada tampang jahil di wajahnya. Ardhita jadi merasa serba salah.


"Mau ke mana, Dit?" Reizvan heran saat Ardhita akan membuka pintu kamar dengan membawa ransel bajunya.


"Aku kembali ke kamarku saja, Mas. Aku tidak jadi mandi," sahut Ardhita. Lanjut membuka pintu kamar.


"Loh, kenapa, Dit? Apa lagi masalahnya?" Reizvan terheran.


"Akan kubongkar bajuku di kamar saja. Pasti di dalamnya ada benda-benda yang mas Reiz tidak patut lihat," sahut Ardhita menjelaskan sambil melesat melewati pintu.


Mendengar ucapan Ardhita, perasaan Reizvan tercekat. Merasa tidak peka sekali lagi pada perasaan Ardhita. Sadar jika gadis berkerudung itu jauh beda dengan Irvoni. Yang selama ini sangat bebas dan hampir tidak memiliki rasa malu sedikit pun di depannya. Mungkin hanya tampilan polos tanpa busana saja yang masih ditahan untuk tidak dilihat dari diri kekasihnya.


Reizvan merasa kepalanya berdenyut tiba-tiba. Segera disambarnya handuk untuk dibawa ke kamar mandi. Dirinya pun sama hal dengan Ardhita, belum sempat mandi sedari datang.

__ADS_1


Dengan cerita hampir sama, Ardhita datang dengan kereta api dari Malang ke Surabaya. Sedang dirinya, datang dengan pesawat dari Jakarta menuju Surabaya.


πŸ•Έ


Tok Tok Tok


Gadis berambut panjang itu menggeliat dan berjingkat duduk. Sadar jika pintu kamar telah beberapa kali diketuk. Segera disambarnya kerudung lalu dipakai dengan cepat. Ingat dirinya di mana dan bisa saja Reiz ingin menemuinya kapan pun. Ardhita menyadari jika hari sudah pagi.


Ceklerk


"Eh, Mak Tin?" Ternyata bukanlah Reizvan, tetapi asisten rumah yang semalam dilihatnya.


"Non, kenapa tidak sama kamar? Kalian ternyata sudah menikah?" tanya mak Tin lirih menyelidik. Matanya menembusi isi kamar Ardhita yang memang kosong tanpa Reizvan di dalam.


Ardhita hanya diam tidak tahu jawaban apa yang harus dilempar. Yakin jika wanita itu tahu sebab pak Irawan yang mengatakan. Dirinya pun segera sadar sesuatu.


"Lalu, Mak Tin nggak bilang kita berlainan kamar, kan?" tanya Ardhita cepat merasa cemas. Wanita tua itu menggeleng.


"Enggak, Mak Tin dapat menduga. Aku paham kok, Cah Ayu. Sekarang tolong bangunkan mas Reiz, bapak ngajakin shalat subuh bareng," ucap Mak Tin dengan lirih.


"Mak Tin nggak sanggup bangunin. Telinganya tuan muda itu daleeem, bandel," ucap mak Tin menambahkan, paras Ardhita tampak bingung.


Wanita tua itu telah meniti tangga. Terdengar sayup jika pak Irawan tengah menyeru namanya dari bawah.


Tidak lagi pikir panjang, Ardhita melesat ke kamar sebelah. Diketuk lirih beberapa kali, risau andai pak Irawan mendengar. Diulang lagi, tidak juga disahut ataupun dibuka oleh si empu kamar.


Ingat ucapan Reizvan akan cara tidurnya yang tidak kalah saing dari sanca kembang, Ardhita pun membuka lebar pintu kamar yang memang benar tidak dikunci. Bergegas masuk dengan menghempas rasa bimbang.


Duh, pemandangan pagi menyesakkan. Cara tidur Reizvan benar-benar sembarangan. Sudah AC kamar menyala pun, baju atasan tetap saja tidak dikenakan. Hanya bercelana pendek dengan selimut jatuh berserakan. Selera tidur yang berantakan itu seperti bertentangan dengan sikap tenang pria itu.


Ardhita yang sejenak mematung, menyadarkan dirinya dari termenung. Merasa kebingungan sejenak dan kemudian dihampirinya tempat tidur.


"Mas ... Mas Reizvan! Bangun!" seru Ardhita tertahan. Tidak lirih juga tidak keras. Lelaki tidur itu ternyata sedikit merespon. Tangan yang semula ditekuk, kini pindah lurus ke samping. Namun, kepulasan tidurnya tidak kunjung berkurang.


"Mas, Mas Reiz! Bangun !" Ardhita mengulang kejutannya. Kali ini agak mendekat dengan sedikit membungkuk.

__ADS_1


Berusaha abai akan hamparan tubuh Reizvan yang menggoda. Hanya fokus pada matanya yang masih rapat memejam. Akan tetapi tetap susah dipungkiri, pria muda yang sudah suaminya itu sungguh sangat tampan sekali!


Sebab tidak juga terusik dan segan jika pak Irawan menunggu mereka terasa lama, Ardhita mengambil guling dan memukulkan pelan beberapa kali di kaki. Tidak lupa juga sambil menyeru untuk bangun.


"Ada apa ini?!" hardik Reizvan sambil duduk dengan cepat. Membuka mata merahnya dengan mengamati Ardhita yang berdiri diam di samping ranjang.


"Siapa kau?! Lancang sekali masuk ke kamarku?!" Reizvan kembali menegur dengan gertakan.


"Maaf, maaf, Mas .... Aku Ardhita, papa menunggu di bawah. Ngajakin shalat, sudah subuh," sahut Ardhita gugup. Hardikan Reizvan sangat mengejutkan sekaligus menggores hatinya. Seperti sebuah penolakan akan hadirnya di ingatan lelaki itu.


"Ardhita? Eh ... Ardhita?" tanya Reizvan menggumam berulang.


"Mas, pak Irawan menunggu di bawah. Ngajak subuh jamaah. Tadi aku ketuk pintu lama, tapi tidak dibuka-buka. Maaf mengganggumu," ucap Ardhita dengan cepat. Kemudian berbalik dan keluar kamar buru-buru. Hardikan Reizvan membuatnya tahu diri sekaligus berkecil hati. Mendadak jadi sedih, sekali lagi ingin pulang saja rasanya.


Setelah ke kamar mandi seperlunya dengan cepat, memakai baju yang patut juga kilat, Reizvan keluar kamar dan meluncur ke bawah. Ada mak Tin yang sedang menyapu lantai di ruang tengah.


"Mas, tadi diminta bapak nyusul ke mushola," sambut wanita itu berhenti menyapu. Disambut angguk kecil dari lelaki yang masih terlihat mengantuknya.


Mushola keluarga di belakang rumah tidaklah ramai. Hanya beberapa orang tetangga perumahan, pak Irawan serta mas Ilham. Pria asisten sang ayah sekaligus sebagai driver pribadi. Baru terlihat sebab sangat sibuk mengurusi pembangunan di proyek. Sebagai wakil pak Irawan saat sakit.


"Mana Adit, Reiz?" tanya pak Irawan saat putranya sudah selesai shalat sendiri sebab lambat. Tidak ada menantu cantiknya di antara segelintir jamaah wanita.


"Sudah duluan balik ke kamar, Pa," sahut Reizvan sangat yakin.


"Ngawur kamu ... istri kamu itu nggak ikut jamaah. Papa dari tadi ngawasi."


Pak Irawan berbicara tegas tampak kesal. Reizvan melepas peci lalu mengacak rambutnya. Berpikir jika Ardhita memang tidak turun ke mushola.


"Pa, bagaimana rasanya? Papa sudah bisa jalan?" tanya Reizvan coba mengalihkan pembahasan. Mengikuti papanya meninggalkan mushola.


"Papa ini bukan sakit strok, Reiz. Hanya kumat fertigo dan syaraf di kepala saja," sanggah pak Irawan tegas. Pria itu memang akan menganggap enteng penyakitnya jika sudah terasa pulih. Lupa jika kambuh sakitnya telah meleburkan masa depan anak orang. Reizvan kembali mengacak rambut dan memakai pecinya kembali.


"Dah, ayo. Papa ingin menemui Ardhita, ingin ditemani kamu sama istrimu ke proyek pagi ini," ucap pak Irawan. Berusaha berjalan lebih cepat menuju ke dalam rumah.


"Papa akan ke mana?!" tanya Reizvan resah.

__ADS_1


Pak Adam tiba-tiba membelok ke tangga dan sudah memijak di undakan yang pertama. Melangkah lagi ke anak tangga berikutnya. Meskipun langkahnya pelan dan lamban, tetapi membuat jantung Reizvan berdetak kencang pagi itu.


πŸ“πŸ•ΈπŸ“πŸ•ΈπŸ“


__ADS_2