Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
13. Hujan di Taman Bungkul


__ADS_3

Reizvan baru menutup pintu bersama dengan Ardhita yang keluar dari kamar sebelah. Gadis itu sangat cantik dan mempesona dengan harum wangi yang semerbak. Kerudung dan stelan outfit di badannya sangatlah memikat.


Mereka bersepakat pergi bersama untuk saling bertemu dengan orang yang berbeda. Namun, dalam waktu sama sekaligus di tempat yang berlainan.


"Apa hanya makan malam?" tanya Reizvan saat berhenti di depan sebuah rumah makan.


"Iya. Tetapi pak Dito bilang ingin mengajakku ke Taman Bungkul setelah dinner . Tidak tahu, jadi apa enggak," sahut Ardhita sebelum pergi turun dari kendaraan.


"Jadi apa enggaknya nanti kirim kabar, Dit. Kita pulang bareng," ucap Reizvan berpesan. Ardhita hanya mengangguk dengan memandang sekilas. Tidak berpamitan ataupun hanya meninggalkan salam padanya.


Reizvan sempat melihat seorang lelaki gagah menyongsong Ardhita di teras rumah makan. Mereka memasuki restoran dan menuju sebuah sedut, hingga tidak terlihat lagi dua sosok itu oleh matanya.


Reizvan menghembus nafasnya yang ditahan. Merasa kehidupannya berubah janggal tiba-tiba. Pernikahan mendadak dan sama sekali tidak berjalan normal setelahnya. Entah akan bagaimana ujung cerita dari pernikahan dan rumah tangganya. Apakah akan diakhiri cepat, atau begini terus tanpa ujung. Lalu harus bagaimana dirinya bersikap? Kepalanya berdenyut lebih kuat kembali tiba-tiba.


*


Tidak hanya berdua mereka berjumpa, ada dua lagi teman Ardhita yang diundang oleh Handito untuk makan malam. Bukan sekadar makan bersama, tetapi dosen tajir itu juga menawarkan kerjasama. Sangat paham jika gadis-gadis lulusan terbaru itu sangat memimpikan pekerjaan.


Akan tetapi tidak dengan Ardhita. Gadis sederhana yang jelita itu dengan tegas menolak tawaran sang dosen. Peluang kerja untuk mengelola sebuah tempat gym dan kolam renang yang bercabang di Surabaya dan Jakarta terpaksa diabaikan.


"Kamu benar-benar tidak ingin mempertimbangkan, Dit?" tanya Handito dengan raut sangat kecewa.


"Maafkan aku, Pak Dito," ucap Ardhita sebagai jawaban tetapnya. Gadis itu hampir tidak pernah memiliki sifat plin plan.


"Aku memang kecewa, Dit. Tapi bagaimana lagi, ayah kamu sedang perlu bantuan kamu, kan? Tapi aku tidak putus asa, siapa tahu masih ada jodoh untuk kerja sama denganmu ke depan nanti, Dit," ucap pak Dito dengan hangat. Meski sorot matanya masih menatap Ardhita dengan kecewa.

__ADS_1


"Aku juga sangat sedih, Dit. Kita nggak bisa sekerjaan, padahal ini peluang terbaik dari Pak Dito. Ah, kamu nih, Dit ...." Diana, teman SMU hingga karib di universitas, menunjuk raut kecewa beratnya.


"Aku pun kecewa ... kesal ...," keluh Irma. Bahkan teman karib Ardhita sejak di bangku SLTP.


"Maafkan, aku. Janji jika kalian nikahan, aku pasti datang, " bujuk Ardhita tersenyum.


"Apa? Nunggu nikahan baru datang? Lama lagi ... aku nggak ada rencana nikah dini!" Irma dengan cepat menyanggah. Diana juga mengangguk dan mencibirkan runcing bibirnya.


Tidak bermaksud apa pun, apalagi sengaja menyindir Ardhita. Sedang gosip pernikahannya, bau uapnya pun tidak tercium oleh siapa saja. Ardhita sedang menggigiti bibirnya diam-diam hingga terasa pedihnya.


Dari makan malam, mereka bersepakat ke taman bungkul berempat. Tetapi, Irma terpaksa turun sendiri di satu persimpangan. Ayahnya telah menelepon dan minta di jemputnya. Motor ayahnya mati mendadak di jalanan.


Tidak jauh beda dengan sang karib, Diana pun mendadak dijemput ibunya di lokasi. Diajak berbelanja bahan kue. Tiba-tiba sang ibu mendapat ordesan besar membuat kue untuk sebuah acara hajatan esok sore.


"Pak Dito jadi beli enam kartu?" tanya Ardhita menyongsong. Handito baru kembali setelah lama menghilang.


"Diana nitip salam pamit, Pak. Ibunya menjemput barusan," sahut Ardhita menjelaskan. Kini hanya tinggal berdua, rasanya jadi segan.


"Begitukah?" sahut Handito mengangguk.


Bukan ekspresi kecewa, wajah tampan berwibawanya justru terlihat kian cerah. Tidak dipungkiri, moment berdua seperti ini yang baginya sungguh kejutan menyenangkan. Setelah sekian lama menghalu, tak disangka akhirnya terkabulkan.


"Ya sudah, kita bisa naik permainan tiga kali, Dit. Sayang, punya Diana menganggur ...," ujar pak Dito sambil menunjukkan kartu yang serupa tiket. Hanya saja, kartu itu bisa diperjual belikan terus menerus untuk fasilitas permainan di Taman Bungkul Surabaya oleh pihak pengelola.


"Iyalah, Pak, benar ...," sahut Ardhita bersetuju. Meski dadanya berdebar. Bagaimana tidak, ini adalah moment pertama makan angin bersama seorang dosen idola bekas kampus hanya berduaan.

__ADS_1


Dengan sumringah, lelaki tampan berusia 30 tahun itu membawa Ardhita di tiga permainan yang berbeda. Perlahan, rasa canggung dan segan perasaan hatinya pun menghilang. Gadis itu seringkali terlihat tersenyum dan tertawa.


Ardhita juga seringkali tampak berbicara panjang lebar yang mungkin saja bercerita. Handito terus menyimak dengan wajah cerah, penuh senyum dan tanpa berpaling. Terlihat begitu antusias dan tertarik menyimak. Wajah cantik dengan gigi rapi dan putih alami itu memang sangat mempesona saat berbicara dan tersenyum.


Mereka terlihat menikmati moment bermain bersama yang gembira di Taman Bungkul. Tidak menyadari jika sepasang mata seseorang terus menemani dengan tatapan datar dan sabar.


Permainan komedi putar raksasa terbuka itu adalah yang terakhir dihampiri. Ardhita dan Handito baru saja dibawa tinggi memutar saat angin berhembus kencang tiba-tiba. Bersama turun air hujan sangat deras. Meskipun beratap, sebab angin kencang, air tetap menerjang masuk bersama hembus angin. Mesin permainan berhenti yang kebetulan adalah bangku mereka.


"Ayo kita berlari langsung ke mobil saja, Dit! Semua tempat sudah penuh!" Handito telah menyambar tangan Ardhita untuk dibawa turun dan berjalan menuju posisi mobil disandar.


Dengan cepat, Handito sukses menghampiri mobilnya dan memasukkan Ardhita. Dirinya berlari memutar dan menghempas di kursi kemudi kemudian. Dua jok mewah yang lembut itu telah ikut basah dengan cepat.


"Maaf, Pak Dito, mobil anda jadi berair ...," ucap Ardhita sangat segan.


"Ya Tuhan, Ardhita. Hal itu bukan masalah sama sekali. Kesehatanmu jauh lebih penting dari apapun saat ini. Aku akan segera mengantarmu pulang. Bilang pada kakak kamu tidak usah menjemput, Dit," ucap Handito dengan tegas. Ardhita terperanjat


"Tapi saat akan naik bianglala tadi, kakakku bilang sedang menuju ke mari, Pak Dito. Mungkin sekarang sudah sampai," ucap Ardhita tergesa. Segera dikeluarkan ponsel dari dalam tas.


"Sudah biarkan, Dit. Bilang kamu sudah kuantar. Sambil sekalian mobilku saja yang basah. Sungguh aku tidak masalah, Dit," ucap pak Dito dengan lembut tetapi tegas. Mata teduh itu menyapu penampulan Ardhita sekilas. Kemudian berpaling cepat dan mencengkeram kemudi. Handito bersiap tekan gas.


Ardhita tidak lagi mendebat. Ucapan Handito tidak ada salahnya. Jujur saja, saat ini berjuta rasa sedang dibendung di dadanya. Antara malu, waswas dan segan. Bajunya basah kuyub dengan melekat rapat di badan. Sangat risih rasanya, mungkin Handito telah membingakai bentuk dirinya di mana-mana dengan tatapan matanya.


Tok Tok Tok !! Kepala Ardhita dan Handito sama sama menoleh. Melihat ke kaca pintu di sebelah Ardhita dengan perasaan yang sama-sama terperanjat.


πŸ•ΈπŸ“πŸ•ΈπŸ“πŸ•Έ

__ADS_1


Minta dukungan bagi seluruh kakak readers tercintah untuk author!!! Please!!!


__ADS_2