Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
02. Diajak Jalan


__ADS_3

Ardhita kembali ke ruang tamu demi menemui Reiz yang ternyata bukan seorang perempuan. Namun, adalah lelaki dewasa yang tampan dengan kulit dan wajah yang cerah. Berhidung mancung dan beralis hitam lebat.


"Ini Adit, anak perempuan saya, Mas," ucap pak Adam pada Reizvan. Memandang Ardhita yang berdiri sejenak sebelum gabung duduk di sofa. Lelaki tampan itu tersenyum pada pak Adam sekaligus pada Ardhita.


"Ardhita, kenalkan, ini Mas Reizvan, putra pak Irawan. Kakak kamu," ucap pak Adam pada Ardhita, kemudian berdiri dan akan pergi ke teras depan. Ada dering panggilan di ponselnya.


Ardhita memandang pak Adam yang menjauh menuju pintu dan keluar. Tinggal dia sendiri bersama tamu lelaki yang membuat sikap Ardhita jadi kikuk.


"Hai, Mas,, Mas Reiz? Aku Adit, Ardhita," sapa Ardhita memaksa diri beramah tamah. Sambil melempar senyum dengan deret gigi biji timun yang putih. Tampak indah saat Ardhita berbicara dan tersenyum.


"Hai juga Ardhita, senang bertemu kamu. Tidak kusangka jika kamu ini perempuan, Dit," ucap Reizvan mengamati Ardhita.


Gadis itu tampak tersenyum malu dan menatapnya. Ardhita, adik angkat dengan sebutan nama Adit yang dipikirnya adalah anak laki-laki, ternyata gadis berkerudung yang menyenangkan dipandang dan terlihat sangat manis. Juga tampak anggun dengan kerudungnya yang modis.


"Mas Reiz juga nganggep aku cowok?" tanya Ardhita tak percaya.


"Beneran, kupikir kamu lelaki," Reizvan meyakinkan. Mereka sempat tertawa bersama.


"Tapi Mas Reiz, kamu selalu mengirimku hadiah ultah untuk anak perempuan?" tanya Ardhita mengingatkan di sisa tawanya. Dirinya pun merasa heran dengan kekeliruan Reizvan.


"Papa menyebutmu Adit Adam, kupikir lelaki," ucap Reiz menyembunyakan fakta lain alasannya.


"Juga ... aku memang sangat ingin memiliki adik perempuan. Jadi kupikir, saat usiamu belum tujuh belas tahun, tidak salah kamu kukasih kado yang cenderung buat cewek. Tapi setelah usiamu tujuh belas, kadomu sudah barang-barang cowok kan?" kata Reizvan mengungkit dengan tersenyum lebar akan kekonyolannya sendiri. Wajah cerahnya terlihat sangat tampan.


Ardhita kembali tersenyum dan mengangguk."Memang iya, Mas. Terima kasih, selama ini selalu ngasih hadiah buatku. Nggak pernah lambat juga sampainya. Maaf, aku nggak pernah ngasih kado buat Mas Reiz," ucap Ardhita dengan canggung.


"Tidak perlu, Dit. Aku jauh lebih tua darimu, lagipula cowok tuh nggak ngarep sama hadiah ulang tahun," tolak Reizvan sambil menggeleng.


"Apa saat ini kamu sibuk?" tanya Reizvan memandang Ardhita menyelidik.


"Enggak, aku sudah habis pendidikan, Mas. Minggu depan wisuda," ucap Ardhita menerangkan.


"Yuk ikut aku ke Surabaya Mall, Dit. Kubelikan hadiah buat cewek," ajak Reizvan pada adik yang baginya baru pertama ditemui. Bukan canggung, tetapi Reizvan terlihat perhatian dan sayang pada Ardhita.

__ADS_1


"Tapi ... aku minta izin sama ayah dulu," jawab Ardhita bimbang.


"Akan aku mintakan izin pada ayah kamu sekarang. Kamu siap-siap saja, Dit," ucap Reizvan sambil cepat berdiri. Lalu berjalan keluar pintu di teras.


Ardhita justru mengikuti Reizvan keluar di teras. Melihat langsung lelaki itu memintakan izin pada pak Adam untuknya.


"Maaf, Pak Adam. Saya ingin membawa Ardhita turun ke Surabaya Mall, bolehkah?" Reizvan meminta izin dengan sopan pada pak Adam, ayah Ardhita.


Pak Adam yang baru membuat panggilan telepon pada seseorang itu terdiam sejenak. Memandang Ardhita yang berdiri di belakang Reizvan.


"Apa kamu ingin ikut Mas Reiz, Dit?" Pak Adam memandang Ardhita di belakang Reizvan saat bertanya pada putrinya.


Reizvan yang baru tahu adanya Ardhita, segera bergeser dan berbalik. Ikut memandang Ardhita yang sedang tampak bimbang.


"Jika kamu ada waktu dan ingin ikut, ikut saja, Dit," ucap pak Adam pada anak perempuannya. Ardhita pun mengangguk.


"Iya, saya ikut saja, Mas," sahut Ardhita dengan segan.


Dengan mobil fasilitas proyek yang dipegang pak Adam, alias mobil milik pak Irawan, ayahnya, Reizvan membawa Ardhita meluncur ke pusat kota menuju Surabaya Mall.


Ardhita duduk di depan menemani Reizvan mengemudi. Lelaki itu tidak terlalu hapal peta jalanan kota Surabaya, sebab memang hidupnya selalu habis di Jakarta.


"Sekolahmu di kota Malang sudah tamat, Dit?" Reizvan memecah bisu dan Ardhita pun cepat menolehnya.


"Iya Mas, sudah. Cuma ambil enam semester saja," sahut Ardhita membenarkan.


"Kenapa bukan sarjana, setidaknya delapan semester, Dit?" Reizvan menoleh sejenak.


"Saya lelah," sahut Ardhita dengan tersenyum, mencoba bercanda.


"Oh, no komenlah jika alasan lelah seperti itu," ucap Reizvan sambil bergedik bahu dan tersenyum.


"Mas Reiz, apa akan lama di Surabaya?" tanya Ardhita memberanikan diri bertanya. Menoleh Reizvan yang sedang menyisir rambut hitam lebat di kepala dengan jari tangan yang panjang. Lelaki tampan itu tampak berfikir dengan pertanyaan darinya.

__ADS_1


"Bisa lama, bisa juga tidak. Sebab jika papaku sudah sehat, aku akan kembali ke Jakarta," jawab Reizvan.


"Sebenarnya aku ingin melihat keadaan pak Irawan," ucap Ardhita lirih dan ragu.


"Bagaimana jika habis ini ikut aku ke rumah sakit? Papa pasti sangat suka kamu melihatnya ke sana. Lagipula jarak ke rumah sakit kan tidak lama, Dit?" Reizvan tampak berharap.


"Aku," sahut Ardhita dengan bimbang. Reiz tersenyum dengan sikap Ardhita yang galau.


"Harus tanya sama ayah kamu dulu?"


Reizvan tersenyum lebar dengan pertanyaannya sendiri. Terlebih Ardhita juga tersenyum dengan membuang muka ke jendela di samping.


Reizvan yakin memang jawaban itu yang akan Ardhita lempar untuknya. Juga mulai paham betapa dekat hubungan pak Adam dengan anak perempuannya. Pria tua itu terlihat jelas menyayangi Ardhita.


Perjalanan berakhir pada sebuah mall besar dan Reizvan telah menyimpan mobil di latar parkiran lantai dasar. Membawa Ardhita berjalan cepat menuju pintu masuk ke bagian dalam mall.


"Darling!!" Seorang perempuan cantik berseru pada Reizvan sambil berjalan mendekat dari arah berlawanan.


Reizvan menyambut dengan melambai dan tersenyum. Menoleh Ardhita dengan maksud agar terus saja mengikuti. Ardhita pun bergegas patuh membuntut, berusaha mengejar langkah panjangnya.


"Gimana, konten kamu sukses?" tanya Reizvan saat mereka sudah berhadapan. Gadis itu menghambur menubrukkan diri pada Reizvan. Mereka berpelukan sesaat.


"Ya pasti dong, Yaaang .... Aku gitu looh," sahut perempuan itu dengan ekspresi yang bangga. Melirik tajam Ardhita sesaat sambil melonggar, Reiz sedikit mendorong bahunya. Ada tanya di matanya yang berbinar.


Reizvan tersenyum dengan ekspresi datar wajahnya. Kemudian menoleh Ardhita dan menepuk sekilas bahu adiknya.


"Von, kenalin, ini adikku, Ardhita," ucap Reizvan mengenalkan.


"Dit, ini Irvoni, kekasihku ...." Reizvan mengenalkan keduanya. Tampak suka saat melihat Ardhita mengulurkan tangan pada sang kekasih.


"Ardhita? Adit?? Dia ... dia cewek?!" seru Irvoni terheran. Wajahnya mengamati penampilan Ardhita dari atas ke bawah sekilas. Dengan lamban menyambut uluran tangan Ardhita sesaat, lalu melepaskannya lagi dengan cepat.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ

__ADS_1


__ADS_2