Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
15. Permintaan Pak Irawan


__ADS_3

Reizvan menuruni tangga dengan cepat, terlihat seperti melompat-lompat. Terkesan jika suasana hatinya sedang bersuka ria. Seperti bukan masalah jika pak Irawan tahu akan kebohongannya bersama Ardhita yang tidak satu kamar.


Entah sepab apa, wajah tampan itu kian cerah. Mungkin juga sebab baru bertemu dengan kekasihnya. Padahal pertemuan dengan Irvoni juga diwarnai adu mulut dan pertengkaran. Wanitanya tetap tidak terima ditinggal menikah secepat itu tanpa izin terlebih dulu lagi padanya.


Reizvan membuka pintu kamar papanya setelah ketukan dan salamnya mendapat sahutan sayup dari dalam. Pemilik kamar tengah duduk dan segera berdiri saat Reizvan masuk ke dalam dan mendekatinya.


"Pa, ada apa?" tanya Reizvan dengan cepat.


"Kamu pasti sudah menduga, kenapa papa manggil kamu?" tanya pak Irawan kembali.


Reizvan tidak menyahut, hanya diam memandang papanya. Lelaki yang sudah berkeriput di sana sini, tetapi masih sangat bersemangat serta tegas berpikirnya. Bahkan Reizvan sendiri tidak yakin, apa dirinya akan sehandal sang ayah di usia sesenja itu di masa depan. Serta diberi umur yang panjang ataukah tidak..


"Reizvan," tegur sang ayah kembali.


"Iya, Paaa, aku sangat tahu itu. Di rumah ini ada CCTV. Terhubung di situ," jawab Reizvan sangat lugas dan santai. Menunjuk ponsel canggih di atas meja milik ayahnya.


"Kamu sudah tahu .... Anak nakal, jadi kamu hanya bersandiwara di depan Ardhita?" tanya pak Irawan dengan ekspresi yang jengah.


"Sebenarnya bukan sandiwara, Pa. Aku sudah anggap Adit tuh, adek. Dari dulu, Pa. Meski sempat kupikir dia itu anak lelaki, aku dah terlanjur sayang sebagai adek saja ke Adit. Jadi kucoba menempatkan diri sebagai kakak. Apa kira-kira mau dia, ya aku usahakan, aku dukung. Papa paham maksudku?" Reizvan memandang lekat pak Irawan.


"Jadi sekarang, kamu permainkan papa? Begitu?" tanya pak Irawan tidak mau kalah.


"Bermain bagaimana, Pa? Kemauanmu kan sudah aku turuti, sudah kunikahi Ardhita. Pa, aku sangat mencintai Irvoni ...," ucap Reizvan sungguh-sungguh.


"Jangan jadi lelaki kurang ajar, jangan ingkar. Kamu sudah ijab kabul sama Ardhita. Berani berdosa, kamu?!" Hardik pak Irawan sangat kesal. Merasa dipermainkan oleh anak lelaki semata wayangnya.

__ADS_1


"Pa, aku dan Ardhita sudah berbicara baik-baik. Kami sudah bersepakat. Berbeda jika aku menyakiti perasaannya. Lain cerita juga jika aku berbuat sesukaku. Pa, Ardhita pun juga memiliki kekasih. Dosen, Pa!"


Reizvan berbicara sangat serius. Padahal dirinya pun kurang tahu bagaimana hubungan Ardhita dan Handito. Reizvan hanya ingin memasang pagar untuk hubungannya bersama Irvoni.


"Kamu jangan bohong, Reizvan! Pak Adam mengatakan jika Ardhita tidak memiliki pacar!" Pak Irawan menyahut dengan keras. Kian kesal dengan putranya.


"Mereka baru saja jadian, Pa. Pak Adam belum sempat tahu. Bayangkan perasaan Ardhita, mungkin lebih tertekan daripada aku. Papa tidak kasihan pada anak gadismu?" Reizvan berbicara pelan, tenang dan santai. Berusaha mengambil hati pak Irawan.


"Apa benar seluruh ucapan kamu, Reiz?" tanya pak Irawan dengan pelan.


"Aku tidak punya bukti, Pa. Waktu yang akan menjawab. Hanya aku sangat ingin Papa merasa tenang. Janji, akan kujaga Ardhita untukmu. Akan kupastikan anak perempuanmu bersama lelaki yang tepat. Papa percayalah padaku. Biarkan kami berpikir, beri kami kesempatan, pernikahan ini terlalu mengejutkan bagiku dan Ardhita, Pa," ucap Reizvan menambahkan.


Pak Irawan memandang lekat-lekat paras tampan putranya. Raut pria tua itu telah teduh dan tidak sekaku di awal perbincangan. Sepertinya mulai terbawa arus oleh perkataan putranya.


Jika menyangkut Ardhita, egonya pun memang bukan lagi apa-apa. Betapa sayangnya dia dengan Ardhita. Lebih tepatnya rasa belas kasih yang tidak akan pudar dan putus. Hanya ingin melihat anak gadis itu hidup bahagia dengan orang yang tepat. Namun, pak Irawan mulai ragu dengan harapannya.


"Sudah seringkali kubilang, Pa. Aku justru sangat bersyukur Papa meletakku di Jakarta bersama mama Hastuti dan papa Gunadi. Daripada papa menikah lagi dan memberiku ibu tiri. Aku lebih memilih dan menyukai cara Papa. Itu semua tidak mengurangi niat baktiku dan sayangku sebagai anakmu, Pa," ucap Reizvan dengan lembut.


"Terima kasih juga, Papa telah membuktikan janji padaku. Tidak pernah menikah lagi. Terima kasih, Pa. Maafkan aku yang egois padamu." Reizvan berdiri tegak dari menyandar pantat di meja.


"Itu sudah berlalu, kelak Papa akan bertemu dengan mama kamu lagi di surga, Reiz. Papa bangga dengan permintaanmu saat kecil itu," ucap pak Irawan. Didekatinya Reizvan dan ditepuk pipi keras itu sekali. Bibir keriputnya sambil tersenyum.


"Akan tetapi, Papa pun juga punya satu permintaan padamu, Nak," ucap pak Irawan lagi sambil meletak dua tangan di pundak putranya. Seperti akan memberi sebuah beban berat lagi pada Reizvan.


"Katakan saja, Pa," sahut Reizvan tanpa beban.

__ADS_1


"Ayah meminta waktumu lima bulan. Bawalah Ardhita di kamarmu. Jangan sampai kalian pisah kamar. Jika dalam waktu lima bulan kamu tidak menyentuhnya, Ardhita tidak mengandung anakmu, gadis itu tidak kamu nodai, Papa restui kamu ceraikan Ardhita."


Pak Irawan berbicara tegas dengan pandangan tajam tiba-tiba. Tangan yang mulanya hanya menyentuh, kini seperti mencengkeram kedua pundak Reizvan. Lelaki tampan itu bereaksi terkejut dengan ucapan serius papanya.


"Papa ingin mengujiku?" Reizvan tidak habis pikir dangan jalan pikiran ayahnya. Tidak munafik jika lelaki tua itu memang cerdik.


"Ardhita sangat cantik dengan penampilan yang cukup bisa diandalkan. Papa masih memiliki harapan padanya. Jika hatimu masih saja tertutup, setidaknya dirimu sebagai lelaki normal tidak akan menolaknya. Kamu paham maksudku, Reiz. Kamu adalah pria dewasa," pak Irawan sedikit tersenyum memandang putranya.


"Papa jangan berharap lebih. Aku sangat setia pada Irvoni." Reizvan berbicara, tetapi berpaling dari pandangan pak Irawan. Mengalihkan ekspresi di wajahnya.


"Kenapa tidak? Ardhita adalah ikan salmon yang sudah milikmu. Sedang Irvoni, ikan tuna yang bukan milikmu. Sebagai lelaki baik, kamu harusnya tidak bingung, ikan mana yang harus kamu sambar," ucap pak Irawan denga terus tersenyum. Merasa suka dengan ekspresi di wajah putranya yang ternyata memang semakin tampan.


"Papa menyamakanku dengan kucing? Kucing mana peduli, Pa!" sanggah Reizvan.


"Papa percaya padamu. Ibarat kucing pun, kamu bukanlah kucing garong," timpal pak Irawan yang kian lebar tersenyum.


"Sudahlah, Reiz. Kurasa cukup dulu yang papa ingin bincang denganmu. Kembalilah ke atas, istirahatlah. Atau kamu ingin membuatkanku cucu perempuan?"


Pak Irawan mendorong punggung Reizvan ke arah pintu sambil terus mencoba menggoda. Bukan sekadar omongan, tetapi juga disertai harapan kabul doanya dalam hati.


Reizvan keluar kamar dengan langkah yang panjang. Berpikir jika kemauan sang ayah memang terkadang tidak konsisten, rumit dan berat dipahami. Ibarat baru membeli kacang kedelai, sebentar saja sudah berubah bentuk jadi tahu dan tempe.


πŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•Έ


Dukung karyaku ya kakak readers....

__ADS_1


Vote here, please πŸ™πŸ˜˜


__ADS_2