
Pria lajang dengan berkemeja panjang warna putih bergaris hitam dan merah itu terlihat sangat tampan. Sayang sekali, sorot matanya datar dan tanpa ekspresi.
Reizvan melajukan mobilnya pulang setelah menemui Irvoni. Perempuannya tiba-tiba menelepon ingin bertemu. Ternyata ingin diantarkan malam nanti ke luar kota di Malang.
Irvoni ada keperluan membuat konten kreasi baru bersama kawan-kawan di sebuah acara wisuda salah satu unversitas negara kota Malang. Yang ternyata sama kampus dengan Ardhita.
Namun, Irvoni juga mengatakan memiliki seorang paman yang menjadi tenaga dosen di kampus Ardhita. Reizvan terlalu malas untuk menanyai tentang siapa paman Irvoni.
"Mak ... Mak Tin!" Reizvan menegur wanita yang sedang sibuk menata menu makan malam. Kemudian tergopoh menyongsong tuan mudanya.
"Ada apa, lho Mas?" tanya mak Tin setelah berhadapan dekat dengan Reizvan.
"Mak, apa Adit sudah berangkat ke Malang beneran?" tanya Reizvan dengan agak terengah. Jalannya sangat cepat dari garasi menuju dalam rumah.
"Iya, Mas. Sudah. Baruuu ... saja, berangkatnya. Lha apa nggak pamit sama sampean ta, Mas?!" Mak Tin terlihat sangat ingin tahu.
"Dia berangkat sama dosennya?" tanya Reizvan tanpa menyahut tanya mak Tin. Lelaki itu sambil mendaratkan pantat dan sepasang pahanya di kursi meja makan.
"Mak Tin nggak tahu, lelaki tadi dosen apa siapa, Mas. Tetapi sekilas kulihat gantenglah, Mas," ucap mak Tin sambil terus merapikan meja makan.
"Lha Mas Reizvan kok nggak mau ngantar tho?" tanya mak Tin menyelidik dengan tanya dan matanya.
"Dia nggak ngajak, juga tidak nyuruh ngantar, Mak ...," sahut Reizvan. Lelaki itu telah berdiri dan menjauhi meja makan, menuju tangga ke kamarnya dengan cepat.
π
Handito mengantarkannya ke kota Batu di rumah sang nenek satu jam yang lalu. Setelah lelaki itu membawa Ardhita mengunjungi vila pribadi yang ditempatinya di area Songgoriti tanpa bilang-bilang lebih dahulu. Gadis itu menahan rasa serba salah selama menemani mantan dosen mengemasi sebentar vila indah itu hanya berduaan.
Kini Ardhita sedang mendatangi rumah ibu kandungnya. Meminta untuk didampingi besok ke wisuda di hotel bintang lima Majapahit Hotel kota Batu. Sayang sekali, sang ibu berhalangan mendampingi.
"Ibuk, masa nggak bisa ndampingi aku sebentar saja? Cuma buat poto sama tanda tangan saja pun. Jangan khawatir, semua tanggungan biaya sudah beres. Ibuk tidak akan dipanggil untuk hal yang memalukan," bujuk Ardhita.
"Lha gimana lagi, Nduk? Adikmu nggak mau ditinggal ibuk sebentar pun," sahut sang ibu dengan galau.
__ADS_1
Ibu kandungnya, bu Nita, yang sudah berdomisili kembali di kota Batu itu menolak untuk mendampingi Ardhita wisuda. Sebab adik bungsu lain ayah sedang demam sangat tinggi. Yang mana dua kakak lelaki kebetulan sama-sama pergi ke rumah mertua di kota Kediri dan Madiun bersama istri mereka masing-masing.
Untuk ayah tiri, harus memanen kentang-kentang yang hampir terlewat masa tanam umbinya. Rasa hati Ardhita sangat kecewa luar biasa malam ini. Moment di mana harusnya menjadi puncak bahagia di akhir masa belajar, justru merasa sedih dan kecewa setelah perjuangan berat itu berhasil.
"Ya sudah, aku pulang dulu, Buk." Ardhita menyambar ponsel yang tadi diletak di meja. Berjalan lambat keluar pintu dengan berat. Adiknya yang sedang demam tinggi dan berumur enam tahun itu baru saja tidur setelah minum obat.
"Kenapa tidak wisuda sama mbahmu saja dulu, Dit?!" seru ibu Ardhita dari ruang tamu.
"Kasihan, Buk! Embah sudah sangat sepuh!" seru Ardhita dari teras sambil memasang sandal di kakinya. Sedikit kesal, sang ibu seperti abai dengan kesehatan nenek Ardhita.
Jarak rumah ibu dan ayah tirinya dengan rumah nenek tidak jauh. Tidak ada satu kilo meter jauhnya, kali ini gadis itu hanya sekadar jalan kaki.
Ardhita tinggal bersama neneknya, nek Asri, selama kuliah tiga tahun di kota Malang, jarang sekali menginap di rumah sang ibu. Sebenarnya ada juga sepeda motor hadiah dari pak Irawan, dibelikan saat Ardhita lulus tes di universitas impiannya.
Sebab hampir satu minggu ditinggalkan pulang ke Surabaya, motor tidak ada yang memakai, mesinnya jadi beku dan gagal distarter. Jadilah sang tuan dari motor matic itu jalan kaki pulang pergi.
"Loh, nggak jadi nginep di rumah ibumu, Dit?" tanya nenek saat Ardhita sudah masuk ke dalam rumah.
"Kamu kok cemberut, ada apa?" tanya nek Asri. Wajah cantik Ardhita sangat jelas ditekuk.
"Mbah, apa kamu sedang tidak ada gangguan rematik?" tanya Ardhita penuh harap.
"Itu nggak bisa tidak, Dit. Embahmu ini sudah tua. Kenapa?" tanya nek Asri menyelidik.
"Nggak ada yang ndampingi aku wisuda, Mbah. Semua sibuk sendiri," sahut Ardhita tidak bersemangat.
"Mas Andra dan Mas Ardin mudik ke kota istri. Andini panas, ibuk dan ayah nggak bisa, Mbah," ucap Ardhita lirih, menahan agar tidak mengeluh.
Nek Asri terkejut, tampak termangu. Memandang cucu terkasih dengan ekspresi sangat kasihan dan sedih.
"Lha terus gimana? Apa sama Simbah saja?" tanya nek Asri dengan lembut. Ardhita memandang dengan berbinar.
"Bener, Mbah lagi nggak sakit?" tanya Ardhita ragu-ragu.
__ADS_1
"Yah namanya orang tua, nggak lepas dari yang namanya sakit, Dit. Asal masih bisa jalan, makan enak dan ke kamar mandi sendiri, itu sudah sehat sekali. Tenanglah, Mbahmu masih kuat kalo cuma pergi ke Malang kota," ucap nenek Asri memberi semangat. Ardhita memandang galau neneknya.
"Maaf, ya Mbah, merepotkanmu," ucap Ardhita dengan haru.
Dipeluknya nenek tercinta yang selalu baik lahir batin dalam keadaan apapun. Sang nenek yang sudah berusia hampir delapan puluh tahun, tetapi terlihat masih sangat cantik dan bahagia. Wajahnya memang sudah keriput dengan uban yang hampir merata di kepalanya.
Namun, wajah nek Asri terlihat cerah dan bersemangat, meski rematik di kaki hampir menderanya setiap hari. Hanya dengan obat instanlah yang akan mengangkat sejenak rasa ngilu dari derita di raganya. Walau sang nenek juga rajin membuat jamu jampi.
"Terima kasih, ya Mbah. Obat yang biasanya masih kan, Mbah?" tanya Ardhita. Sangat memahami jika nenek Asri tidak mungkin sanggup pergi jauh dan lama tanpa meminum obatnya terlebih dahulu.
"Masih, ini mau Mbah minum. Kamu istirahatlah sana, Dit!" Nenek Asri sedang berjalan menuju arah ruang dapur. Mungkin akan minum obat dan kemudian pun pergi tidur.
Ardhita menutup pintu kamar dan langsung menghempas diri ke ranjang. Sambil melepas kerudungnya dengan asal dari kepalanya. Hingga sebagian kerudung tertindih olehnya. Ditariknya selimut tebal dan dibentang menutupi tubuhnya. Kota Batu perbukitan sangat dingin menggigit rasanya. Ardhita ingin segera lelap berpeluk mimpi malam ini.
Tok Tok Tok
Arus tidurnya berbalik memutar dan kembali sadar saat pintu kamarnya diketuk dari luar. Segera bangun sebab risau andai ada apa-apa dengan nenek Asri. Selain bertujuan belajar, Ardhita juga ingin menemani nenek Asri agar tidak tinggal sendirian di rumahnya.
Wanita tua itu adalah satu-satunya nenek yang dimiliki dari pihak ibu. Sedang orang tua dari pihak ayah di Surabaya, sudah tiada keduanya sejak lama.
"Ada apa, Mbah?" tanya Ardhita dengan cepat saat pintu terbuka. Nenek Asri tengah berdiri di depan pintu dengan wajah tidak biasa.
"Dit, apa benar kamu ini ternyata sudah menikah dengan anak bos ayahmu?!" tanya nenek Asri berseru lirih pada Ardhita.
"Di luar ada lelaki, katanya suamimu ...," ucap nek Asri lagi dengan bingung. Sebab Ardhita terlihat sangat kaget dengan berita yang dibawanya. Sama hal dirinya.
"Sekarang dia di luar, Mbah?" tanya Ardhita masih merasa tidak percaya.
Tetapi sang nenek barusaja mengangguk meskipun tampak ragu. Nek Asri pun jarang sekali bercanda, apalagi menipu. Pasti begitu juga kali ini.
Tiba-tiba rasanya berdebar. Benarkah Reizvan sedang di luar? Jadi, lelaki itu menyusulnya, untuk apa? Bagaimana dia bisa menemukan rumah nenek Asri yang memencil? Dengan siapa lelaki itu datang ke Malang? Ardhita pun bergegas menuju pintu ruang tamu dengan berdebar dan heran.
πΈπΈπππΈπΈ
__ADS_1