
Irvoni menatap wajah Ardhita lebih intens saat merasa jika adik angkat Reizvan itu berwajah sangat menarik dan cantik. Berpostur balance dan menyenangkan meski berbalut dress longgar yang tertutup. Juga terlihat berambut panjang sebab sanggulnya membayang di balik kerudung.
"Benarkah dia itu adik-adikanmu yang bernama Adit? Kenapa dia jadi cewek begini sih, Yaank?" tanya Irvoni pada kekasihnya.
"Benar, dialah Adit, Von. Ternyata dia itu perempuan. Bukan laki-laki," ucap Reizoan membenarkan. Sambil melempar senyum hangat pada Ardhita.
"Jangan-jangan salah, Yaank .... Keliru sama saudaranya, mungkin," ucap Irvoni seakan tidak suka dengan kenyataan bahwa adik angkat sang kekasih adalah perempuan.
"Ardhita ini bungsu dan hanya tinggal bersama ayah kandung di rumah dinas. Dua kakaknya laki-laki, mereka berdua tinggal jauh dan sudah menikah." Reizvan menjelaskan lebih detail demi membuat hati kekasihnya jadi aman.
"Lagipula aku dulu memang mengharap memiliki adik perempuan, Von. Sekarang aku memilikinya dengan tidak kusangka-sangka," ucap Reizvan menunjukkan wajah yang puas.
"Ya sudah, sana. Manja-manjain dia saja," kata Irvoni dengan kesal. Menatap Ardhita dengan jengah terang-terangan sekilas.
"Eh, Von! Mau kemana?! Tadi kirim pesan minta ditemani beli sepatu, Von?!" panggil Reizvan.
Namun, gadis cantik dengan bodi tinggi semampai dan seksi itu telah berjalan cepat menuju eskalator yang akan membawa naik ke lantai berikutnya.
"Mas Reiz kejar saja. Aku akan berbelanja di lantai satu." Mata bening Ardhita menatap Reizvan dengan senyum yang makhlum.
Ardhita sangat memahami jika Irvoni kurang menyukainya. Perlakuan seperti ini tidak lagi mengejutkan. Ardhita sering kali membuat seseorang menjadi bersikap tidak menyenangkan tiba-tiba. Sang Ayah mengatakan jika penampilan Ardhita terlalu mudah membuat perempuan lain merasa cemburu tanpa perlu lagi alasan.
"Sebentar ya, Dit. Ini gunakan buat belanja apa saja yang kamu suka. Andai kurang, tunggu aku!"
Reizvan dengan cepat mengulurkan sebandel uang merah pada Ardhita. Diselipkan di antara lengan dan baju di perut. Sebab, yang diberinya terlihat ragu menerima.
"Habiskan sambil menungguku," pesan Reizvan sambil berlalu tergesa demi menyusul si kekasih tambatan hati.
Ardhita termangu dengan segepok uang merah yang masih menyangkut aman di antara lengan dan perut. Perlahan dipegangnya dengan rasa bingung dan kepala yang berputar, harus membeli apa dengan uang sebanyak di tangannya.
Setelah berputar lama dalam swalayan, Ardhita mengambil antrian di kasir. Membeli bermacam buah-buahan dan beberapa jajanan ringan. Tidak ada barang lain lagi yang dia masukkan di keranjang.
Antrian panjang itu akhirnya terlewati dan sampailah giliran Ardhita membayar. Namun, sebuah tangan besar tiba-tiba menyela cepat dan mengulur uang pada kasir wanita.
"Pak Dito?!" Ardhita terkejut. Lelaki yang telah membayar belanjanya adalah salah satu dosen di kampusnya. Jadi, lelaki tampan itu juga salah satu dosen pengajar bagi Ardhita.
"Tidak menyangka bertemu kamu di sini, Dit," ujar pak Handito dengan raut yang cerah.
__ADS_1
"Saya juga tidak menyangka, Pak," sahut Ardhita membalas.
Berpikir jika pak Adrian sudah lulus pengajuan mutasi tempat mengajar. Yang semula sebagai dosen di kota Malang, mengajukan mutasi mengajar di kota Surabaya. Ternyata pengajuan itu begitu mudah diluluskan.
Pak Handito adalah dosen muda yang tampan dan smart. Mudah didekati oleh seluruh mahasiswa yang dipegangnya tanpa pilih kasih atau memandang kelas sosial mereka. Singkatnya, beliau adalah dosen favorit yang tentu saja sangat banyak digemari.
"Bagaimana jika kuantar pulang ke komplek perumahan tempat kamu tinggal, Dit?" tanya pak Dito menawari, sudah paham di mana Ardhita tinggal. Mereka telah keluar dari swalayan sehabis menamatkan urusan bayar dengan kasir.
"Tetapi saya datang ke sini bersama kakak saya, Pak. Terimakasih ya, Pak. Mohon maaf," tolak Ardhita dengan sesopan mungkin.
"Kamu bisa menghubunginya dan bilanglah tentangku. Bagaimana , Dit?" Pak Dito tampak sekali berharap agar Ardhita bersetuju. Tetapi apa daya, segan Ardhita pada Reizvan lebih besar dan meninggi.
"Maaf, pak. Saya datang dengan kakakku, jadi pulangpun harus dengan dia," ujar Ardhita dengan senyum meyakinkan. Berhenti sejenak di samping eskalator, berharap Reizvan segara muncul dan turun.
"Dit!!" Terdengar panggilan padanya. Tapi bukan dari atas eskalator, nama yang diharap sudah turun dan berjalan ke arahnya. Entah sejak kapan lelaki tampan itu sudah kembali ke lantai satu semula.
"Anda siapa, ya?" tany Reizvan saat sudah dekat pada mereka berdua.
"Saya Dito, dosen Ardhita. Anda?" tanya Handito kembali.
"Iya, Mas. Tetapi ... aku belum diwisuda," ucap Ardhita meluruskan.
"Belum wisuda? Oh, jadi begitu? Maaf, ya Mas. Tapi saya ingin menjemput adik saya. Permisi," pamit Reizvan cepat dengan mengangguk sopan pada Handito.
"Tapi, kalian sudah saling menyimpan nomor kan?" tanya Reizvan lagi, tidak jadi melangkah pergi. Sadar jika dirinya bisa jadi sudah mengacau perbincangan antara dosen dan mahasiswinya. Entah topik apa lagi yang masih patut mereka bahaskan saat itu.
"Ardhita, nomor kamu masih sama?" tanya pak Dito ingin memastikan.
"Iya, pak. Masih sama," sahut Ardhita tampak bingung. Ternyata pak Handito telah memiliki nomor ponselnya.
"Jika senggang, aku ingin menghubungimu," pesan pak Dito.
"Iya, pak. Silahkan," sahut Ardhita tanpa beban. Ardhita memang lebih cantik dan berkulit bersih saat itu, terlebih di mata sang dosen. Beberapa hari cuti, penyebab dirinya tidak lagi melihat Ardhita.
"Permisi, Mas Handito, saya ingin membawa adik saya sekarang," Reizvan kembali berpamitan.
"Oh, iya. Silahkan, Mas!" sambut pak Handito dengan ramah.
__ADS_1
Sang dosen merasa jika kakak Ardhita bersikap cukup ramah dan sopan. Meskipun ada kesan proteksinya. Entah kenapa, Handito justru merasa jika hal itu membuatnya lebih aman. Juga tahu jika gadis itu memeliki dua orang kakak lelaki.
Merasa tidak salah mencoba mulai mendekati salah satu bunga kampus terbaiknya. Kelulusan Ardhita seperti penghapus sekat di antara dosen dan mahasiswa bagi pak dosen.
πΈ
Reizvan telah membawa Ardhita keluar dari mall dan menuju rumah makan megah di sebelah bangunan mall. Telah ada si seksi Irvoni yang menunggu dengan duduk di salah satu meja di dalam.
"Kamu sudah pesan, Von?" tanya Reizvan pada kekasihnya. Irvoni menggeleng tanpa menyahut, tetapi sedang menatap dan mengamati Ardhita dengan lekat. Seperti ada sesuatu yang sangat menarik dari Ardhita, gadis bermake up sederhana, tetapi menarik dan sangat menyenangkan dipandang.
"Von, kamu pesan apa? Aku dan Ardhita pesan sate kelinci, kamu juga?" tanya Reizvan dengan nada sabar dan perhatian pada Irvoni.
"Mas, apa benar, papamu ingin agar kita segera menikah?" tanya Irvoni dengan mata yang indah berbinar. Abai pada tanya Reizvan.
"Tentu saja, Von. Sudah berapa kali kusampaikan hal ini sama kamu?" Reizvan bertanya pada Irvoni dengan tatapan yang serius.
"Mas, kamu paham kan? Aku ini lagi naik daun. Aku adalah salah satu selebgram paling bersinar tahun ini. Aku sangat belum ingin menikah. Aku sudah terlanjur menerima antrian endorse yang panjang. Mereka memilihku sebab lajang, belum menikah. Aku masih ingin menikmati kesuksesan konten kontenku dengan jiwa yang bebas, bukan terikat," pungkas Irvoni menggebu.
"Kita berpacaran sudah terlalu lama, Von. Hampir tiga tahun. Ayahku sedang sakit, beliau ingin kita segera menikah," ucap Reizvan.
"Tapi itu belum lama kurasa, Mas. Temanku ada juga yang pacaran sudah enam tahun. Tapi mereka anteng dan damai," dalih Irvoni. Reizvan terus memandangnya dengan lekat.
"Namun, aku ada ide bagus, Mas!" Irvonie berkata penuh semangat.
"Ide bagus? Apa itu, Von?" tanya Reizvan dengan memicing mata dan alisnya, lelaki itu terlihat sangat keren.
"Nikah sementara dengan adik-adikanmu saja, Mas," ucap Irvoni dengan lembut. Sadar bisa jadi Reizvan akan murka dengan usul konyolnya.
"Apa maksudmu, Von?!" Reizvan bertanya keras pada Irvoni.
"Menikah sementara saja dengan adik angkatmu ini, Ardhita," sahut Irvoni dengan menunduk setelah menunjuk Adit sekilas.
Serasa gentar juga pada tatapan tajam sang kekasih. Begitu juga dengan Ardhita, gadis itu sedang menatap Reizvan dan Irvoni dengan kaget.
πΈπΈπππΈπΈ
Terimaksih dukungan dan kedatanganmu, ya beloved readerskuuu...
__ADS_1