
Lelaki di luar kaca lalu membungkuk setelah mengetuk. Jadi terlihat jelas siapa orang tersebut. Handito masih mengenali dengan yakin jika itu adalah kakak lelaki Ardhita. Segera diturunkan sedikit kaca mobil dengan cepat.
"Maaf, Mas. Saya agak telat jemput Ardhita!" seru lelaki yang tak lain adalah Reizvan dari luar.
"Tidak masalah, Mas! Sekalian saya izin ngantar Ardhita! Biar saya saja yang ngantarin pulang, Mas!" Handito berbicara keras dari dalam.
"Lain kali saja, Mas! Maaf, kali ini akan saya bawa sendiri!" sahut Reizvan dengan keras. Mereka memang sama-sama keras berbicara. Hujan dan angin sedang kencang bersamaan. Ardhita yang gusar, merasa tidak ingin tinggal diam.
"Pak Handito, sebaiknya saya turun saja. Kasihan kakak saya, nanti kelamaan kena hujan. Maaf banget ya, Pak ...."
"Terima kasih, sekali lagi minta maaf, ya Pak Dito," ucap Ardhita berpamitan.
"Assalamu'alaikum, Pak!" Ardhita menyambung.
Kemudian membuka pintu setelah memandang Handito sekilas. Tentu saja wajah kecewa laki-laki itu sempat dilihat. Namun, rasanya lebih tidak tega pada Reizvan jika berdiri lama di luaran. Sedang kedua lelaki itu bergelagat tidak saling mengalah.
Reizvan merasa lega saat Ardhita memilih keluar dan kini berdiri bersamanya. Ada rasa puas tersendiri dengan sikap tegas yang ditunjukkan Ardhita.
"Permisi. Sekali lagi maaf dan terima kasih! Mari, Pak!" Reizvan berpamitan dengan sedikit membungkuk. Agar dirinya dan Handito sama-sama bisa saling melihat.
"Ayo kita pulang, Dit. Bajumu basah seperti ini?!" Reizvan berseru di tengah curah hujan. Ardhita pun memandang dan mengangguk padanya.
Ditelusuri gadis itu dengan matanya sekilas. Kemudian di cekal tangan Ardhita dan dibawa berjalan di bawah payung lebar. Meninggalkan Handito bersama mobilnya di tempat.
Ardhita merasa haru dengan sikap tegas Reizvan yang berasa melindungi. Entah sebab menjaga perasaan pak Irawan saat di rumah, atau memang ingin menjaga dirinya semata, yang jelas Ardhita sangat suka. Jika bukan suami, Reizvan telah bersikap melindungi sebagai seorang kakak lelakinya.
Yang mana tidak pernah Ardhita rasakan meskipun memiliki dua orang kakak kandung laki-laki. Apalagi mereka berdua tinggal jauh dan telah menikah lebih cepat dari perkiraan pak Adam sendiri. Abang yang satu sebab menghamili, abang satunya sebab sudah sangat lama berpacaran.
Blak!
__ADS_1
Sama persis dengan Handito, Reizvan memutari mobil setelah memasukkan Ardhita di dalam. Bedanya, Handito tanpa perlengkapan, sedang Reizvan menggunakan payung sangat lebar. Meski air hujan masih saja membelai tubuh tegapnya.
"Pakai sabuknya, Dit. Ini akan sedikit kencang kubawa," ujar Reizvan sambil meletak payung di jok belakang. Kini tepat duduk tegak bersiap mengemudi. Tampak sekali tergesa-gesa.
"Tapi hujan lebat, Mas. Hati-hati, ya," sahut Ardhita khawatir.
"Tenang, Dit. Akan kuhidupkan auto sensornya. Aku ingin cepat sampai di rumah dan mandi. Kamu pun pasti dingin," sahut Reizvan tanpa dipandangnya lagi Ardhita. Merasa tidak tenang dengan badan yang basah dari ujung kerudung di kepala hingga outfitnya di ujung kaki. Merasa khawatir dan iba, meski keadaan dirinya pun tidak jauh berbeda.
Reizvan telah melajukan kencang kendaraan setalah mengelap tangan dengan berlembar tisu kering sebelumnya. Membelah jalan raya dan fokus di tengah ketinggian curah hujan kota besar Surabaya.
Ciiiiiiiiiiiiiìiiiiiiiiiiiit!
Reizvan mengerem mendadak saat rumah mentereng di kiri jalan itu hampir saja terlewat. Wajah tampannya terlihat tegang sesaat. Ardhita menduga jika lelaki itu bisa jadi sedang mengantuk, atau baru saja melamun.
"Maaf, Dit. Aku lupa jika rumah papa sudah dekat," ucap Reizvan setelah menyandar aman di garasi. Bersama hempas nafas leganya.
"Iya, Mas. Nggak masalah kok, yang penting selamat," sahut Ardhita cepat.
"Terima kasih, Mas!" Ardhita menyempatkan diri menyapa. Meskipun Reizvan lebih dulu meninggalkan anak tangga dan memburu pintu kamarnya.
"Sama-sama, Dit. Aku harus segera mandi. Badanku suka bentol jika kelamaan kena hujan!" sahut Reizvan menyempatkan menoleh Ardhita sebelum lelaki itu tenggelam di dalam kamar.
Gadis itu tidak segera menghampiri pintu kamar. Berdiri tegak sejenak dengan rasa terkejutnya. Dalam hati agak risau andai lelaki itu benar-benar jadi bentol. Rasanya sungguh kasihan. Namun, Ardhita tiba-tiba tersenyum. Entah apa yang sedang melintas di kepalanya. Gadis itu bergegas masuk dalam kamar, juga ingin segera mengeringkan dirinya.
Tok Tok Tok
Ketukan pelan menahan langkah Ardhita untuk memasuki kamar mandi. Menyangka Reizvan sedang berdiri menunggu di luar. Bertanya sangka untuk apa lelaki itu mencarinya.
Ceklerk.
__ADS_1
Terkejut sekali, bahkan jantung dalam dada serasa melesat jatuh di perut. Bukan Reizvan orang yang sedang di depan kamar. Akan tetapi, justru ayah lelaki itulah yang ada. Orang yang sangat diresahkan selama ini.
"Pa ...," sapa Ardhita tercekat.
"Ardhita," sahut pak Irawan dengan raut yang datar. Ardhita menyangka jika lelaki itu sedang menahan marahnya.
"Papa di sini?" Ardhita berusaha tenang. Bersiap menjawab kemungkinan segala soalan pak Irawan.
"Ardhita, kenapa kamu di kamar tamu? Ini tidak baik. Masuklah ke kamar suami kamu. Ayo, papa antarkan."
Pak Irawan berbicara sangat tenang. Sama sekali tidak marah, seperti sudah diketahui segala apa pun olehnya. Juga abai dengan baju Ardhita yang basah kuyup dengan tampilan menggiurkan. Lelaki tua itu sama sekali tidak berkomentar. Justru memimpin Ardhita untuk berpindah kamar di sebelah dengan isyarat dagunya.
"Masuklah, Dit. Bilang sama suami kamu untuk turun sebentar menemuiku di kamar. Papa benar-benar menunggunya," ucap pak Irawan setelah Ardhita berada dalam kamar putranya. Tidak didapati Reizvan di manapun. Menduga jika lelaki muda itu sedang di dalam kamar mandi.
"Iyy--ya, Pa ... nanti kubilang pada mas Reizvan," ucap Ardhita terbata dan menjanjikan. Mendadak merasa iba pada pak Irawan, sekaligus ada perasaan tidak enak di benaknya.
Pak Irawan telah keluar dan menutup pintu agak keras. Berjalan santai menuju tangga. Meniti anakannya dengan pelan. Lelaki tua yang masih terlihat sisa garis tampan di wajahnya itu sedang lebar tersenyum. Terus meniti tangga dengan sebelah tangan berpegangan.
🕸
Ardhita sudah sangat dingin saat pintu kamar mandi terbuka. Reizvan keluar dengan memakai bathrobe putihnya. Sangat terkejut mendapati Ardhita di kamar, terlebih masih dengan baju basah kuyubnya.
"Ardhita ...?!" Reizvan terheran sambil tergesa melepas bathrobe dari badannya. Segera diselimutkan pada Ardhita yang terlihat gugup dan tegang. Ini adalah perlakuan pertama kali dari seorang lelaki padanya, terkecuali sang ayah.
"Ada papa ... tadi Mas. Papa yang memasukkan aku ke dalam kamarmu ...," ucap Ardhita gugup, antara berdebar juga sebab dingin gemetaran. Ingatan saat dihardik Reizvan pagi itu juga tidak akan pernah hilang dalam ingatan.
"Papa? Dia tahu? Ah, tidak masalah, Dit. Sekarang cuci dulu badanmu. Nanti kamu sakit." Reizvan menarik tangan Ardhita ke dalam kamar mandi.
"Mas, papa ingin kamu menemuinya di kamar. Dia sedang menunggumu," ucap Ardhita kian salah tingkah. Reizvan dengan handuk mini yang hanya menutupi aset gentlenya serta dua tonjolan belakang itu membuat mata dan kepala Ardhita ternoda. Seperti tontonan semi vulgar yang real. Jadi bengek saja rasa di dadanya.
__ADS_1
"Sudah kuatur hangat agak sedikit panas ya, Dit. Mandilah sepuasmu. Aku akan turun menemui papa." Reizvan berbicara santai, juga tidak terlalu memandang Ardhita. Gadis yang sedang terlihat meresahkan itu seperti ancaman. Rasanya iba jika berpikir tidak sopan pada Ardhita. Reizvan bergegas keluar unutk segera menemui ayahnya.
🕸🍓🕸🍓🕸