Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
06. Menikah Saat Ini


__ADS_3

Reizvan merasa iba pada Ardhita yang tampak bingung dengan wajah memerah. Mungkin rasa kaget akan saran Irvoni belum hilang, kini semakin shock dengan permintaan pak Irawan yang kurang lebih sama isinya. Sama juga dengan perasaan Reizvan.


"Pa, akan kuantar Ardhita pulang dulu. Habis itu, aku ke sini lagi temani Papa."


Reizvan berdiri tegak dan mengambil tangan ayahnya untuk di salam, lalu dicium. Namun, pak Irawan melengos dan berpaling, seperti tidak ingin melihat putranya.


"Pak, saya pamit pulang dulu. Kuharap Anda lekas sehat semula. Assalamu'alaikum." Kali ini Ardhita yang bersalam pada pak Irawan. Akan tetapi, pak Irawan tidak segera melepas salam tangan Ardhita.


"Ardhita, kamu mendengar apa yang kubicarakan dengan Reizvan?" tanya pak Irawan menahan gerak Ardhita. Gadis cantik tanpa riasan itu mengangguk perlahan. Gayut mendung menggantung di matanya.


"Iya, Pak. Saya mendengar," sahut Ardhita lirih. Kepalanya pun mengangguk.


"Kuharap, kamu mengerti maksudku, Dit. Papa juga ingin menjadi ayah kamu selamanya. Agar kamu terus bahagia dan tidak akan pernah menderita lagi," ucap pak Irawan menjelaskan.


Ardhita terdiam dengan wajah sedikit ditekuk. Rasanya tidak tahu harus bagaimana. Sedang Reizvan pun sudah memiliki seorang kekasih yang tampak sangat dicinta. Bagaimana bisa Reizvan dan Ardhita akan menikah? Apa mungkin mereka akan bersama penuh bahagia seperti harapan pak Irawan untuknya? Sejuta sangka berkecamuk di kepala Ardhita.


"Pa, kuantar Ardhita pulang dulu," ucap Reizvan menyela.


Lelaki tampan itu tidak ingin sang ayah kian membujuk. Reizvan merasa iba pada Ardhita yang baru saja lulus kuliah. Seharusnya bergembira, bebas dan senang menikmati kelulusan, justru dihadapkan pada tuntutan pernikahan. Reizvan merasa trenyuh sekaligus malu pada Ardhita.


"Ardhita, ayo kuantar pulang," ucap Reizvan dengan memandang tegas Ardhita.


"Pa, aku nanti datang lagi. Assalamu'alaikum." Reizvan bergegas menuju pintu, tidak terdengar juga sahut salam dari ayahnya. Kaki terus berjalan, tetapi hati sambil mengharap jawab salam dari pak Irawan.


Ardhita membisu membuntuti langkahnya menuju latar parkir. Terus saling diam hingga mobil meluncur kencang membelah jalanan Surabaya saat malam.


Pak Adam menyambut dengan senyum berkerut di dahinya. Terheran dengan aura muram yang jelas terbaca di wajah Ardhita dan Reizvan kala datang. Pria tua itu hanya menjawab salam, lalu ikut diam tanpa bertanya apapun hingga mereka masuk ke dalam dan duduk bertiga di sofa.


"Apa kondisi pak Irawan baik-baik saja, Mas?" tanya pak Adam terlihat khawatir.


"Alhamdulillah, sudah mulai stabil pak Adam," sahut Reizvan dengan menyandar punggung di sofa. Paras tegas rupawannya terlihat amat lelah.

__ADS_1


"Kapan kira-kira boleh dibawa pulang, Mas?" tanya pak Adam lagi.


Reizvan tidak segera menyahut. Tangan lebar dengan jari yang panjang itu meraih hidung mancungnya sendiri dan menariknya hingga tiga kali. Tampak jelas jika hatinya sedang gundah. Namun, pak Adam tidak bertanya lagi dan memilih membiarkan saja.


"Ayah, aku mengantuk, ingin shalat dulu. Mas Reiz, terima kasih ya. Salam buat pak Irawan," sapa Ardhita sebelum laju ke dalam kamar. Tidak ada senyum manis lagi yang tampak terbit dari wajah cantiknya.


"Dit, kamu tidak ingin menemani kakak kamu makan malam?!" tanya pak Adam berseru pada putrinya yang sudah melesat.


"Tidak perlu repot, Pak. Saya dan Adit sudah makan di jalan." Reizvan menyahut demi menenangkan pak Adam. Memaklumi bagaimana kecewa perasaan putri lelaki itu. Meski Ardhita diam, tetapi dirinya juga paham.


Tiba-tiba ponsel di saku kemeja Reizvan kembali bergetar dan berdering. Segera disambar dan diangkat panggilan masuk dari suster yang menjaga sang ayah di rumah sakit.


"Halo?" sapa Reizvan. Kemudian diam dan menyimak.


Lelaki tampan itu mendengar saksama bicara dari suster penjaga pak Irawan di ponsel. Lalu mengangguk sesekali dengan ekspresi yang terkejut dan tegang. Reizvan sambil meluruskan wajah dan memandang pak Adam, sedang panggilan itu berakhir beberapa detik kemudian.


"Pak, apa proyek bisa Anda tinggal sejenak?" tanya Reizvan tampak resah.


"Papa kritis lagi, ingin kita bertiga datang ke rumah sakit secepatnya," ucap Reizvan sambil cepat berdiri. Disambarnya lagi kunci mobil yang belasan menit lalu baru saja diletak.


"Iya, Mas. Proyek tidak masalah kita tinggal ke rumah sakit sebentar," sahut pak Adam.


"Kita bertiga itu, apa juga Ardhita, Mas?" tanya pak Adam lagi dengan raut gelisah.


"Benar, Pak. Terimakasih, Pak Adam. Tolong bawa Ardhita sekalian, ya Pak! Kutunggu di mobil!" seru Reizvan.


Lelaki itu berjalan keluar dan menghampiri pancuran di bawah teras. Mencuci muka sepuasnya di sana, beberapa kali berkumur dan menyudahinya dengan mencuci kaki berulang kali.


Dua puluh lima menit kemudian..


Mobil itu kembali di tempat parkir yang puluhan menit lalu baru saja ditinggalkan. Kini kembali menyandar aman di sana. Reizvan keluar tergesa dari kursi kemudi, diikuti pak Adam dan Ardhita dari kursi penumpang di belakang. Kemudian berjalan cepat menuju bangsal VIP tempat pak Irawan dirawat.

__ADS_1


"Gimana kondisi papa, Mbak?" tanya Reizvan saat tiba di depan kamar rawat sang ayah. Kebetulan suster sewa yang merawat pak Irawan itu sedang keluar dari kamar.


"Alhamdulillah sudah agak stabil lagi, Mas. Dokter baru saja keluar dari ruangan setelah memeriksa, Bapak." Suster sewa itu berbicara tampak tegang.


"Tadi bapak berpesan, jika sudah datang, Pak Adam diminta masuk ke kamar menemuinya. Hanya pak Adam, ya Mas," sambung suster sewa dengan tegas.


"Iya, Mbak. Aku paham, " sambut Reizvan mengangguk. Kemudian dipandangnya pak Adam dengan resah.


"Silahkan, Pak Adam." Reizvan meminta pak Adam agar segera menjumpai ayahnya. Sedang suster sewa itu berlalu cepat dengan membawa sebuah termos kecil menuju ke arah dapur umum. Akan mengisinya dengan air panas di sana.


Ardhita dan Reizvan saling pandang sesaat. Sama-sama sedang menduga, kenapa pak Irawan hanya memanggil pak Adam saja untuk masuk.


Mereka sama-sama berpaling dan mengalihkan pandangan, kepala mereka sedang menduga pada dugaan yang sama. Bahwa pak Irawan sedang meminta agar pak Adam menikahkan putrinya dengan anak lelakinya. Rasanya sungguh sama-sama canggung dan bingung.


"Duduk dulu di bangku itu, Dit," ucap Reizvan sambil menunjuk bangku kosong di samping pintu kamar pak Irawan. Merasa tidak baik jika terus saja saling diam.


Namun, Ardhita tidak menyahut, tetapi menggeser kaki mendekati bangku dan duduk menghempas pantat di sana. Reizvan hanya mengikuti dengan pandangan matanya, lalu kembali berjalan bolak- balik tampak gundah di sepanjang teras kamar sang ayah. Menit pun berlalu, hingga habis belasan menit, dan menjadi puluhan menit menunggu pak Adam yang muncul kemudian.


Ceklerk!


Pak Adam berjalan tergesa keluar dari kamar. Wajah tua itu tampak bimbang dan tegang. Pandangannya redup dan iba menatap Adhita dengan sorot matanya yang sayang.


"Bagaimana, Pak?" tanya Reizvan menyongsong. Pak Adam berganti memandang tajam pada Reizvan. Bibirnya bergerak-gerak kecil, seolah sangat sulit untuk mulai berbicara.


"Ayah, bagaimana?" tegur Ardhita yang juga merasa tidak sabar. Pak Adam menatap mereka berdua bergantian.


"Kurasa kalian pun sudah mendengarnya. Ayah tinggal mengulangi permintaan pak Irawan pada kalian, kalian berdua menikahlah."


"Ardhita, seperti yang diminta Papamu, Ayah akan menikahkan kamu dengan Mas Reizvan secepatnya, saat ini juga," ucap pak Adam dengan lirih dan lama, merasa sangat susah bersuara dan menyampaikan.


Ardhita dan Reizvan kembali menoleh dan saling memandang bersamaan. Kendati sudah tahu sebelum ini dari pak Irawan secara langsung, rasanya kembali sangat shock dan terkejut. Mendengarnya lagi dari orang lain yang juga sangat disayangi, seperti dua palu godam yang menghentak jantung di dada masing-masing.

__ADS_1


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


__ADS_2