
Reizvan menatap tajam sang kekasih. Sangat kecewa, tidak menyangka saat Irvoni justru memberinya pilihan yang sulit.
Merasa wanita tambatan hati hanya berniat mempermainkan perasaannya selama ini. Menganggap remeh akan niat tulusnya menikahi. Namun, sangat berat jika harus melepas Irvoni, seperti permintaan sang ayah sebelumnya.
"Bagaimana bisa kamu memberikan usulan sesulit itu? Kamu pikir menikah itu hanyalah bermain yang mudah?" Reizvan menatap kekasihnya serius.
"Apa sulitnya? Mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tidak siap. Aku masih ingin menikmati popularitasku saat ini. Tidak mudah menggapainya. Aku tidak rela, disaat kucapai, tetapi justru kutinggalkan," sahut Irvoni mengeluh.
"Aku tidak mengatakan agar kamu tinggalkan apa yang sudah menjadi kesukaan kamu. Penggemarmu tidak akan menjauh hanya karena kamu menikah. Ayolah, pikirkan dulu permintaan ayahku ini, Irvoni," bujuk Reizvan. Namun, Irvoni kembali menggeleng dengan tegas.
Reizvan terdiam, mengamati kekasih tercinta dengan perasaan resah, kesal, sekaligus iba. Rasanya memang jadi serba salah. Andai bukan demi sang ayah, Reizvan juga tidak ingin mendesak Irvoni untuk bersedia menikah cepat. Sangat paham bagaimana perjuangan Irvoni mencapai puncak kariernya.
Diliriknya Ardhita, gadis berkerudung itu buru-buru menunduk. Menyibuk dengan ponselnya. Reizvan tahu jika gadis itu hanyalah pura-pura, Ardhita ingin menghindari pemandangan yang tidak nyaman baginya. Namun, telinga di balik kerudung itu pasti menyimak perbincangannya dengan Irvoni.
"Lebih baik bujuk lagi papamu. Bagaimana jika mencoba menawar untuk mengundur setidaknya dua tahun saja, Mas?" tanya Irvoni mencoba merayu.
"Sebelum sakit pun, papa sudah sering meminta agar aku segera melamar kamu. Apalagi saat sakit, papaku pasti lebih menekanku. Mengundur dua tahun itu terlalu lama, Irvoni," keluh Reizvan sangat suntuk.
"Lagipula umur kamu bukan remaja lagi, sudah dua puluh lima tahun. Itu adalah usia terbaik untuk wanita menikah, Von," sambung Reizvan membujuk.
"Tapi aku tidak siap. Ini terlalu buru-buru, aku belum ingin mempunyai anak, Yaaank," keluh Irvoni pada Reizvan dengan manja lagi.
"Kita bisa menunda untuk memiliki anak. Tidak selalu menikah itu akan segera hamil dan memiliki anak, Irvoni," bujuk lembut Reizvan.
"Aku tetap tidak bisa menikah sekarang. Namun, hanya kamu yang kuinginkan untuk menikahiku, bukan yang lain. Mas Reiz, tolong bersabarlah sebentar lagi," rayu Irvoni menghiba.
"Apa yang kamu kejar? Soal uang, aku sanggup menghidupi rumah tangga kita, juga anak-anak kita kelak. Untuk popularitas, yakinlah jika kepopuleranmu tidak lenyap setelah menikah denganku, Irvoni," ucap Reizvan kembali menegaskan.
__ADS_1
"Tidak kuragukan kemampuanmu mencukupi segala kebutuhanku, Mas. Tapi, semua itu tidak bisa membeli popularitasku," ucap Irvoni sendu dengam mata berkaca-kaca. Jika sudah seperti itu, Reizvan sudah tidak ada keinginan lagi mendesak.
Tiba-tiba ponsel dalam saku kemeja bergetar, itu pasti dari ayahnya di rumah sakit. Reizvan bahkan belum berjumpa dengan pak Irawan yang masih dalam terapi. Mungkin papanya akan marah besar jika tahu dirinya telah menjumpai Irvoni di kotanya.
"Sekali lagi cobalah tawar papamu agar pernikahan kita diundur. Sekarang, aku ingin kembali berkumpul dengan teman-teman kerjaku, Mas. Mereka sedang sangat menunggu. Ada project baru untukku, kami harus segera membuatnya," terang Irvoni tiba-tiba.
Gayung pun tersambut. Ingin mengakhiri perbincangan tanpa ujung dan lebih baik pamit pulang, terpaksa ditahan sebab menjaga perasaan kekasihnya. Tidak disangka justru Irvoni sendirilah yang mengakhiri perjumpaan.
"Kamu tidak menghabiskan makanmu dulu, Von?" tanya Reizvan saat menyadari jika makanan di meja masih utuh. Merasa bersalah melupakan hal penting itu.
"Tidak selera," sahut Irvoni lirih sambil berdiri.
"Tunggu, akan kuminta menu baru untuk dipacking. Kamu bawa pulang, Irvoni," ucap Reizvan berharap Irvoni menunggu.
Lelaki gagah itu tergesa menghampiri seorang pelayan yang nampak longgar dan berdiri tanpa tanggungan. Reizvan membuat pemesanan dan meminta cepat dilayani. Pegawai itu segera berlalu untuk menyiapkan pesanan Khaisan.
Irvoni berlalu pergi setelah menerima paket makanan dengan wajah bertekuk. Namun, masih membalas salam yang sempat diserukan Reizvan untuknya.
"Habiskan makanmu, Ardhita. Setelah itu kita pulang," ucap Reizvan tanpa senyum saat mendapati Ardhita sedang mendongak menatapnya.
"Iya, Mas," sambut Ardhita menuruti.
Segera diambil sendok garpu untuk melanjutkan makannya kembali. Begitu juga dengan Reizvan yang tengah memulai makan tanpa ada sepatah kata pun meluncur. Nampak sangat jika resah dan runsing itu sedang menggantung berat di wajah tampannya.
"Maaf, Dit. Ucapan Irvoni tadi pasti membuatmu tidak nyaman. Lupakanlah dan jangan resah, hal itu tidak akan terjadi." Reizvan merasa iba dan segan, sikap Ardhita terlihat kian canggung dan tegang.
"Iya, Mas. Terima kasih," sahut Ardhita tersenyum tipis dan mengangguk.
__ADS_1
"Apa makanan kesukaan ayah kamu, Dit?" tanya Reizvan mengalihkan kecanggungan.
"Ulat sagu ditumis, Mas," sahut Ardhita cepat tanpa mengingat. Sangat hapal di luar kepala apa makanan terfavorite sang ayah. Namun, makanan kesukaan pak Adam itu cukup susah didapat.
"Apa kamu juga suka?" tanya Reizvan dengan tersenyum samar. Merasa tertantang untuk membahas bahan pangan yang baru disebut Ardhita.
"Tidak, tentu saja tidak. Bukan tidak suka, tapi nggak doyan aku, Mas. Namun, aku bisa tidak jijik dan mual. Padahal aku pasti histeris, bahkan bisa pingsan jika bertemu ulat ataupun belatung," terang Ardhita. Ada ekspresi ngeri di wajah cantiknya.
"Ular?" Reizvan merasa tertarik.
"Ular, aku tidak jijik. Tapi takut, sama status dengan binatang galak lainnya. Kayak harimau, singa, juga gorila ... aku hanya takut," terang Ardhita.
"Bukankah ulat sagu juga hampir sama dengan belatung?" tanya Reizvan.
"Iya, tapi ingat itu kesukaan ayahku, juga sudah sering melihat ayah memakannya dengan tampak lezat, aku jadi tidak mual dan merasa tidak jijik. Tapi, juga tidak ingin sama sekali mencobanya," terang Ardhita dengan tersenyum.
"Mas Reizvan sendiri, suka makanan apa? Atau jangan-jangan juga suka ulat sagu?" selidik Ardhita curiga. Pria tampan itu tersenyum lebar.
"Di Jakarta susah lagi dapat ulat sagu, Dit. Sepertinya aku juga sama denganmu, tidak jijik dan tidak bisa makan." Reizvan menghentikan gerak sendoknya. Makanan di piring miliknya sudah kosong. Kini mengambil gelas dan diminumnya.
Tiba-tiba terdengar getar ponsel, lagi-lagi milik Reizvan. Lelaki itu sedang berbicara serius dengan seseorang yang menelepon. Ardhita tahu jika perbincangan itu mengenai kondisi pak Irawan.
Reizvan telah selesai berbicara dan kini memandangnya. "Dit, apa kamu sudah kenyang? Papa memanggilku. Aku akan segera menemuinya. Apa kamu ingin pulang, atau ikut aku dulu menjumpai papa?" tanya Reizvan. Melihat jika Ardhita pun sudah berhenti makan sedari tadi.
"Aku sudah kenyang, Mas. Sebaiknya aku ikut saja sambil menjenguk pak Irawan. Sudah lama tidak sowan beliau. Ayah Adam tidak mengajakku tadi, ayah buru-buru," terang Ardhita.
"Bagus, Dit. Jika begitu, ayo kita pergi," ucap Reizvan sambil berdiri.
__ADS_1
Ardhita pun berdiri dan berjalan ke teras restoran. Menunggu Reizvan yang sedang menjumpai kasir untuk melunasi tagihan di meja mereka. Perasaannya tidak enak saat mengingat kesehatan pak Irawan yang terdengar sedang dalam kondisi tidak aman.
πΈπΈπππΈπΈ