
Reizvan baru saja menutup panggilan video call bersama kekasihnya, Irvoni. Meski sempat memberi usul agar menikahi Ardhita, nyatanya tetap shock saat Reizvan mengabarkan status yang terbaru. Irvoni mengomel dan tidak terima dengan keputusan Reizvan yang menikahi Ardhita begitu cepat tanpa meminta izin lagi.
Video call itu terpaksa diakhirinya setelah lelah membujuk Irvoni dari tangis dan amarah. Yang padahal bukan sama sekali salahnya. Namun, resiko Irvoni yang tidak peduli pada niat Reizvan melamar dan menikahinya. Juga akibat keegoisan Irvoni sendiri yang terus menolak niat baik lelakinya selama ini.
Tok! Tok! Tok!
Segera dihampiri pintu kamar yang sebenarnya tidak sempat terkunci. Menduga barangkali Ardhita memerlukan sesuatu.
Ceklerk. Ternyata bukanlah gadis itu.
"Ada apa, Mak Tin?" Reizvan memandang heran pada pembantu rumah yang tampak gelisah.
"Ada yang nunggu, Mas. Di ruang tamu ada pak Adam, ayahnya mbak Ardhita, Mas," ucap wanita gemuk itu buru-buru.
"Ada apa, Mak Tin?" tanya Reizvan tanpa menunggu jawaban. Sebab, lelaki tampah berkulit cerah dengan alis tebal lurus itu sudah berjalan cepat menuju tangga dan menuruninya tergesa.
"Pak Adam?!" sapa Reizvan terkejut saat mendapati ayah Ardhita tengah duduk resah di ruang tamu rumah ini.
"Mas Reiz, maaf jika ini sangat malam," sapa pak Adam sambil cepat berdiri.
Pria itu mengulurkan tangan untuk bersapa lebih sopan lagi pada tuan muda rumah itu. Sebenarnya, pak Adam masih serasa tak percaya jika Reizvan sudah sebagai anak menantu. Dalam benaknya, masih saja sebagai putra dari tuan besar di proyek.
"Maaf, Pak Adam, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Reizvan merasa waswas.
"Tidak, Mas. Ini, tadi Adit nelpon bapak sambil nangis. Katanya nggak punya baju ganti, nggak bisa tidur katanya, Mas," ucap pak Adam sambil menyodorkan ransel gunung jumbo pada Reizvan.
"Ini baju-baju dari almarinya. Kupilihkan yang sekiranya dia suka. Tolong berikan Ardhita, ya Mas," ucap pak Adam. Nada suara tuanya terdengar berlenggok. Lelaki itu menyimpan rasa sedihnya yang dalam.
Reizvan tidak menyahut. Hatinya terkedu sambil menerima ransel penuh baju. Pak Adam tampak menunduk, rupanya telah menangis. Hal itu membuat Reizoan merasa tidak enak dan lalai. Merasa menjadi lelaki yang tidak peduli pada sumpah dan janjinya sore tadi di acara akad nikah di hadapan pak Adam.
"Pak Adam, maafkan aku. Tolong jangan bersedih, aku berjanji untuk hal-hal seperti ini tidak akan pernah terulang lagi. Sekali lagi, aku minta maaf, Pak Adam," ucap Reizvan dengan sopan dan segan. Bagaimana pun, pak Adam adalah bapak mertua yang terhormat.
__ADS_1
"Ayah?!" seru suara lembut menyapa jelas di malam larut itu.
Tak Tak Tak Tak Tak
Ardhita menuruni tangga dengan laju, memburu pak Adam dengan sangat tidak sabar. Dirangkulnya sang ayah dengan sangat erat dan rapat.
"Ayah sudah datang? Maaf merepotkanmu," ucap Ardhita. Bahunya telah berguncang dengan suara isakan yang terdengar. Tangis sedih dan haru tidak sanggup lagi ditahan.
"Tidak, Dit. Jarak rumah kita dengan rumah ini hanya lima belas menit. Bahkan jika malam seperti ini, Ayah bisa menempuh sepuluh menit saja. Jadi ini sama sekali tidak masalah. Itu tas kamu, Ayah hanya asal memasukkan sembarang baju, kerudung dan β¦ baju dalam kamu. Ayah harap kamu tidak kecewa dengan pilihan Ayah pada bajumu dari alamari itu."
Pak Adam menepuk-nepuk lembut punggung Ardhita yang masih terasa guncang tangisannya. Perlahan direnggangkan anak gadis yang sudah jadi istri orang itu dari memeluknya.
Pak Adam memandangi Adit dengan baju yang masih sama dengan yang dipakainya siang tadi. Rasanya trenyuh dan sedih sekali. Sekuat hati ditahan tangisnya untuk tidak menumpah lagi.
"Dit, Ayah akan pulang. Ayah ragu, tadi pintunya sudah kukunci apa belum. Lupa, Dit," ucap pak Adam berusaha tegas. Berusaha yakin jika anak perempuannya pasti akan menemui bahagia di rumah suaminya.
"Iya, Ayah. Terimakasih ya, Yah," ucap Ardhita mengangguk dan memaksa tersenyum. Lalu disalamnya sang ayah dan diciumnya tangan itu.
"Iya, Ayah," sahut Ardhita mengangguk dan melirik Reizvan yang juga sedang menatap tegang padanya.
Pak Adam pun berpamitan pada Reizvan dan menyapa mak Tin yang ikut berdiri dan melihat. Menuju ke mobil proyek yang disandar di luar gerbang. Pak Adam meluncur setelah melambai tangan pada anak dan menantu yang mengantar hingga di batas luar gerbang.
Ardhita meninggalkan Reizvan dan berjalan cepat meniti tangga dan menuju ke dalam kamarnya. Namun, kembali keluar beberapa detik kemudian.
"Mas!" Ardhita terpekik kaget saat hampir menubruk Reizvan di depan kamarnya.
"Kenapa keluar lagi β¦ kamu mau ngambil ini?" Reizvan menunjuk tas ransel jumbo di sebelah tangannya.
"Iya," sahut Ardhita sambil mengangguk. Reizvan tidak memberikan tas itu, tetapi justru disangkut di pundaknya.
"Sini," ucap Reizvan sambil menyambar tangan Ardhita dan ditariknya kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Didudukkan Ardhita di ranjang, lalu ditariknya kursi dari meja rias untuk dirinya. Reizvan duduk di depan Ardhita sangat dekat.
"Dit, kenapa kamu tidak bilang tentang baju yang kamu tidak punya ganti?" tanya Reizvan dengan pelan dan tegas. Ardhita terdiam, merasa agak gentar dengan sikap Reizvan yang serius.
"Aku segan," sahut Ardhita menunduk. Reizvan meraup wajahnya beberapa kali.
"Sudah kubilang, jika ada apa-apa katakan dulu padaku. Jangan pada yang lain, sekalipun itu ayah kandungmu sendiri," ucap Reizvan kian tegas.
"Aku paham, Mas Reiz. Maafkan, aku. Sebenarnya juga sebab aku rindu dengan rumahku, juga rindu dengan ayahku. Meski aku terbiasa jauh saat kuliah. Namun, kali ini aku merasa sangat sedih, sebenarnya aku sangat ingin pulang," terang Ardhita dengan ekspresi yang semakin mendung.
"Baiklah, Dit. Aku memaklumi, aku juga minta maaf padamu. Ini, gantilah bajumu. Apa kamu sudah mandi?" tanya Reizvan lembut perhatian.
"Belum, sebab bingung baju ganti. Sekarang mau mandi," sahut Ardhita sangat kikuk, Reizvan duduk begitu dekat di depannya. Bahkan kedua lutut mereka hampir saja saling adu bersentuhan.
"Tapi ini sudah sangat malam, Dit. Sebaiknya tidak usah mandi," saran Reizvan sungguh-sungguh.
"Sebentar saja kok, Mas. Panas banget, rasanya sudah tahunan tidak mandi. Gerah," sahut Ardhita. Wajah cantiknya mulai cerah lagi.
"Kamu mandi saja di kamarku, Dit. Ada air hangat yang bagus kamu pakai jam segini. Di kamar mandimu itu, fungsi panasnya sedang rusak." Reizvan berbicara sambil berdiri. Menjauhkan kursi dengan sebelah kaki mendorong ke belakang.
Ardhita tidak sempat berkata apapun saat lelaki itu menyambar cepat tangannya dan menarik ke kamarnya di sebelah. Tidak singgah di mana-mana, dia langsung saja dimasukkan ke dalam kamar mandi oleh Reizvan.
πΈπΈπππΈπΈ
Terimakasih dukungan kakak readers tanpa bosan. Tolong terus dukung yaa...
Kebijakan baru untuk penulis di platform Noveltoon sangat meresahkan. Apa lagi penulis kaleng-kaleng sepertiku.
Jika karya ini tidak memenuhi syarat di 20 bab pertama, mungkin akan kubawa hengkang tetapi entah ke mana..π€£π€£π€£
Terima kasih segala dukungan dan aktifmu ya... ππππ
__ADS_1