Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
09. Masing-Masing


__ADS_3

Ucapan Ardhita itu membuat perasaan Reizvan tersentil. Meski terkesan asal dan tidak sungguh-sungguh, yang dikatakan gadis itu memang tepat sekali.


"Benar kamu, Dit. Ya ... ya ... kamu di sini sebab ikut denganku, bukan ikut papaku." Reizvan pun menimpali. Mereka berdua saling pandang sesaat yang kemudian sama-sama lebar tersenyum.


Dua insan yang sudah sah diikat dan saling halal itu menunduk, memegang sendok di piring masing-masing. Mencoba fokus dengan tugas mereka menghabiskan. Sadar jika malam mulai larut.


Mendadak dering telepon terdengar dan ternyata milik Reizvan. Belum sempat diangkat, tiba-tiba ponsel milik Ardhita juga berbunyi nyaring tidak ingin kalah dering.


Mereka pun sama-sama mengangkat ponsel dan menyambut berbicara. Keduanya sedang berbicara serius di telepon dengan sama-sama saling memandang.


Kebetulan pun, mereka berdua hampir sama-sama mengakhiri panggilan. Ardhita telah selesai berbicara, sedang Reizvan terdengar menjanjikan sebuah panggilan balik setelahnya. Mungkin lelaki itu belum puas berbincang.


"Dari siapa, Dit?" tanya Reizvan tanpa bermaksud apapun. Hanya ingin mencairkan suasan kaku seusai panghilan.


"Dari mantan dosenku, Mas." Ardhita menjawab cepat tanpa memandang Reizvan. Tangan dan mata bening itu seperti dipaksa sibuk dengan isi dalam piring yang belum dihabiskannya.


"Handito?" tanya Reizvan tersenyum. Ardhita mendongak, terlihat salah tingkah dengan pertanyaannya. Tetapi kemudian mengangguk juga.


"Mas Reiz, dapat panggilan dari siapa? Mbak Irvoni, yaa?" tanya Ardhita ganti menebak.


"Betul, Dit," jawab Reizvan tampak segan.


Mereka berdua terdiam dengan saling pandang, bibir manis Ardhita terbit senyum yang tipis. Begitu juga dengan Reizvan yang ikut tersenyum, keduanya telah sama-sama tersenyum sangat lebar. Gadis berkerudung modis itu kembali menunduk pada sendok dan piring.

__ADS_1


"Tidak masalah ya, Dit. Kita jalani saja, kamu dengan urusanmu, aku juga dengan urusanku," ucap Reizvan setelah merasa puas tersenyum, rasa segan telah berubah menjadi lega.


Ardhita kembali mendongak, menatap Reizvan dengan agak bingung, tetapi sekali lagi akhirnya mengangguk.


"Iya mas, aku mengerti. Terima kasih juga kelonggaran dan pengertianmu," sahut gadis cantik itu dengan lembut. Mereka melanjutkan makan kembali. Meja makan itu terasa lengang sejenak.


"Dit," panggil Reizvan. Ardhita kembali memandang.


"Ada apa?" tanyanya.


"Meskipun kita memiliki urusan masing-masing, tetapi status kamu di catatan adalah istriku," ucap Reizvan tampak serius.


"Lalu kenapa?" kejar Ardhita.


"Aku punya tanggung jawab sama kamu. Jadi, jika ada apa-apa kesulitan, kamu wajib bilang padaku. Juga saat kamu akan pergi ke mana-mana, kamu wajib juga izin padaku. Apa kamu keberatan? Kamu paham, Dit?" tanya Reizvan hati-hati, tidak ingin membuat perasaan Ardhita jadi tertekan.


"Iya, Dit. Tidak akan," sahut Reizvan kembali melemparkan senyum hangatnya. Ardhita pun tersenyum membalas.


Meja makan kembali lengang tanpa obrolan. Keduanya telah tenggelam ke dalam isi piring dan karam bersama serabut isi kepala masing-masing.


πŸ•Έ


Ardhita dan Reizvan baru keluar dari kamar pak Irawan yang ternyata sudah tidur sangat pulas. Hanya berbincang sebentar dengan suster yang mengatakan jika papanya baru saja tertidur setelah meminum obat. Rasanya sudah lega, merasa puas tersendiri telah menyempatkan melihat sang ayah.

__ADS_1


"Kamu tidurlah, Dit." Reizvan memandang Ardhita yang seketika tampak kikuk.


"Apa di lantai satu nggak ada kamar, Mas?" tanya Ardhita terdengar galau.


"Ada, tetapi kamarku di lantai dua. Jika kamu di lantai satu, papa akan lebih mudah tahu jika kita tidak sekamar," ucap Reizvan dengan lembut.


"Iya, Mas. Aku paham." Ardhita pun mengangguk.


Mereka berdua melangkah beriringan, Ardhita mengikuti Reizvan menaiki tangga menuju kamar mereka masing-masing di lantai dua.


"Dit, itu kamarku. Kita bersebelahan. Jika ada apa-apa ketuk saja pintunya. Jika lama tidak kubuka, langsung masuk saja. Tidurku itu melebihi ular kenyang, terobos saja, kamarku tidak pernah terkunci." Reizvan berbicara di depan pintu salah satu kamar yang berjajar.


"Iya ...," sahut Ardhita tersenyum. Berpikir mana mungkin berkelakuan tidak sopan seperti pesan konyol Reizvan.


"Masuk dan tidurlah, Dit. Sekali lagi maafkan aku, tak sanggup menolak permintaan papa. Tetapi kamu jangan sedih, kamu harus tetap tersenyum dan bahagia dengan masa depan yang kamu inginkan," ucap Reizvan sungguh-sungguh. Pintu kamar itu telah dibukanya lebar-lebar.


"Iya, mas. Semua sudah terlanjur. Terima kasih pengertianmu. Permisi ya Mas ...."


Ardhita melewati Reizvan tanpa memandang ataupun tersenyum. Juga tidak terlihat sosok dan wajahnya saat pintu didorong dan ditutup. Gadis itu huru-buru menepi di balik pintu. Reizvan segera menuju pintu di sebelahnya setelah sadar dari sekian detik tertegunnya.


Surabaya malam ini panas sekali, Ardhita baru menyadari jika tidak memiliki baju ganti. Hanya pakaian yang melekat di badan dan telah dipakai hampir seharian. Kerudung pun sama kasus dengan baju dan dalaman. Ah, Ardhita merasa galau yang sangat, ingin pulang dan kembali di rumah sang ayah saja inginnya.


Berjalan hilir mudik, bolak-balik, dan mondar-mandir berkeliling kamar sudah puas dan lelah dilakukan. Kian gerah saja rasa di badan. Sedang jam masih menunjuk pukul sebelas malam, menunggu datangnya besok tentu saja sangat lama.

__ADS_1


Rasanya sungguh merana dan nelangsa. Tiba-tiba harus berpindah dan menginap di tempat baru tanpa ingat untuk bersiap apapun. Tidak mengingat sama sekali akan kepentingan dan kebutuhan pribadi. Ardhita merasa menjadi perempuan bodoh dan lalai.


πŸ“πŸ•ΈπŸŽπŸ•ΈπŸ“


__ADS_2