Genggam Hatiku Milikilah Aku

Genggam Hatiku Milikilah Aku
18. Sengaja?


__ADS_3

Sayub adzan subuh berkumandang dari mushola keluarga pak Irawan. Menembusi kamar sang putra keluarga di lantai dua rumah itu. Mengetuk gendang telinga penghuni baru di dalamnya.


Kesadaran Ardhita kembali dengan rasa yang amat berat di bagian perut. Perlahan membuka mata dan menyadari apa yang sedang menimpa dirinya. Seperti yang sudah disangka, tentu saja itu adalah polah dari teman ranjangnya yang baru.


Rasa mengantuk benar-benar lenyap berganti dengan detak laju di dadanya. Seperti tidak percaya jika polah Reizvan padanya itu tidak sengaja. Bagaimana tidak, lelaki yang dari semalam memang tidak berselimut, tetapi masih berbaju lengkap, seperti sengaja menyelip tangan dan meletak di atas perut rata Ardhita.


Selimut Ardhita masih sangat rapi seperti saat pergi tidur. Sebatas leher dan tidak bergeser sedikit pun. Namun, hanya satu yang berubah, tambahan tangan besar Reizvan yang menyelip ke perut di balik selimut. Sepertinya sah-sah saja andai berburuk sangka jika lelaki itu sengaja telah menyelip tangan di perutnya.


Meski waswas dan berdebar, bukan hal sulit menyingkirkan tangan besar lelaki itu. Kelelapan tidurnya tidak berkurang sama sekali saat Ardhita menghempas tangan beratnya. Wajah tampan memejam dan kini telah miring menghadapnya, tetap saja terlihat tenang dan damai. Reizvan tidak terusik sedikit pun.


Memandang lelaki yang tidur pulas seolah tanpa dosa itu membuatnya hanyut. Terpaku pada wajah tegas dan tampan yang berambut hitam dan lebat. Jelmaan dari sosok kakak yang selama ini dianggapnya perempuan, ternyata adalah lelaki semenawan itu.


Tidak diduga, tiba-tiba menjadi suami dan istri. Bisa saja ini adalah berkah dariNya yang mengejutkan. Ardhita bukan susah berusaha menerima Reizvan dengan ikhlas. Hanya sayang sekali, ada benteng tinggi yang menghalang, yakni Irvoni.


Ardhita yang kemudian akan bangun, sangatlah terkejut. Merasa rambutnya tertahan dan kepalanya tersangkut. Ditelitinya buru-buru, ternyata tangan sebelah Reizvan telah menggenggam ujung rambutnya. Begitu rapi menyelip di hawah selimut dan tidak terlihat. Bersit sangka jika Reizvan sengaja melakukan itu kembali berkelebat.


Setelah membebaskan rambutnya dari jari-jari besar dengan sedikit susah, Ardhita mandi air hangat dan menunaikan subuhnya. Lelaki yang hampir menguasai ranjang itu dibiarkan saja sejenak. Tidak ingin dalam situasi kikuk di pagi buta dan dingin.


"Mas ... Mas Reizvan ...," ucap Ardhita memanggil dengan ragu. Was-was andai lelaki itu bersikap menyakitkan saat bangun, seperti waktu itu.


"Mas ...!" Ardhita kembali membangunkan dengan sebuah guling. Seperti waktu itu, lelaki itu terbangun dan cepat duduk saat guling memukul kakinya.


"Mas, aku adalah Ardhita .... Aku Ardhita, Mas ...." Ardhita menerangkan buru-buru, tidak ingin andai lelaki yang ingin dipercayai itu kembali bersikap mengecewakan.


"Iya aku tahu. Memang kenapa, Dit?" tanya Reizvan bingung menatap Ardhita.

__ADS_1


"Sudah subuh, Mas. Tumben papa tidak ngajakin kita jamaah," ucap Ardhita dengan rasa leganya. Reizvan telah bersikap jauh lebih manis. Bahkan tidak lagi bicara, lelaki itu berjalan cepat sambil menyambar handuk mininya ke dalam kamar mandi. Bathrobe tidak dibawanya.


Ardhita kembali berdebar melihatnya. Menduga jika Reizvan pasti akan berhanduk mini saja saat keluar dari kamar mandi. Jujur saja rasanya resah dan risih sekali.


Pancuran hangat dari shower telah terhenti beberapa detik lalu. Reizvan sedang membalut harga dirinya hanya dengan selembar kecil handuk putih. Memahami jika itu bukan kesalahan apalagi sebuah dosa. Merasa juga jadi tantangan tersendiri dengan bersikap apa adanya di depan Ardhita.


Seperti prasangkanya, gadis tidak genit itu akan berpaling saat melihatnya. Ardhita bukanlah Irvoni yang terlalu sering menggoda. Sama juga dirinya, tidak terlalu menyiakan kesempatan yang dilempar sang kekasih meski sekadar saling sentuh sejenak.


Reizvan yang berpakaian di depan pintu almari, merasa sopan dan berbuat benar dengan membelakangi punggung Ardhita. Merasa aman sebab gadis itu tidak memandang.


Namun, tetap tidak untuk Ardhita, gadis itu kemudian menunduk setelah tidak sengaja memandang kaca jendela yang ada pantulan sosok dan gerak Reizvan di sana. Merasa ini tidak benar serta tidak boleh dibiarkan, harus ada batasan dan etikanya.


"Ehem!" Ardhita berdehem.


"Bentar dulu, aku ingin bicara sangat penting denganmu, Mas!" sergah Ardhita tergesa.


"Penting? Apa itu, adikku?" tanya Reizvan dengan duduk tepat di depan Ardhita.


"Emm ... anu, maaf ya, Mas. Sebaiknya itu, Mas Reizvan kalo habis mandi pakai saja baju di kamar mandi. Atau pakailah handuk yang bener, jangan pakai handuk yang buat lap keringet seperti kebiasaanmu," ucap Ardhita tegas meskipun dengan perasaan yang segan.


Reizvan yang sebenarnya terkejut, menampakkan senyum tipisnya. Merasa suka telah mendapat respon apapun dari gadis itu. Tentu saja tidak ada niat untuk menuruti saran pintanya. Reizvan justru kian penasaran sebatas mana ketahanan serta kesabaran Ardhita.


"Apa jika aku seperti itu adalah dosa, Dit?" tanya Reizvan dengan memasang mimik wajah serius.


"Memang bukan dosa, tetapi ya jangan seperti itu, Mas. Please ...." Ardhita hingga memohon pada lelaki partner kamar tidurnya itu.

__ADS_1


"Ardhita, kamu pun tahu kan, itu bukan dosa. Sedang kamu dan aku itu posisinya sama. Jadi, biar adil, kamu pun boleh memakai handuk yang sama sepertiku. Bagaimana, kamu setuju, Dit?" tanya Reizvan tersenyum dengan jahil.


"Hah ... kamu ini, Mas!" Ardhita terlihat kikuk meski juga merasa kesal. Tidak lagi ingin membahas hal itu.


"Aku hanya bercanda, Ardhita. Tetapi untuk permintaanmu, itu agak susah bagiku, itu sudah kebiasaan. Jangan kasih aku presure dong, Dit. Tolong kamu saja yang belajar menerima kebiasaanku. Kan kita sudah sepakat agar pernikahan ini tidak membuat kita tertekan. Setuju nggak, Dit?" Reizvan masih tersenyum.


"Aku bukan menekanmu, Mas. Itu kan nggak adil .... Tapi sudahlah, anggep saja sekarang itu nggak penting." Ardhita memandang Reizvan. Ada ekspresi menyerah dan mengalah di wajah cantiknya.


"Mas, aku lupa ngabarin kamu. Besok aku wisuda, jadi nanti sore aku akan ke Malang. Aku berangkat nanti biar besok pas dandan nggak lambat ," ucap Ardhita dengan pandangan berbinar.


"Pak Adam ikut?" tanya Reizvan menebak. Gadis itu menggeleng pelan.


"Ayah sibuk. Nanti kuminta ibu saja dampingi aku," sahut Ardhita dengan gamang. Ibu kandung Ardhita dengan suami baru, tinggal kembali di Malang.


"Lalu, apa kamu mau berangkat bareng dosen kamu?" tebak Reizvan akan ekspresi Ardhita yang tadi tampak sumringah .


"Kok, tahu? Awalnya aku mau pesen kereta, tetapi pak Dito ngajakin bareng. Jadi keretanya nggak ngambil tiket. Maaf, nggak izin dulu," sahut Ardhita dengan raut yang segan, menyadari mungkin saja sikapnya salah.


"Ngapain dosen kamu berangkat buru-buru kayak kamu? Emang dia perlu dandan lama juga?" Reizvan menatap bingung penuh selidik.


"Katanya dia mau istirahat dulu di vilanya," sahut Ardhita. Gadis itu telah selesai merapikan isi ransel.


Reizvan memandang ransel itu dengan lama. Keinginan agar Ardhita meletak isi ransel ke dalam lemari mendadak urung. Ditatapnya wajah cantik pagi itu dengan isi kepala yang tiba-tiba berserabut.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ

__ADS_1


__ADS_2