
Willa gadis SMP yang sebentar lagi akan menjadi gadis SMA hari ini adalah hari pengumuman hasil ujiannya dan hari pemberitahuan kelulusannya.
Willa dia seorang gadis yang terlihat cupu rambutnya di ikat rendah penampilan rapi namun kalo di antara remaja ia terlihat tidak gaul ketinggalan jaman kaus kakinya pun hampir selutut sehingga meski roknya di angkat kaki mulusnya pun tak terlihat berbeda dengan remaja yang lain mengenakan kaus kaki namun hanya terlihat ujungnya dan terkadang seperti tidak memakai kaus kaki.namun di balik penampilan cupunya dia adalah murit pintar seangkatan.
"Jantungku berdebar kencang sha..." Willa bicara sambil terlihat antusias pada temannya.
"Yah aku juga tidak sabar..." Ucap Shakila teman sejak SD Willa.
"Kalian ini pintar jadi kemungkinan kalian lulus itu besar seperi gunung dan lihat bagaimana dengan aku ini aku tidak pintar dan kalian tau aku menjawab soalku seperti menjawab Omelan ibuku hanya semampuku saja." Salah satu teman sekelas mereka menimpali percakapan dua gadis di belakang mejanya.
"Mika kamu itu pintar loh santai saja" Willa mencoba menenagkan kekawatiran sahabatnya.
"Hai illa bagaimana aku bisa tenang kalo ada nilai yang buruk dalam ujian ini aku takut aku tidak lulus." Teman Willa dan Shakila tak berhenti mengoceh.
"Dan apa kalian tau semua contekan yang aku bawa tidak keluar sialan." Teman yang di samping meja Willa pun menimpali.
"Itu azab untukmu Tar karena selama ini kamu sering menyontek." Sindiran khas anak muda di lontarkan Shakila pada Tara temanya.
__ADS_1
"Mau gimana lagi sha ini jalan satu-satunya bagi orang yang kurang otak seperti aku." Tara tak henti-henti meratap i nasibnya.
"Cie ada orang yang nyadar diri nii.." sindir Brian yang langsung ikut percakapan gadis-gadis.
"Apaan sih bri! Emang lo bisa jawab semua soal ujian?" Tanya Tara dengan nada menantang pada Brian.
"Tentu saja akuuuuu tidak bisa nyontek gilaaa kalian tau gak!? Semua contekan buatanku keluar eh yang ngawasin kek CCTV kagak kedip" Brian mengeluhkan deritanya pada teman-temannya.
"Bener nggak kedip! Kek bukan manusiakan!? jangan-jangan Bu iska bukan manusia?" Sejak Brian bicara Willa Dan yang lain mencoba memberi kode.
"Eh Bu iska" sapa Brian gelagapan dia menjadi bahan lelucon kawan-kawannya.
"Tadi kamu bilang Bu iska kayak apa?" Tanya Bu iska sambil melotot tapi tetap tersenyum dia hanya menghibur murit-muritnya karena bisa dihitung ini adalah yang terakhir kali.
"Tadi Brian bilang Bu iska kayak bukan manusia abisnya Bu iska cantik banget kayak ibu gurunya bidadari." Brian sontak membuat teman-teman di kelas menahan tawanya.
"Ibu gurunya bidadari?" Bu iska menyeregit mendengar ucapan aneh muridnya.
__ADS_1
"Iya bu... Bu iska adalah sosok ibu pengajar yang mengajari bidadari-bidadari di sekolah ini yang di ajarin cantik-cantik apa lagi yang ngajarin." Goda Brian yang di sambut senyuman Bu iska.
"Bisa aja kamu Brian tapi Brian yang ibu ajar bukan hanya wanita cantik-cantik tapi ganteng loh." Ucap Bu iska duduk di kursi khusus guru.
"Maaf Bu Brian lupa jenis kaum Brian sendiri saat liat paras cantik Bu iska." Brian tak henti-hentinya menggoda Bu iska.
Memang Bu iska adalah guru yang cukup galak kalo sedang serius tapi bisa di ajak bercanda kalo waktu luang.
Bu iska terkenal di kalangan remaja putra berkat kecantikan yang dia miliki namun beberapa bulan yang lalu hati para remaja putra hancur karena Bu iska memutuskan menikah.
"Andai Bu iska nggak nikah pasti saya nikahin setelah lulus SMP." Canda Brian yang di selingin tawa murit-murit lain.
"Emang kamu mau nafkahi saya apa?" Tanya bu iska guyon.
"Pakek cinta buk." Sontak murit-murit pun berteriak girang khas anak remaja akibat ulah Brian dan Bu iska.
"Sudah-sudah semuanya hari ini mungkin hari terakhir kita berkumpul di SMP ini selanjutnya kalian bakal meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ibu iska harap semua murit ibu bisa mencapai cita-citanya dan membahagiakan orang tua masing-masing tapi jangan orang tuan tetangganya yang di bahagiakan loh ya..." Canda Bu iska.
__ADS_1