
"Hati ini ibu akan memberikan hasil ujian dan surat keterangan apakah kalian lulus atau tidak lulus." Murit-murit di kelas itu pun mulai berbisik-bisik merasa deg-degan.
Bu iska memangil satu persatu muritnya dam memberi mereka surat keterangan lulus dan hasil ujian.
Setelah pembagian telah usai kini saatnya mengumumkan juaranya.
Semua menebak-nebak pasti Willa menempati posisi pertama atau kedua. Sudah menjadi hal yang wajar kalo Willa menempati posisi itu.
Bu iska mengumumkan juara 3 dan 2 selanjutnya juara satu namun murit-murit sudah menduga juara 1 ialah Willa.
"Juara satuuu Brian!" Ucap Bu iska lantang tentu saja semua murit terkejut mendengarnya mereka berfikir mungkin data yang di masukan salah atau apalah.
"Yang bener buk?" Ucap Brian dengan wajah gembira namun wajah gembiranya lenyap saat mendengar kalimat lanjutan Bu iska.
"Juara satu dari belakang ya bri... Yang tabah ya..." Bu iska pun tertawa saat melihat muka kecewa Brian.
"Juara 1 tentu saja di tempati Willa kamu yang stupid ini jangan mimpi! Boleh mimpi asal kamu udah berjuang dulu jangan asal ada ulangan atau ujian cuman mengandalkan secarik kertas yang di selipkan di seluruh tubuh." Sindir Bu iska yang memang telah kenal betul kelakuan murit-murit remaja saat ini.
__ADS_1
Brian hanya bisa nyengir saja sedangkan teman temanya menertawakannya. Willa pun mengambil hadiah yang di siapkan Bu iska dan Bu iska menepati janjinya bila siapapun muritnya juara 1,2, dan 3 ibu iska bakal traktir bakso sepuasnya di kantin.
"Sekian pertemuan terakhir ini. Bu iska minta para murit ibu selalu sehat banyak-banyak belajar dan jangan lupa sama bapak ibu guru yang ada di SMP Lo kalok udah ada ibu bapak baru. Terutama kamu Brian nanti kalo ada guru cantik di SMA kamu kamu lupa ibu guru." Bu iska masih menggoda Brian untuk terakhir kalinya.
"Tenang buk nama ibuk ISKADAR PUTRI ANJELIKA akan selalu Ter patri di hati saya buk." Timpal Brian kepada Bu iska.
Sekolah pun berakhir semua murit bersalaman kepada guru mereka dan mengucapkan perpisahan pada teman-teman.
Setelah usai Willa yang harus menunggu ibunya menjemput hanya terdiam di parkiran sekolah.
Bilal Arion pria yang diam-diam di sukai Willa Seperti namanya Bilal (terpilih) Arion ( mempesona) dia tercipta untuk membuat gadis-gadis terpesona.
Arion tampak celingak-celinguk menatap kanan dan kiri Willa yang melihat itu hanya pura-pura tak melihat saat Rion mentapnya.
"Apa yang dia lakukan?" batin Willa dalam hati.
tanpa Sada dia berdiri di duduknya kakinya tiba-tiba enggan untuk tetap di tempat kaki nakalnya entah Willa nya yang memang ingin menyeretnya mengikuti Arion.
__ADS_1
"ishh apa yang sebenarnya aku lakukan?" Willa baru tersadar saat dia merasa tempat di mana dia berdiri sudah jauh dari parkiran sekolah.
"Oh astaga bagai mana ini..." Willa memukul-mukul kepalanya pelan merutuki kebodohan yang dia lakukan.
"Hanya karna cinta membuat tubuh mu bergerak sendiri illa?" Gumam Willa sambil menoleh kanan dan kiri dia nampak asing dengan tempat ini.
"Dan sekarang di mana rionku?" Willa menatap tempat yang di tuju Rion namun Rion telah hilang dari pandanannya.
Saat ini Willa berdiri di sebuah proyek gagal akibat permasalahan sengketa tanah yang di tempati mengakibatan gedung ini gagal menjulang menembus langit dan menyisakan kerangkai pilar dan atap sekaligus lantai satu dan di atas sama sekali tidak ada tembok maupun pilar.
Willa di kejutkan dengan pelukkan dari belakang dan kecupan di pipinya. Dia melepas tangan yang melingkar di perutnya dia berbalik menatap siapa yang memeluknya.
Terkejut itulah yang di alami ternyata yang memeluknya adalah Arion pria pujaannya.
Tak kalah terkejut dengan Willa Arion pun memasang muka terkejut.
"Oh astaga maaf ku kira kamu orang yang aku tunggu." Ucap Arion membuyarkan lamunan Willa.
__ADS_1