
"il.." shakila memeluk tubuh willa dari samping saat ini yang di butuhkan willa adalah pelukan dan tempat mencurahkan perasaan.
"Mama papa sha...." Lirih willa setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.
"Mereka di bawa ke rumah sakit pasti mereka dapet penanganan yang tepat kamu harus tenang semua baik-baik saja." Shakila masih setia memeluk willa.
"Aku mau liat mereka..." Air mata willa tak henti-hentinya menetes dia hanya menangis dalam diam.
"Baiklah kita ke rumah sakit kita minta papanya Arion antar." Willa menyeka air matanya dia menatap shakila dan mengangguk.
Shakila dan willa bergegas pergi ke rumah Arion tidak ada raut bahagia di wajah willa saat menginjakkan kaki di rumah pujaan hatinya yang ada wajah sendu dan mata berkaca-kaca.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu yang di buat shakila untuk membangunkan tetangganya yang mungkin telah terlelap tidur.
Cukup lama shakila mengetuk pintu namun tak kunjung terbuka namun dari arah belakang willa dan shakila terkena sinar sebuah mobil yang akan terparkir di garasi rumah Arion.
__ADS_1
Shakila dan willa menutupi wajah mereka dengan lengan saat cahaya lampu mobil seakan menusuk mata. Tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik keluar dari mobil menghampiri gadis-gadis yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Eh sha ada apa?" Tanya ibu Arion dia sekilas menatap willa namun dia kembali menatap shakila.
"Tante mama dan papa temen aku kecelakaan mami papi nggak ada di rumah boleh nggak Tante anterin kita ke rumah sakit Medika Pusat?" Tanya shakila yang masih mengelus-elus pundak willa.
"Ada apa mah?" Tanya papa Arion yang berdiri di belakangnya mama Arion tak ketinggalan Arion yang berjalan ke arah sana.
Arion menatap willa yang terus menunduk jarang sekali melihat willa menunduk dan memasang wajah sendu dia menduga-duga ada hal yang terjadi pada willa.
"Itu pah temennya shakila mama papanya kecelakaan." Mama Arion berbisik pada papanya dia merasa kasihan dengan willa kalo mendengar orang-orang mengatakan orang tuanya kecelakakan.
2 jam perjalanan di malam hari itu akhirnya menemukan titik berhentinya hanya ada tiga orang dalam mobil itu papa Arion, Arion dan willa mama Arion tak ikut karena sudah terlalu malam dan shakila di minta menemani mamanya Arion tak mungkin juga kalo shakila ikut ke rumah sakit karena ia takut darah.
Kaki willa terasa lemas saat turun mobil dia benar-benar ragu untuk melangkah saat satu langkah di ambil oleh willa dia melihat ambulan datang di ikuti polisi dan para suster yang berlalu lalang membawa berangkar.
Mata willa membola air matanya lolos dia menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya tubuhnya gemetar terhuyung ke belakan untung Arion menangkap tubuh willa kalo tidak mungkin dia akan terjatuh.
__ADS_1
Arion menatap willa merasa perihatin dan sedih saat melihat willa yang syok dan menagis sedangkan papa Arion sudah berada di meja resepsionis bertanya tentang keadaan orang tua willa.
Willa menagis sesenggukan sambil menutup mulutnya saat matanya bertemu berangkar yang terisi seorang wanita dengaan darah yang mengalir di setiap inci tubuhnya bahkan baju yang semula berwarna ungu berubah menjadi merah.
"Ma..mah...mama..." Sebut willa di sela-sela tangisannya.
"Mamah?" Kening Arion mengerut dia tidak pernah bertemu mama Willa dia hanya tau papa willa yang kerap kali hadir untuk urusan sekolah.
Arion menatap arah yang di tatap willa matanya bertemu sebuah pasien dengan luka parah yang di bawa masuk rumah sakit dengan buru-buru.
"Kalo kamu nggak kuat kita pulang aja" ucap Arion masih setia memegangi willa yang terkulai lemas.
"A...aku...mau ketemu...mereka..." Ucap willa sambil sesenggukan.
"Kalo gitu ayo masuk." Arion menuntun willa masuk willa sama sekali tidak bahagia saat dirinya di tuntun pujaan hatinya yang ada malah rasa kawatir dan pikiran yang menerawang jauh terus menghantuinya.
"Ar..." Panggil papa Arion pada anaknya saat ini mereka telah berada di ruang gawat darurat.
__ADS_1
"Aku tinggal dulu." Ucap Arion pada willa yang terus menangis sesenggukan.