
"Mana aku tau sha gue cuman tau dan inget Naruto sama karma doang." Willa berbicara sejujurnya
"Chifuyu?" Shakila tak menyerah menanyai willa tentang karakter anime kesukaannya.
"Kalo itu gue tau...yang rambut panjang terus kayak setengah uler itukan yang jadi kompotannya musuhnya Naruto itulo yang matanya merah-merah terus di dalemnya kek biji kecambah." Tutur willa yang membuat shakila makin pening.
"Hadeh...salah...yang Lo bilang kek uler tu Orochimaru terus yang matanya ada biji kecambahnya itu Sasuke." Rasanya shakila ingin menagis di tempat.
"Sasuke istrinya Sarada kan?" Tanya willa polos dia benar-benar tidak tau.
Bungk...
"Dah lah...liat aja tuh rumah siapa tau pindah! Gue mau nonton lagi nggak mau ngurusin Lo." Willa akhirnyaa kembali menatap rumah Arion setelah benerima tumpukan bantal dari shakila.
15 menit berlalu mata willa tak kunjung menangkap sosok yang amat ia kagumi dan cintai hingga menbuatnya tak sengaja tertidur di dekat jendela terduduk di kurisi menyandarkan kepala menghadap jendela kamar Arion.
Willa mengerjab-ngerjabkan matanya saat merasa air hujan membasahi wajahnya dia menatap langit yang panas menderang namun gerimis hujan tetap menyertai.
"Hujan? Bukankah ini masih musim panas?" Gumam willa yang heran dengan cuaca hari ini tadi pagi panas sekarang menjelang siang turun hujan.
"Sha main hujan yuk?" Willa menoleh ke shakila namun raut wajah riangnya berubah saat mendapati shakila tertidur saat katanya maraton anime.
__ADS_1
"Katanya mau maraton nonton lah ini yang maraton ilernya." Gumam willa saat melihat cara tidur Sahila yang terlentang sekaligus memamerkan mulutnya yang menganga lebar Sampai air liurnya menetes.
"Sha Aku mau main hujan-hujanan" willa berjongkok di samping shakila yang tertidur di karpet dia menggoyangkan lengan shakila.
"Hemm...jangan lupa makan." Gumam shakila masih setia menutup matanya.
"Ya kali hujan-hujanan sambil makan." Willa menepuk jidatnya karna mungkin temannya ini sudah tersesat di alam mimpi.
Willa keluar kamar shakila dia menuruni tangga membuka pintu rumah sahabatnya dia sejenak menatap kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang memergokinya.
"Aman." Gumam willa lalu beranjak keluar pintu.
Willa menyodorkan salah satu kakinya agar terkena rintik hujan menjulurkan dua tangannya membuat telapak tangannya saling terlungkup menadah air yang turun dari langit setelah merasa jiwa kekanak-kanakan menyelimutinya willa melangkah maju ke depan untuk memulai ritual hujan-hujanannya.
"Sha tadikan Aku dah bilang aku mau hujan-hujanan." Willa memasang muka cemberut saat kegiatannya di hentikan shakila.
"Aku nggak denger tadi."
Shakila berbicara jujur tadi saat dia terbangun dia kaget karena tidak menemukan sosok sang sahabat terduduk di kursi sambil memandangi rumah tetangganya. Dia berlari ke arah jendela takut-takut kali temannya ceroboh dan jatuh dari jendela kamarnya yang berada di lantai 2.
"Tadi kamu sibuk maraton." Ketus willa.
__ADS_1
"Tadi aku ketiduran nggak maraton." Jawab shakila yang menarik tangan willa untuk masuk ke dalam rumah.
"Kamu tadi maraton air liur." Willa terkekeh pelan
Pletk...
Jidat willa di getok shakila yang menggetok hanya menahan tawa saat yang di getok cemberut.
"Masuk yuk dingin." Shakila menarik tangan willa namun willa menahan tangan shakila menariknya untuk keluar rumah mendorong perlahan dan akhirnya shakila terkena tetesan hujan di siang hari itu.
"Welee!" Willa menjulurkan lidahnya dan tertawa saat berhasil membuat temanya basah terkena hujan.
"illa dasar kamu gadis nakal!" Teriak shakilla lalu menarik tangan willa sampai membuatnya ikut basah terkena hujan.
"Kan basah." Willa menelisik seluruh tubuhnya yang basah.
"Tadi kamu bilang mau hujan-hujanan." Shakila menadah air hujan setelah merasa cukup dia menciptakan ke muka willa.
"Oh iya lupa." Willa mengangkat lengannya untuk menghalangi cipratan yang di buat shakila mengenai mukanya.
"Sha Aku bales kamu!" Willa menatap sekeliling dia menemukan sebuah selang penyiraman tanaman dia meraihnya dan menyalakannya mennyiram shakila membabi buta.
__ADS_1
"Willa kamu curang..." Keluh shakilla sambil mencoba meraih selang yang di pegang willa.