
Rasa penasarannya kini meracuni akal sehat remaja itu yang dia lakukan curi dengar dengan suara-suara di dalam kamar orang tuanya.
"Ah...uh..emh..."
Suara mamanya yang membakar gairah papanya kian menggema di ruangan itu Willa masih setia mendengarkan suara-suara irontis itu sesekali dia memegang erat sapu yang setia dia pegang sebagai pelampiasan rasa aneh di dalam dirinya.
Willa mendenggar suara hentakan yang di buat ayah dan ibunya suaranya cukup keras Willa hanya menutupi mukanya yang merona karena mendengar suara keperkasaan ayahnya.
"Emmhhh..." Suara erangan papanya yang sedang melakukan pelepasan membuat Willa merinding sendiri.
"Sudah sudah illa dosa kalo kamu nguping orang tuamu yang lagi gitu-gituan." batin willa yang beranjak dari depan pintu kamar orang tuanya.
"Satu ronde lagi?" Tanya papanya pada mamanya masih terdengar meski hanya lirih membuat bulu kuduk Willa merinding.
Willa bergegas masuk ke kamarnya membaringkan tubuhnya ke pembaringan suara-suara yang tadi dia dengar terus bergema di otaknya.
"apa aku akan punya adek?" batin willa sambil tersenyum lebar.
"Ishh...illa udah malem tidur jangan inget-inget suara penggoda iman tadi." Gumam Willa sambil menepuk-nepuk mukanya.
__ADS_1
Willa menutup matanya namun dia malah terbayang-bayang apa yang dilakukan orang tuanya. Menggelinding ke kanan lalu ke kiri Willa mencoba mencari posisi yang pas siapa tau dia akan tertidur tapi usahanya tak kunjung berhasil.
"ini mata sama telinga sekongkol ini memang nggak bisa di atur denger yang hot hot langsung terbuka lebar." batin willa kesal.
1 jam willa berguling-guling di atas kasur akhirnya dia bisa terlelap tidur sungguh panas rasanya mendenggar hal-hal yang baginya tabuh itu.
Sinar matahariatari telah terbit sinarnya telah masuk ke kamar willa dari sela-sela tirai yang tidak tertutup rapat itu.
Karna hari ini hari ke 2 libur willa memutuskan tidur sampai siang.
Namun angan-angan tidur sampai siang harus sirna sudah saat mamanya membuaka pintu kamar dan membuka lebar tirai jendela kamarnya sinar cerah matahari kini menusuk tajam ke mata willa memaksa willa untuk membuka mata.
"illa ini udah jam 8 pagi bangun ya mama sama papa mau kerja." Pamit mama dengan menggoyangkan kaki willa.
"Bukankah masih ada 2 hari?" Tanya willa sambil mengucek matanya yang masih lengket.
"Tadi ada masalah penting perusahaan kita yang di luar kota lagi ada masalah jadi mama sama papa harus pergi?" Willa hanya menatap ibunya datar mengingat-ingat kejadian malem tadi.
"Mamah sakit pinggang?" Pertanyaan willa sukses membuat mamanya kaget.
__ADS_1
"Emm... Enggak mama ke kamar dulu." Mama Ainum takut kalo di interogasi putrinya merasa curiga mungkin bekas pertarungan semalam terlihat.
"Enggak apa kan tadi malem willa denger sendiri suara-suara yang membuat willa susah tidur." Gumam willa sambil menuju kamar mandi.
Willa melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya mengguyurkan air ke tubuh mulusnya menggosok perlahan bagian-bagian yang sering di lalui keringat.
Dia keluar kamar mandi dan bergegas ke lemari mencari pakaian yang akan ia kenakan dia mengenakan kaus lengan pendek berwarna hitam lalu mengenakan celena jeans pendek sentinggi lutut.
dia menggerai rambutnya ia sama sekali tidak memakai riasan bahkan bedak pun tak pernah willa kenakan dia tidak ingin ribet berbeda dengan beberapa temanya yang memakai bedak setebal 1 cm atau hanya bagian wajah saja yang putih tapi lehernya hitam.
Dia keluar kamar pergi ke dapur di mana orang tuanya sedang sarapan lebih dulu di sana. Willa sedikit malu saat menatap orang tuanya malu karena diam-diam nguping pergulatan hot hot mama papanya.
"Pagi mah pah." Sapa Willa sambil menarik kursi untuk ia duduki.
"Pagi." Jawab papa mama Willa barengan.
Mereka menyantap sarapan mereka dengan tenang tidak ada percakapan mereka fokus mengunyah nasi berserta lauk pauknya willa sesekali menatap orang tuanya yang terlihat biasa-biasa saja atas kejadian kemaren.
"kenapa aku yang malu seharusnya papa dan mama yang malu karena kepergok aq" batin willa sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Papa sama Mama mau ke luar kota Illa mau ikut?" Tawar papa willa kepada putri semata wayangnya.
"Nggak ah nanti illa malah ganggu mama papa." Willa menjawab dengan wajah gembira namun tidak dengan hatinya dia sangat ingin menghabiska waktu berkumpul bersama.