
"Apakah tasku ada penunggunya jadi balik ke aku lagi?" Gumam willa mebayangkan tasnya di rasuki roh halus dan para jambret terkena ganguan makhluk halus yang bermukim di tasnya.
"Ih tapi serem juga jalok tasku ada makhluk halusnya kalo bisa di elus-elus nggak papa lah ini halus ngak sembarang halus."
Willa mencoba membuka resleting tasnya mengecek benda-benda di dalamnya betapa terkejutnya willa saat mendapati sebungkus cilok di dalam tasnya.
"Ini? Masak hantu yang bermukim di tasku beliin cilok?" Willa mengeluarkan semua barang di tas ransel miliknya.
"Tidak ada!?" Gumam willa saat memeriksa tasnya dia tidak berhasil menemukan hp dan uangnya.
"Ini sih mungkin udah di ambil jambret... Apa mungkin yang balikkin jambret?" Willa menatap cilok yang tadinya berada di dalam tasnya.
"Ya masak jambret kasih kompensasi atas perbuatannya dengan ngasih cilok?" Willa mengerutkan keningnya dan berfikir keras.
"Mungkin saja ada orang baik yang menemukan tasku dan membelikan cilok untuku." Singkat willa yang enggan berpikir lagi.
Willa kembali merapikan tasnya dan menaruhnya di meja dia pergi ke ke kamar mandi untuk mandi.
Dia melihat jam di dinding saat keluar kamar mandi menandakan jam 5 pas.
__ADS_1
Willa pergi ke dapur untuk memasak untuk kedua orang tuanya. Manamungkin dia membiarkan ibunya yang lelah berkerja harus masak sesampainya di rumah.
Karena bahan-bahan masakan telah habis willa memutuskan membuat makanan seadanya saja karena dia tidak bisa ke warung dengan kondisi lututnya yang sedikit membengkak.
Tak lama terdengar suara mobil memasuki garasi rumah minimalis milik keluarga willa di susul suara motor gede di belakangnya. Willa tersenyum bahagia mengetahui ibu dan ayahnya pulang cepat.
Malam pun tiba rumah minimalis itu di penuhi rasa hangat saat keluarga kecil itu berkumpul menyantap masakkan yang telah di buat willa untuk kedua orang tuanya yang amat dua cintai.
Pagi hari ini adalah hari libur panjang yang biasa di lakukan saat menyelesaikan ujian sekolah 2 Minggu para murit di istirahatkan di rumah dan di anjurkan untuk tetap belajar namun tentu saja itu hanya di iyakan murit-murit tanpa melakukan apa yang mereka iyaka.
Hari libur ini cukup istimewa karena biasanya kalo libur orang tuanya akan lebih sibuk namun berbeda hari ini orang tuanya mengambil cuti ya mensi hanya 1 hari namun itu sudah cukup bagi willa yang sejak kecil selalu di tinggal sendiri di rumah karena orang tuanya sibuk.
"Good morning!" Willa berteriak sumringah kepada ibu dan ayahnya yang terlihat melihat acara TV di pagi hari di ruang keluarga.
Wila pun bergegas menghampiri kedua orang tuanya duduk di tengah-tengah keduanya dia masih menampakkan senyum lebarnya sudah lama dia tidak bermanja-manja kepada orang tuanya.
"Mah pah illa mau ke pantai boleh nggak?" Willa memasang muka se memelas mungkin.
"Sama siapa?" Tanya papa Richel kepada putri semata wayangnya.
__ADS_1
"Ya sama papah dan mamah ku lah emang sama siapa lagi." Willa memanyunkan bibirnya.
"Lagian suntup kalo seharian di rumah terus." Sambung willa.
"Mama kira kamu mau ke pantai sama cowok yang kemaren." Goda mama Ainum pada putrinya. Tentu saja willa hanya tersenyum malu.
"Siapa mah?" Tanya papa kepo.
"Itu Lo namanya siapa itu... Ringgo...Aron... maroon.." mama Ainum mencoba mengingat-ingat nama lelaki yang menolong putrinya.
"Arion mah!" Ucap willa sedikit kesel saat pria pujaannya di sebut asal-asalan.
"Cie...anak papa sekarang udah main pacar-pacarnya ya?" Papa Richel menggoda putrinya.
"Ih apaan sih pah! illa nggak pacaran tauk." Willa mendengus kesal bercampur malu.
"Ih willa sayang kenalin ke mama sama papi dong kalo punya pacar." Mama Ainum memberikan kode kepada papa Richel agar memanas-manasi putrinya.
"Iya siapa tau kalian bisa langsung nikah." Papa Richel membalas kode-kodeannya mama Ainum.
__ADS_1
"Ih siapa juga yang punya pacar." Willa sangat-sangat lah malu dia berdiri dan berjalan ke dalam kamarnya.
"Arghhhhhh"