
Willa menagis sesenggukan meski sekuat mungkin dia tahan tapi tidak bisa itu semua malah membuat dadanya semakin sesak.
Tiba-tiba tangan mamanya bergerak willa menatap wajah mamanya tampak mata mamanya berkedut dan seperkian detik mama Willa mencoba membuka matanya.
"Mah...mamah udah sadar..." Ucap willa lirih Arion yang merasa mama Willa akan sadar memencet tombol darurat agar dokter bisa memeriksanya.
Tak butuh waktu lama dokter masuk dan memeriksa keadaan mamanya namun selesai memeriksa dokter itu malah memasang wajah yang sedih atas keadaan pasien.
"Dok kenapa mama saya?" Ucap willa yang merasa aneh dengan perilaku dokter itu.
"Maaf... keadaan ibu nona sudah tidak bisa kami tangani" dokter itu menunduk di ikuti semua perawat yang berada di situ.
Willa kembali menagis hatinya seakan di gores benda tajam yang tak terlihat. Arion hanya bisa memeluk untuk menenangkan temannya itu.
"illa..." Lirih sampai hampir tidak bisa di dengar mama Ainum memanggil nama putrinya.
Willa maju dengan membawa air mata yang meleleh begitu saja tanpa permisi.
"illa di sini mah..." Ucap willa sambil memeluk mamanya
Dia menciumi wajah mamanya menghambur ke pelukan mamanya mencium aroma tubuh yang membuatnya selalu merasa tenang dan damai.
__ADS_1
Mama Ainum tidak membalas pelukan putrinya tubuhnya telah mati rasa dia sadar hanya untuk mengucapkan kata perpisahan.
"Mama sayang illa" ucap mama Willa seperti berbisik.
"Illa jaga sayang mama kita mulai dari awal setelah mama sembuh oke." Willa Tidak berani menatap muka mamanya yang mulai pucat
"Tapi mama mau ikut papa nak" ucap mama Willa mulai terdengar lirih.
Willa mendongak menatap sayu mata ibunya dia menggelengkan kepalanya dengan air mata yang tidak berhenti.
"Nggak boleh!" Ucap willa sedikit berteriak.
"Mama papa selalu ada di hati dan ingatan illa sayang." Willa mendekat agar mendengar suara mamanya.
Mama Ainum hanya mampu menampilkan senyum terakhirnya menatap terakhir kali buah cintanya sebelum pergi untuk selamanya.
"Kamu pasti selalu bahagia...kamu anak baik...mama...papa...sa...sayang..Illa" ucap mama Ainum tersendat setelahnya mama inum menutup mata selama lamanya.
"Mah!..." Willa berteriak histeris tak sanggup baginya kehilangan sekaligus orang yang dia sayang padahal baru kemaren mereka bersama.
Willa POV
__ADS_1
...*mama......
Kenapa? kenapa? Kenapa ingkar janji? Kenapa tinggalin illa sendiri?...
Malam ini begitu menyeramkan untuk ku aku yakin malam ini akan jadi malam palingku ingat dalam hidupku dimana dua orang yang selalu aku banggakan dan kagumi lenyap dari dunia ini...
Papa yang gagah perkasa untuk melindungi putrinya sekarang sudah tiada lagi meniggalkan tanpa di duga maupun di kira...
Mama yang pelukkannya selalu memberi kenyamanan mama yang selalu memberi apapun yang bisa dia beri mama yang telah mengandung melahirkan dan memberi banyak cinta juga telah pergi...
Untaian kata terakhimu hanya menyebut betapa kalian mencintaiku menyayangiku dan akan selalu berada di sisiku...
Tapi akankah tetap sama?...
Akankah saat aku sedih menagis kalian akan memelukku? Bisakah kalian melihatku bahagia di sini saat kalian pergi dari hidupku? Mampukah kalian membelaiku saat aku rindu?...
Tidak.
Itu tidak bisa kita terpisah dimensi kita hanya saling tukar rindu dari dua dimensi yang berbeda entah apa kalian masih melihat diriku atau tidak masih mengingat keberadaan ku atau tidak masih ingatkah kebersamaan kita atau tidak...
Bisakah kalian lihat bagaimana dunia itu sangat kejam kenapa kalian sanggup meninggalkan aku sendiri...
__ADS_1
Dengan siapa aku mengadu kekejaman dunia kalo kalian tidak ada...
Aku bagaikan kehilangan yang namanya rumah...kehilangan pilar dan sekarang kehilangan atap sekarang dimana aku bisa berteduh saat hujan maupun angin menerpa*...