
"Kamu?" mama Ainum menatap ke arah Arion yang sedang menatap willa yang nagis sesenggukan.
"Saya Arion tante, tadi illa di jambret kebetulan saya lewat sini tadi." Arion menunduk hormat kepada wanita yang di bilang Tante olehnya.
"Makasih ya nak untung illa nggak apa-apa itu udah cukup." Ucap mama Ainum membelai rambut putrinya yang masih syok.
"Kalo begitu saya permisi Tante." Arion berjajan menjauh dari sepasang ibu dan anak itu.
"Mah...illa mau pulang." Ucap willa di sela-sela tagis sesenggukan.
"Kalo gitu ayok naik mobil." Mama Ainum memapah putrinya naik mobil.
Setelah menempuh perjananan beberapa menit mama Ainum dan willa telah sampai di kediaman.
Rumah yang bergaya minimalis dengan banyak tanaman pot di luar rumah yang dirawat willa saat waktu senggang.
"Apa kita ke rumah sakit aja illa lututkamu udah bengkak kayak gini loh." Mama Ainum khawatir dengan lutut willa yang tampak membengkak dan membiru.
"Nggak usah mah mungkin nati udah baikkan illa cuma pingin tidur." Willa saat ini benar-benar hanya butuh tidur merilekskan pikiran yang kacuau.
Bagaimana tidak kacau dia tadi di peluk pujaan hatinya eh pas beberapa menit kemudian lutut dan tanganya di cium aspal.
Sesampainya di kamar di bantu ibunya willa berbaring di kasur ternyaman miliknya.
__ADS_1
Saat mama Ainum pergi kembali ke kantor willa sendiri di kamar mama Ainum sebenarnya enggan meninggalkan anaknya yang sedang sakit tapi mau bagaimana lagi pekerjaan kantornya harus di kerjakan dia tidak bisa menyuruh asistennya lembur kasihan katanya.
Willa mencoba memejamkan matanya namun banyang-bayang Arion seakan enggan pergi dari benaknya.
Willa menutup matanya namun bibirnya masih saja terulas senyum saat mengigat Arion yang berjongkok di depannya.
"Oh astaga otak pergilah aku sedang tidak butuh kamu." Umpat willa dalam kamar yang sunyi.
"Ya ampun Arion perhatian sekali...apa jangan-jangan dia diam-diam naksir denganku?" Willa mengembangkan senyumnya rasanya sakit dan syoknya langsung lenyap saat otaknya menampilkan wajah Arion.
"Ishh mana munkin aku yang jelek ini disukai cowok setampan Arion." Ketus willa pada dirinya sendiri.
"Tasku?oh astagaaa bagaimana ini kalo yang hilang uang dan hp saja tidak masalah nah ini surat-surat dari sekolah ikut hilang." Willa baru tersadar kalo di tasnya ada berkas-berkas kelulusannya.
"Tapi apakah mukaku sangat jelek di hadapan Arion? Bagaimana kalo mukaku jelek? Bagaimana kalo ingusku keluar saat tadi aku menagis? Arghhhhhh" teriakan frustasi willa menggema di kamarnya.
"Banyak sekali masalah yang satu berkas hilang dan yang satu pria pujaan merasa jijik dasar bodoh." Willa tak hentinya mengumpat diri sendiri.
"Mending sekarang aku tidur agar otakku istirahat siapa tau aku akan ikut ujian susulan lagi gara-gara jambret sialan."
Willa memejamkan matanya dalam hitungan beberapa detik suara nafas willa terdengar teratur menandakan gadis itu telah tidur.
Jam dinding telah menunjuk angka 4 dan 8 menandakan hari telah sore willa yang merasa tidurnya telah mencapai batas maximal pun mengerjab-ngerjabkan matanya.
__ADS_1
"Ouahhh" suara willa yang sedang menguap dan merentangkan tangannya yang terasa agak kaku di mencoba menekuk lututnya namun terasa agak sakit dia langsung duduk dan menatap lututnya.
"Kurasa ini akan membiru untuk sementara waktu untung saja bengkaknya sudah agak berkuarang." Gumam willa di dalam kamar.
"Aku haus." Dengan perlahan willa mencoba berjalan ke dapur.
Tok...tok...tok...
"Cilok... cilok..."
Suara tukang cilok lewat di depan rumah willa ia mendengus kesal bagaimana Abang cilok bisa lewat di depan rumahnya saat dia tidak bisa berjalan ke luar untuk beli sedangkan saat dia baik-baik saja kang cilok mana ada lewat.
"Ishh kang cilok menggoda iman saja." Gumam willa yang ngiler dengan bayangan cilok di otaknya.
Tok..tok...tok...
Suara tok tok lagi namun suaranya agak berbeda willa menoleh menatap pintu rumahnya sekali lagi Ter dengar suara tok tok lagi.
Willa berjalan ke depan pintu dengan langkah yang terseok-seok dia membuka pintu namun tidak ada siapapun di lantai terdapat tasnya yang di jambret di depan pintu rumahnya.
"Loh tasku?" Willa mengbil tasnya menengok kanan dan kiri jalan namun tidak ada orang.
Willa menutup kembali pintunya membawa tasnya ke kamar dan ia duduk di kasurnya menatap heran tansnya yang kembali padanya.
__ADS_1