
Reza kembali melanjutkan mencari iblis direwolf. Bagaimanapun, semakin banyak pasukan, maka akan semakin banyak kekuatan di belakangnya.
Kali ini, Reza tak berleha leha seperti tadi. Dia sekarang lebih menggila.
Dimana, Reza sekali tebas menggunakan pedang dan segera menyerap dosa setiap monster yang dia bunuh. Dengan Acient Sky Light Saint, setiap monster yang tertebas langsung mati tanpa ampun.
Setelah terbunuh dan menyerap setiap dosa, Reza menyuruh Rina untuk memberikan pengetahuan manusia biasa dan juga seni beladiri tingkat mahir, serta pengetahuan formasi sihir.
Tentu, ditambah dengan sebuah tujuan agar terus menerus meningkatkan kekuatan mereka dan membawa mayat yang mereka bunuh ke suatu tempat dan nantinya Reza datangi agar bisa membangkitkan mayat tersebut menjadi pasukan malaikatnya.
[Ding!. Anda naik level, dua kali.]
Terdengar, setelah setengah jam menghabisi 1000 iblis direwolf. Sebuah notifikasi kenaikan level. Semua yang ada didalam tubuh mulai terrefres dan Reza kembali sehat bugar.
"Yah, tak buruk untuk 1000 direwolf iblis. Setidaknya, aku mendapatkan pasukan yang cukup. Namun... Kalau hanya sebatas cukup masihlah kurang!." Gumam Reza sembari menatap langit yang mulai membenamkan matahari.
[Tuan, apa anda ingin melanjutkan pemburuan?.] Terdengar, suara Rina menanyakan apa Reza mau melanjutkan pemburuannya atau tidak.
"Entah lah. Aku juga tak tau, bosan lagi." Tersenyum kecut, Reza karena kebosanan mau ngapain.
Secara tiba tiba, muka Reza langsung serius ketika merasakan sebuah aura monster setingkat dengan dirinya.
'Mengajak bermain main dengannya tak masalah, bukan?.' Seringai kecil mulai terlukis di wajah Reza.
Booom.
Ledakan terjadi didepan Reza dengan asap mengepul. Hingga, perlahan asap mulai menghilang menampilkan sosok monster gorila.
Reza menatap tajam pada gorila didepannya ini. 'Tingkat gold?. Ternyata benar. Dia setara denganku bila aku adalah manusia biasa dengan bakat biasa pula.'
Reza langsung melakukan kuda kuda serangan mematikan.
Tangan kanan yang memegang pedang mulai terangkat dan ujung bilang diarahkan ke gorila itu. Konsentrasi begitu tinggi mulai terasa di sekeliling Reza.
'.'
TEP!.
__ADS_1
Lintasan kegelapan tiba tiba muncul dari arah pedang menuju jantung gorila didepannya ini. Seketika, bagian dada kiri gorila berlubang bersamaan dengan menghilangnya jantung gorila itu.
Reza menghembuskan napas. Pandangan sekilas agak pusing dan buram setelah menggubakan teknik pedangnya itu.
"Berapa kalipun, aku terkagum dengan teknik yang ku ciptakan sendiri. Sungguh luar biasa."
Bruuk.
Bersamaan dengan selesainya Reza berkata. Tubuh gorila langsung ambruk dan meninggoy begitu saja.
Teknik pedang kegelapan adalah, sebuah teknik pedang ciptaan Reza sendiri. Dengan memusatkan kegelapan pada satu titik terkecil. Reza tembakkan bersamaan dengan pedangnya itu.
Dan, kegelapan yang terkumpun pada satu titik terkecil yaitu di ujung pedang. Dalam sekejap, akan menyelimuti bilah pedang dan membuat jalur kegelapan yang memusnahkan apapun selama kekuatan lawan masih bisa Reza saingi.
Tentu, seperti perkuatan tubuh bumi dalam teknik pernapasan. Dirinya tidak bisa menggunakan teknik ini lebih dari tiga kali dalam sehari.
Masih beruntung, kekuatan Reza sekarang adalah tingkat Gold. Jadi, dirinya bisa menggunakan teknik pedang ini sampai 4 kali lagi.
"!."
Segera, monster gorila ini mulai terselimuti oleh cahaya putih campur ke emasan dan mengeluarkan aura suci. Reza tak menyerap dosa maupun pahala dari monster ini.
Terlihat, sosok laki laki manusia bersayap malaikat dengan tubuh binaragawan yang penuh otot dan wajahnya yang tampan namun, agak mirip monyet.
"Terima kasih telah memberikan pengetahuannya, Yang Mulia. Hamba pamit undur diri untuk menaikkan kekuatan hamba."
Dengan segera, binaragawan mirip monyet ini pergi terbang dengan sayap malaikatnya dan mencari mangsa untuk di serap dosa dan pahalanya.
Reza sedari tadi ingin ketawa rasanya. Bagaimanapun, tidak pernah sekalipun dia melihat sosok laki laki kekar berotot dan tampan. Tapi memiliki wajah mirip monyet gitu.
"Astaga, ini sungguh lucu." Tertawa kecil dan lemas, Reza mengingat kembali wajah monster yang menjadi pasukan malaikatnya tadi.
"Rina, carikan sebuah goa yang aman dan tak terjamah oleh orang orang." Reza menghentikan tawanya dan mencari tempat tinggal untuknya sekarang.
Muncul sebuah peta menunjukkan kordinat goanya dimana.
"." Segera, Reza melakukan teleportasi menuju goa yang sudah di tujukan oleh Rina.
__ADS_1
Namun, sesampainya di goa. Sebuah perasaan penuh dominasi benar benar terasa oleh Reza. Dia merasa, seperti sedang di tengah tengah lingkaran para kaisar yang sedang duduk dan menekan dirinya dengan dominasi seorang kaisar.
"Entah kenapa, aku merasa aura ini adalah aura yang menunjukkan Kesenian Bela diri..." Insting Reza mengatakan hal itu. Dirinya memang tidaklah terlalu hebat dalam bela diri. Bahkan, mungkin kalah dengan para prajuritnya yang mendapat pengetahuan dari Rina.
Namun, ketika merasakan aura yang seakan dominasi seorang kaisar. Dia merasakan, seolah... Dirinya sedang di uji seni bela dirinya.
[Tuan, lebih baik kau berjalan mendekati dari mana pusat aura ini berada. Disana ada barang yang paling berharga.]
Suara Rina terdengar seperti memberinya teka teki yang membingungkan. Namun, Reza hanya menurut dan berjalan di bawah dominasi seorang kaisar ini.
Lambat laun, langkah Reza semakin teratur namun berat. Dalam artian, Reza seakan dia berjalan dengan di bimbing untuk melakukan berjalan dengan sebuah kehati hatian namun penuh dengan sebuah dominasi kaisar.
Bersamaan dengan itu. Pemikiran Reza mengenai seni bela diri mulai terasah dan memikirkan lebih dalam. Rasanya, seperti terhanyut dalam sungai dangkal dan tenang namun terasa benar benar menekan.
Hingga. Ketika Reza sampai pada ujung goa. Secara tiba tiba dia berhenti melangkah dan menatap sebuah altar yang berisi sebuah kitab bertulis
Kesenian Bela Diri Sebenarnya.
Secara tak sadar, Reza mulai membuka sampul buku dan melihat lembaran pertama.
Apa tertulis di lembar pertama adalah
{Apa menurutmu tentang seni bela diri?.}
Termerenung, Reza mendapati pertanyaan seperti ini. Namun, berusaha keras dia pikirkan.
"Seni bela diri... menurutku adalah sebuah seni dimana kita melakukan pembelaan diri terhadap sesuatu. Segala macam tindakan bisa di sebut sebuah seni bela diri.
Kita mengayunkan tangan, bisa di katakan sebuah seni bela diri. Kita melangkah, juga adalah seni bela diri. Namun, semua itu bila ingin di katakan seni bela diri, haruslah dengan sebuah proses.
Dalam proses itu, setiap gerakan, alur, dan juga keadaan. Bisa mempengaruhi setiap dalam kesenian Bela Diri."
Reza menjawab, dengan apa yang di pikirkannya. Dia tak asal ceplos menjawab pertanyaan ini setelah berjalan sambil merasakan dominasi seorang kaisar tadi.
Menurut Reza, dia seperti sedang dalam ujian.
Tanpa sadar oleh dirinya sendiri. Tangannya mulai membalikkan halaman yang selanjutnya. Dan sebuah tulisan mengenai pertanyaan yang tidak masuk akal tertulis.
__ADS_1
{Apakah seorang manusia biasa dengan sebuah tangkai pohon, bisa membunuh seorang dewa dengan sebuah seni bela diri?.}