God Of Law And Nothingness.

God Of Law And Nothingness.
42.


__ADS_3

Tak ada pembicaraan sama sekali selama dalam perjalanan menuju Kota Terang Bulan antara Qian dengan Liu Xiemei.


Cinta pada pandangan pertama benar benar mengerikan. Liu Xiemei benar benar jatuh hati terhadap Qian walau ini pertemuan pertama kali.


Namun, bukan seperti Filia. Terlihat, sosok Liu Xiemei lebih ke wanita yang terus terang mencoba PDKT - an Qian. Terbukti seperti ini


"Ja-jadi, Qian. Sebelum kau di culik, kau berasal dari mana?." Sambil bertanya, Liu Xiemei langsung berjalan mendekat kepada Reza.


Sedikit tak suka, Qian dengan sikap Liu Xiemei yang mencoba mendekati dirinya dan mencoba lebih mengenalnya.


"Aku berasal dari Benua luar dari Dinasti Song ini, yaitu Kekaisaran Nusantara." Kembali berbohong, Qian mengatakan asalnya dari mana.


"Kekaisaran Nusantara?..." Terdengar seperti bertanya sambil semakin mendekatkan tubuhnya lagi kepada, Qian.


Tatapan Qian semakin tak suka. Dengan perlahan, Qian menjauhi Liu Xiemei dengan sedikit kasar. Namun, Liu Xiemei kembali mendekatkan dirinya juga secara kasar juga.


"Apa kau bisa memberi..."


"Nona Liu!." Ucap sela Qian terhadap Liu Xiemei dengan tegas.


Mata Liu membelak, dengan tubuh sekilas bergetar. Liu Xiemei menjauh seketika dari Qian.


"Aku tau kau suka terhadapku, tapi bukankah sudah ku bilang!. Aku sudahlah memiliki istri!. Walaupun aku tak berkultivasi dan ini menjadi kesalahan terbesarku karena dengan aku yang lemah, istriku pun terculik juga dan di jual kepada para bangsawan bejat dan brengsek itu. Jadi mohon... jangan ganggu aku selama aku dalam keadaan mood seperti ini."


Mendengar sebuah cerita separuh bohong dari Qian. Liu Xiemei menunduk penuh dengan penyesalan. Dia tak tau, ternyata kondisi istri Qian begitu buruk setelah mendengar dan mengambil kesimpulan dari cerita separuh bohong tersebut.


Kenapa di sebut separuh bohong?. Yah, Reza tak tau dewa seperti apa dan sikapnya bagaimana mengenai orang yang menculik Filia dari sisinya.


Liu Xiemei merasa sebuah perasaan yang tak pernah dia rasakan dan dia benci, cemburu dan iri. Dua perasaan itu benar benar timbul di hatinya karena cemburu dan iri terhadap sosok yang menjadi istri Qian.


"Jadi, apa kau akan memulai jalan kultivasimu di umur sekarang?." Kali ini, nada suara Liu Xiemei tidaklah seperti biasa, yaitu datar.


"Ya, setelah kejadian dimana semua penduduk desa terculik. Ada kakek tua yang menyelamatkan kami. Dalam sekejap, 300 orang yang di katakan para warga memiliki kultivasi tingkat Tranformasi Qi●7-9. Seketika musnah begitu saja.

__ADS_1


Dan kakek tua itu tak berhasil menghabisi orang orang yang di anggap barang bagus, dan itu salah satunya adalah istriku. Akhirnya, aku meminta kakek tua itu untuk menjadi guruku.


Namun, dia mengatakan 'lebih baik kau berjalan kedalam hutan hingga terpingsan. Setelahnya, kau akan menemukan sosok wanita. Dan wanita itu akan menghantarmu menuju Kota. Di kota itu, aku akan melatihmu berkultivasi dan bela diri.'


Tentu, aku menuruti perintahnya saja tanpa ragu. Dan berakhirlah aku bertemu denganmu."


Mendapat jawaban sekaligus sebuah cerita awalmula penuh dengan kebohongan. Liu Xiemei hanya mengangguk percaya entah itu karena terpaksa atau tidak, hanya Liu Xiemei yang tau.


Tak terasa waktu berlalu, Qian dan Liu Xiemei sampai pada sebuah kota yang berbentuk aneh. Kota dengan bentuk seperempat lingkaran yang puncuk segetiga itu menghadap ke arah utara.


"Tuan, nona. Mohon untuk membayar 5 keping perak untuk perorang." Salah satu penjaga menawar untuk memasuki kota perlu membayar, logat bicaranya juga begitu sopan ketika melihat pakaian yang di kenakan oleh Liu Xiemei dan Qian, walau penjaga gerbang itu terlihat lebih sopan terhadap Liu Xiemei seakan mengenal Liu dengan baik.


Mata uang di alam kultivator dibagi menjadi koin:


>tembaga


>perak: 1:10.000 tembaga.


>emas: 1:100.000 perak.


Dan masih ada lagi namun tak perlu di sebutkan.((Allert Spoiler.))


Liu Xiemei memberikan 10 keping perak terhadap penjaga gerbang tersebut. Tanpa basa basi, Liu Xiemei dan Qian berjalan masuk setelah membayar.


"Bukankah teelalu mahal untuk memasuki sebuah kota saja?." Komentar Qian mengenai harga masuk kedalam kota.


"Hmm, lihat saja nanti bagaimana suasana kota." Balas Liu Xiemei dengan sebuah senyuman.


Qian bertanya karena tak ingin menimbulkan kecurigaan. Walau dengan mata melihat segalanya, dia melihat Kota Terang Bulan adalah kota tingkat atas yang di kuasai oleh satu sekte besar.


Bila Qian tak terlalu peduli dengan harga masuk kota. Maka Liu Xiemei mungkin akan mencurigainya.


Sebuah pemandangan yang indah, seketika masuk kedalam pandangan Qian. Kota yang bersih, udara yang segar, penduduk yang begitu taat, disiplin, sopan, dan tiada orang orang yang membuat keributan.

__ADS_1


"Jadi ini kah alasan pembayaran kota hingga mencapai 5 keping perak." Qian berpura pura sedikit terpana dan terkejut dengan suasana kota terang bulan.


"Ya, kota ini memang indah. Tiada pemulung, pengemis, ataupun orang yang tak berkemampuan dalam ekonomi. Kondisi yang bersih dan tentram.


Dengan kondisi kota yang seperti ini. Tak heran, bila harga masuk kota adalah 5 keping perak. Bisa di bilang, kota ini adalah kota yang masuk dalam jajaran kota terbaik di Kekaisaran Ling.


Walau sebenarnya aku cukup kasian dengan mereka yang berekonomian rendah karena tak di izinkan untuk tinggal didalam kota."


Ekspresi Liu Xiemei menjadi sedikit sendu ketika memikirkan mereka yang berkeluarga dengan perekonomian rendah.


Sejenak, Qian mengamati Liu Xiemei. Dia melihat dengan mata jiwa, hati Liu Xiemei benar benar tulus akan apa yang ingin dia tolong ataupun kasihani.


"Kita tak bisa melakukan apapun. Hukum alam rimba adalah kenyataan dan menjadi hukum mutlak di alam kultivator ini. Mereka yang memiliki kekuatan, maka akan memilki kekuasaan. Selama kau lemah, maka kau akan terinjak injak dan termangsa oleh mereka yang kuat."


Qian menatap langit dengan tatapan tajam penuh dengan sebuah kenangan pahit dari Filia yang menghilang dari sisinya. Dia mungkin memang mengira, semua ini hanyalah kedok demi membuat dirinya menjadi kuat dengan pesat.


Namun, tetap saja. Qian tak terima bila mendapat perlakuan seperti ini.


Liu Xiemei menatap Qian dengan pandangan berbeda. Biasanya, dialah yang selalu menatap Qian dengan pandangan belas kasih penuh dengan ketulusan. Namun, dalam pandangannya kali ini.


Sosok Qian sekarang selayaknya orang yang hidup bertahun tahun lebih dari ratusan tahun menjalani kehidupan yang pahit.


"Qian..." Lirih ucap Liu Xiemei dengan berkecampuk perasaannya saat ini.


"Nona Li..."


"Bisakah kau memanggilku dengan Xiemei saja?. Tak perlulah bersikap formal dan sopan seperti itu kepadaku, nak Qian." Liu Xiemei menyela ucapan Reza dengan berkata lembut namun terasa tegas bila dirasakan lebih jauh.


Tak tau harus bagaimana, Qian atau Reza saat ini. Kejadian seperti ini, sudah menjadi Deja vu bagi Qian. Dan nantinya, akan berujung menjadi cinta yang berlebihan seperti Filia kepada dirinya waktu pertama kali bertemu.


"B-ba-baiklah, Xi-Xiemei." Dengan gugup dan berharap reaksi Liu Xiemei tak seperti yang dipikirkan, Qian berharap.


Namun, hal yang tak di inginkan Qian terjadi. Muka Liu Xiemei menjadi merona merah padam setelah mendengar Qian memanggilnya dengan nama tanpa marganya.

__ADS_1


"H-hmm, begitu juga lebih baik."


__ADS_2