God Of Law And Nothingness.

God Of Law And Nothingness.
8.


__ADS_3

Sudah berapa waktu berlalu. Reza akhirnya kembali tersadar setelah mengatakan namanya.


Dan ketika melihat. Sesuatu hal paling megah, ia lihat.


Sebuah pulau melayang yang diatasnya terdapat bangunan bangunan dengan aksen emas asli. Begitu megahnya dan saking megahnya, membuat langit seakan malu untuk berdiri diatas pulau itu.


''Selamat Datang di Universitas Aqulina, Reza...'' Terdengar menyambut dengan lembut walau perlakuan Qin Shui terhadap dirinya tidak berubah, masih selayaknya karung beras di pundak.


''Setidaknya, bisakah kau menurunkan, ku.'' Meronta mencoba melepaskan diri, Reza dari genggaman Qin Shui.


''Hmm, kau sungguh... apa kau tak berayukur dipegang wanita cantik sepertiku?.'' Keluh kesal lemas, Qin Shui terhadap sikap keras kepala dari Reza ini.


Sambil meronta ronta, Reza menjawab: ''Kita dari awal tak pernah kenal, dan juga. Aku hanya mengagumi kecantikanmu saja, tak lebih dan tak kurang. Bersyukur adalah beda hal dari mengagumi saja, kau tau?!.''


Dengan sekuat tenaga, Reza menyalurkan {mana} keseluruh bagian otot manapun dalam tubuh dan mencoba melepaskan diri dari pundak Qin Shui.


''Haaahhh, nak Rez. Percuma kau berontak sampai asam urat sekalipun. Kekuatanmu dan kekuatanku sangatlah berbeda jauh dan sangat sangat jauh. Sudahlah terima saja menjadi murid di universitas ini, kujamin kehidupanmu akan bahagia disini. Walau itu hanya sementara, sih.'' Mencoba iming imingi, Qin Shui terhadap Reza yang masih terus menerus berontak. Walau dikalimat terakhirnya terdengar lirih dan mencurigakan.


Sejenak, Reza tak menjawab. Ia memikirkan alasan yang tepat untuk kabur dari situasinya saat ini.


''Aku tak ada waktu untuk bersekolah, hanya tingga 5 tahun lagi bagiku untuk menyelamatkan teman masa kecilku dari kutukan dewi Aphrodite karena aku mencela cela dewi itu.


Hanya tinggal lima tahun lagi, kutukan yang diterima oleh dewi Aphrodite akan aktif.'' Ujar Reza dengan nada agak sedih dan semakin lemas dalam merontanya.


Qin Shui berhenti berjalan. Dalam benak Reza: 'Apa ini berhasil?.'


Kau itu sungguh bodoh!. Seharusnya kau tahu, bahwa elemen dasarku adalah cahaya suci. Dari auramu saja sudah jelas sekali kau berbohong.'' Datar ucapan Qin shui terhadap akting bohong Reza.


Reza tak lagi memberontak. Dirinya malu dan juga pasrah dalam situasinya ini. Karena, sedari tadi. Ia dan Qin Shui menjadi sorotan mata murid murid dari universitas ini dengan berbagai macam topik mengenai dirinya dan juga Qin Shui.


'Dan juga, apa apaan ini?. Kenapa aku tak bisa mengalirkan {mana} ku kedalam vena elemen.' Itu yang Reza herankan juga. Dia merasakan, bahwa yang membuatnya seperti ini bukanlah formasi sihir, melainkan suatu benda atau mahluk yang menghalangi jalur {mana} mengalir menuju vena elemennya.


'Richa, lalu bagaimana caranya nanti kabur dari tempat ini?.' Tentu, Reza terbingung dengan semuanya saat ini.


[Anda tidak bisa kabur, Tuan. Menurut analisa Richael. Sosok wanita bernama Qin Shui ini akan menggunakan tuan untuk membantu mengalahkan Raja malaikat jatuh yang menjadi teror seluruh dunia Deteravuyu.


Dengan bakat tuan yang menjadi master formasi sihir di umur 18 tahun, adalah sebuah peluang bagi mereka untuk mengalahkan Raja Malaikat Jatuh itu.]


Terdiam Reza mendengar analisa dari Richa. 'Namun, walau seluruh mahluk hidup didunia ini mati sekalipun. Aku tak peduli, entah mereka berdosa atau tidak.'

__ADS_1


Reza tidak peduli apapun terhadap dunia ini. Sekalipun hancur lebur menyatu dengan kehampaan. Reza tak peduli. Entah mereka mahluk tak bersalah ataupun bersalah.


Sekalipun Reza tak peduli.


Dia hanya tertarik terhadap sesuatu hal yang menurutnya menarik perhatian dirinya. Selama dia puas, maka dia juga sudah tak tertarik lagi.


Namun, apa pernah Reza mengalami kepuasan itu?.


Jawabannya tidaklah pernah. Dia hanyalah mayat hidup, hanya sebuah boneka mengerti perasaan. Walaupun sudah dua kali hatinya terisi dengan hal hal misterius seperti formasi sihir dan juga, sebuah kecantikan Qin Shui. Namun, hanya sebatas itu, tak lebih tak kurang.


---'---


Reza di bawa kesebuah mansion mewah namun terlihat sederhana dan enak di pandang. Dihalaman mansion, terdapat sosok wanita berambut putih pendek dengan menggunakan penutup mata berwarna hitam, pakaian hitam, dan wajahnya lebih cantik puluhan kali lipat dari Qin Shui.


Namun, Reza tidak lagi terpesona seperti halnya ketika pandangan pertama dengan Qin Shui. Lebih tepatnya, sekarang dia seakan trauma dengan wanita wanita cantik lemah lembut seperti ini, ternyata memiliki kekuatan besar di dalamnya.


Secara paksa dan keras, Qin Shui menurunkan Reza dari pundaknya dan menginjaknya agar tak kabur. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya dan sedikit membungkuk dihadapan wanita memakai penutup mata itu.


''Salam Guru!.'' Ucap Qin Shui dengan rasa begitu hormat.


Si wanita yang dipanggil Qin Shui, guru. Mengangguk, dia kemudian mengarahkan kepalanya menuju Reza.


''Shui'er, kau bisa berdiri lagi.'' Ujar Si Guru itu sembari berdiri dari kursinya dia duduk dan berjalan menuju Reza yang terinjak sesak napas.


Si guru mulai berjongkok didepan Reza. Terlihat, raut wajahnya benar benar rumit dan sangat tak biasa walau matanya sudah tertutup oleh penutup mata.


''Nak Reza, maukah kau menjadi muridku?.''


Secara tiba tiba si guru ini memanggil nama Reza padahal belum dia sebutkan namanya dan meminta dirinya untuk menjadikan dia murid bagi si guru.


Sekarang, giliran Reza yang menatap rumit kepada wanita ini.


''Kenapa kau tau namaku padahal belum pernah aku menyebutnya didepanmu?. Dan juga, apa maksudmu menjadi muridku?. Sejak awal aku diseret kemari oleh baji*ngan jal*ang yang menginjakku ini. Mana sudi aku mau menjadi murid di univer... ughhh.'' Menggerang tertahan napas, Reza karena tekanan yang dari kaki Qin Shui semakin kuat menekan dirinya.


''Kau tadi menyebutku apa, hah?.'' Urat kekesalan mulai muncul di kening Qin Shui bersamaan dengan nada suaranya yang benar benar mengerikan.


''Bu... nuh a... ku sa... ja!.'' Terbata bata dan tatapan mata psikopat, Reza menatap kepada Qin Shui. Dia tak segan segan bila mati sekarang pun juga tak masalah baginya.


Lebih baik mati dibandingkan hidup dengan hati terasa seperti boneka ini.

__ADS_1


Plaaakk.


Tanpa diduga, si guru menampar pipi Reza dengan kuat.


Sejenak, Reza terkejut. Namun, marah dia menatap si Guru walau napasnya begitu sesak terasa. Hanya saja, apa yang dia didapat adalah


Sebuah keindahan dari wajah dibalik penutup mata. Keindahan tiada tara dibandingkan dengan Qin Shui atau wanita yang memiliki kecantikan manapun yang pernah Reza lihat.


Manik mata putih, iris biru laut cerah selayaknya kristal, bulu mata dan alis putih seputih rambutnya.


Itu benar benar sebuah keindahan meruntuhkan kerajaan. Hanya saja, dalam keindahan itu. Terdapat kemarahan dan juga kesedihan mendalam.


''Jangan katakan bahwa kematian bisa menyelesaikan segala macam permasalahan, dasar bodoh!!!. Nak, jadilah muridku!. Akan ku keluarkan kau dari hatimu yang seperti boneka itu!!.'' Terdengar begitu sendu ucapan si guru kepada Reza.


Entah Reza ataupun Qin Shui, mereka sama sama terdiam dengan alasan tersendiri.


Qin Shui terbingung tak mengerti apa maksud dari perkataan gurunya. Hati selayaknya boneka?, apa maksudnya itu?. Dan kenapa guru terasa begitu sedih terhadap Reza?.


Wajah Reza mendatar. Tak lagi menunjukkan keemosian seorang manusia biasa lagi. Saat ini, dirinya seakan selayaknya boneka asli yang memiliki kehidupan.


''Apa maksudmu?. Aku tak mengerti?.'' Datar tanya Reza seakan dia berpura pura tak mengerti, walau wajahnya sudah seperti boneka yang tak memiliki perasaan.


''Sudah jawab saja pertanyaanku nak...'' Semakin terdengar sedih seakan mengharapkan, si Guru ini terhadap Reza.


''Jadilah muridku, nanti akan ku keluarkan kau dari kegelapan itu...'' Rintikan air mata mulai mengalir di pipi si guru.


''Apa maksudmu?. Aku tak mengerti?.''


Ucapan tersebut, kembali terulang dengan nada yang sama dan juga raut wajah yang sama pula.


Si guru menjadi semakin tak tahan hingga memalingkan wajahnya. ''Shui'er, bawa dia dan kurung di ruang tahanan mansion.'' Lemas ucapan si guri terhadap Qin Shui.


''Baik Guru.''


...----------------...


......................


...Daun kiria....

__ADS_1


...Adalah sebuah daun yang biasanya untuk digunakan menjadi bahan dasar potion penyembuh....


...maaf, karena kemarin belum tak jelaskan....


__ADS_2