God Of Law And Nothingness.

God Of Law And Nothingness.
23.


__ADS_3

Hanya saja, bagi Reza. Pertanyaan ini adalah sebuah ungkapan sebenarnya. Sebuah ungkapan dimana, sosok manusia biasa bisa mengalahkan seorang dewa.


Langsung saja, Reza menatap serius pada lembaran kedua ini. Pertanyaan ini, terasa benar benar nyata dan tidaklah omong kosong belaka.


'Sebatang tangkai pohon bisa mengalahkan seorang dewa, walaupun itu hanya manusia biasa, kah. Satu jawaban yang pasti...' Reza membulatkan keputuskan tentang pertanyaan didepannya ini.


"Mungkin, sosok manusia tidaklah bisa mengalahkan eksistensi seorang dewa. Entah itu dengan seni bela diri atau hal lainnya. Selamanya dan tidak akan pernah ada, sosok manusia biasa bisa mengalahkan seorang dewa.


Namun, itu beda ceritanya bila dia memang di akui. Dalam artian, dia adalah kesenian bela diri itu sendiri. Bila dia adalah seni bela diri, maka siapapun itu bisa mengalahkan sosok dewa tanpa kesulitan sama sekali.


Semua yang namanya mahluk hidup, entah terikat takdir ataupun tidak. Semuanya hanya satu kepastian di akhir. Yaitu kematian. Apapun penyebabnya, semua akan berakhir dengan sebuah kematian.


Di dunia ini, tidak ada yang namanya abadi dan juga tidak ada yang namanya tidak bisa menyatu dengan ketiadaan. Semua bisa menjadi tiada dengan segala macam hal!."


Secara tiba tiba. Kitab Kesenian Bela Diri Sebenarnya berubah menjadi serpihan cahaya dan memasuki tubuh Reza.


Seketika, pandangan Reza memutih dan dia pingsan.


Tanpa disadari oleh Reza. Jagat raya mengalami fenomena aneh.


Setiap bencana alam, semua berhenti. Bintang bintang mulai berterbangan membuat sebuah formasi masing masing. Semua orang yang ada di jagat raya, merasakan sebuah sejuknya angin mengalir ke seluruh tubuh.


****


Di alam kultivator.


Di alam ini, sebuah pedang raksasa mengambang di luar angkasa. Pedang tersebut besarnya mungkin sebesar sebuah planet.


Pedang tersebut bergetar dan mulai bercahaya. Namun, dalam sekejap cahaya itu meredup dan kembali normal.


Sosok laki laki sepuh dengan jenggot putih panjang, memperhatikan pedang besar didepannya itu dengan ekspresi terkejut dan senang.


"Ahli seni bela diri akan terlahir di jagat raya. Semua sistem tataan jagat raya mulai di rombak ulang. Tidak ada yang bisa menghalangi lagi, sosok ahli ini agar bisa terus berkembang.


Sang Maha Kuasa telah memiliki saingan. Kuharap, kita semua yang ada di sini bisa bertahan dari kemurkaan Sang Kuasa dan Maha Pencipta dari segalanya"


Ucapan pria tersebut. Seakan memberitahukan kepada seluruh jagat raya. Bahwa, bencana yang lebih mengerikan dibanding sebuah akhir zaman akan datang.


*****


Alam para Dewa Dewi.


Terlihat, di langit. Bercahaya aurora pelangi penuh dengan sebuah keindahan sebelum bencana yang lebih mengerikan dibanding dengan kiamat.


Para dewa dewi mulai saling berbisik dan berbicara dengan tenang kepada orang orang di sebelah mereka.


"Sang Tuhan sejati telah memiliki saingan kembali. Akan seperti apa jagat raya ini nantinya?. Ini terlalu cepat, baru 100ribu milenium setelah Higreos bertarung dengan Sang Tuhan.


Takdir akan berbeda jauh dengan rencana yang telah tuhan tulis."


Ucapan itu, datang dari sosok wanita yang sedang bertapa di sebuah ujung gunung di alam dewa dewi. Terlihat, dia begitu rumit menatap pada langit yang berwarna warni seperti pelangi ini.


****


Di sebuah alam dimana, tempat ini adalah tempat singgahnya Sang Tuhan Sejati. Terlihat, sosok yang entah pria atau wanita. Karena, ketika melihat bahwa dia pria, secara tak sadar. Nyatanya adalah seorang wanita.

__ADS_1


Sebaliknya pun juga.


"Hmm, setelah 100ribu milenium berlalu. Ada mahluk ciptaanku yang mau bertarung denganku lagi. Higreos... Gilgamesh... dan kali ini, sosok manusia biasa yang bernama Reza, kah.


Sepertinya akan menarik. Cukup bosan aku hidup sendirian di dunia ciptaanku sendiri. Dunia luar sekarang sedang dalam masalah. Lebih baik, bertarung dengan anak ini.


Mungkin akan sedikit menyenangkan."


Sebuah senyuman terlukis di wajah sang tuhan sejati.


*****


Dalam pandangan Reza. Semua memutih bersih tiada ujung sama sekali. Hanya dua sosok laki laki dihadapannya yang menatap dirinya dengan sebuah senyuman lembut.


"Jadi, bisakah kau jelaskan dimana aku berada?." Satu kalimat tanya terlontar dari Reza agar semua menjelaskan dengan apa yang terjadi kepada dirinya.


"Saat ini, kita sedang berada di alam bawah sadarmu, nak." Jawab, pria berambut emas lurus dan wajah lebih tampan tak terhingga. Bahkan Reza hanyalah seekor kutu dihadapan ketampanan pria didepannya ini.


Pria di sebelah rambut emas itu, juga ketampanannya sama dengan pria rambut emas. Namun, Reza merasa bahwa wajahnya itu mirip dengannya.


"Tebakanmu benar, nak. Aku adalah kamu. Higreos. Di sebelahku namanya Gilgamesh." Ujar pria berambut hitam pendek seperti Reza memperkenalkan diri sembari memperkenalkan pria berambut emas di sebelahnya itu.


"Begitu, kah." Tanggapan Reza biasa biasa saja tanpa ada keistimewaan sama sekali.


"Baiklah, aku akan kembali ketempatku semula. Gil, kau katanya ada urusan dengan anak ini, kan?. Kalo begitu sampai jumpa."


Tiba tiba Higreos menghilang begitu saja dan meninggalkan Gilgamesh dan Reza.


"Baiklah, Reza. Tak perlu basa basi lagi. Jawab pertanyaanku. Apakah dalam seni bela diri, kita tidaklah boleh bercanda ketika melakuakn sebuah seni bela diri?."


"Bila yang kau bicarakan mengenai seni bela diri untuk bersanding dengan eksistensi seorang dewa. Maka jawabannya tidak!.


Walaupun bukan dengan seorang dewa sekalipun. Sebenarnya, kita tidaklah boleh bercanda ketika melakukan sebuah kesenian bela diri.


Semua itu berasal dari dasar diri kita sendiri. Ketika melakukan sebuah kesenian bela diri. Maka, dengan dasar apa kita melakukannya. Bila hanya di gunakan untuk bercanda saja, maka itu sama saja menghina sebuah kesenian bela diri."


Rumit dan tak jelas perkataan Reza menjawab pertanyaan dari Dewa Gilgamesh ini. Namun, terlihat Gilgamesh tersenyum.


"Penghinaan, kah... Jadi itu menurutmu, nak. Kurasa, kau bisa menghadapinya nanti. Aku dan Higreos tidaklah bisa menghadapinya. Dan mungkin, kau bisa mengalahkannya, anak muda. Waktuku sudah habis, jadi selamat tinggal."


Secara tiba tiba, pandangan Reza menggelap dan dirinya kembali sadar seketika kedalam tubuhnya.


"Sebenarnya, apa yang terjadi dalam hidupku ini?." Gumam Reza menatap langit langit goa dengan rumit.


Reza memosisikan tubuhnya yang terlentang, menjadi duduk normal. Dia merasakan di alam bawah sadarnya, terdapat sebuah kitab emas tentang Kesenian Bela diri Sebenarnya, sedang mengambang.


"Rina, lakukan analisa terhadap kitab itu." Tentu, Reza penasaran dengan isi kitab ini. Bagaimanapun, semua membingungkan.


Jadi, dia memilih untuk menyelesaikan semua permasalahan yang membingungkan ini.


[Di butuhkan sebuah memori tambahan agar bisa mengaplikasikan setiap ilmu yang terkandung didalam kitab ini.]


"Berapa harga memori tambahan itu?."


[1 Poin Tukar, sama dengan 10 tahun memori tambahan. Dan ingatan yang ada di memori tambahan, tidak akan bisa hilang kecuali Tuan menghapusnya.]

__ADS_1


Sejenak, Reza tak berkata apa apa. Bagaimanapun, dia sendiri terbingung harus bagaimana.


"Ahhh, sudahlah... Rina, gunakan semua Poin Tukar yang ada dan juga, buat agar aku memahami kitab ini. Seakan, aku pernah memahami kitab ini beribu ribu tahun."


Senyuman kecut terlukis di wajah Reza. Dia pasrah saja karena bingung harus bagaimana.


[Ding!. Digunakan 2juta Poin Tukar untuk memori tambahan. Dan sisanya untuk memahami setiap dasar dari Kitab Kesenian Bela Diri Sesungguhnya.]


[Ding!. Proses selesai.]


Mata Reza membelak. Tubuhnya bergetar. Sebuah perasaan luar biasa terasa oleh Reza.


"Apakah ini yang dinamakan Seni Bela diri Sesungguhnya?..." Tersenyum kecut, Reza mendapati pemahaman mendalam tentang DASAR dari seni bela diri.


"Bahkan, se ekor semut kecil yang mudah dibunuh sekalipun. Aku yakin seratus persen, semut itu bisa membunuh dewa bila dia mengetahui seni bela diri sesungguhnya secara lengkap. Pengetahuanku masihlah kumannya kuman dalam sebuah seni bela diri.


Rina, butuh berapa banyak lagi Poin Tukar yang di butuhkan agar bisa mempelajari seutuhnya dalam seni bela diri sebenarnya?."


Reza tidak bisa lagi dikatakan waras saat ini. Dia telah melihat sebenarnya, dari DASAR DARI PALING DASAR dalam sebuah Kesenian Bela Diri Sebenarnya.


Reza sadar, walau ini hanya sebatas dasar dari paling dasarnya seni bela diri sesungguhnya. Dengan ilmu yang baru didapatnya ini, Reza yakin dia bisa membunuh seseorang tingkat Expret Supreme dengan usaha yang keras.


[Mungkin... 1000desiliun lebih, Poin Tukar yang di butuhkan agar bisa memahami dan membeli memori tambahan untuk secara keseluruhan Kitab Kesenian Bela Diri Sebenarnya.]


"Kurasa, aku harus bekerja keras."


...—--<<{♤}>>--—...


...Nih kuingetin bagi kalian pembaca....


...Kata dan definisi dari Tuhan, itu berbeda ya. Kalian harus tau, makna dari kata tuhan itu apa....


...Kalian jangan baper dan bawa bawa keagamaan dalam sebuah karya novel manapun....


...Author tidak mempermasalahkan apa yang kalian pikirkan ketika sebuah karya cerita, ada kata kata tuhan, tuhan sejati, atau apapun itu....


...Ingat!. Kalian sedang baca novel bukan membaca kenyataan!....


...Jangan sangkut pautkan dengan dunia nyata, dalam dunia karya....


...Mungkin, kalian bisa baper bila ada kalimat yang mencela atau bersifat negatif terhadap hal yang berkaitan dengan ketuhanan di dunia nyata....


...Author juga marah bila ada kalimat seperti itu, walaupun kalimat itu bukanlah merunjuk kepada sosok yang author sembah....


...Namun, bila tidak ada yang bersifat negatif. Kalian jangan bawa perasaan dalam sebuah dunia karya kedalam dunia nyata....


...Dunia karya adalah dunia tempat kita memberikan sesuatu hal baru, namun terdapat dua bidang....


...Bidang pertama adalah bidang nyata....


...Dan bidang kedua adalah bidang tidak nyata maupun bersifat maya....


...Karya novel author bersifat maya dan tidak akan menjelek jelekkan keagamaan manapun....


...Sekian dan terima kasih, dah itu aja yang pingin author sampaikan....

__ADS_1


...Papayo....


__ADS_2