Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Membuka Rahasia


__ADS_3

Inggit kembali melukis di dalam kamarnya. Semenjak mulai menyalurkan hobi lamanya dalam bidang seni, Inggit mulai merasakan semangat hidup yang dulu sempat terkubur rapat. Dalvin yang membuat semangat itu kembali hadir dalam hidupnya, pujian terhadap setiap karya seni yang ia hasilkan membuat semangat Inggit untuk terus berkarya kembali hadir.


Inggit yang biasanya suka sakit hati dengan setiap penolakan yang Fandi lakukan kini mengalihkan rasa sakit hatinya dan menuangkannya dalam bentuk seni. Hasil kerajinan seni yang ia buat sarat makna dan hanya penikmat seni kelas atas yang bisa membacanya. Hasil seni Inggit adalah penggambaran rasa sakit hati dan kecewa dalam dirinya. Lukisan orang sedang tersenyum namun aura lukisan itu begitu gelap, persis seperti yang Inggit rasakan.


Inggit melakukan foto karya seninya sendiri dan mengirimkannya kepada Davin setelah lukisannya selesai dibuat. Dalvin tak bisa ke rumah Inggit untuk sementara waktu karena Inggit melarangnya. Inggit tak mau Dalvin bertemu lagi dengan Fandi dan berujung dengan pertengkaran yang lebih parah lagi dari sebelumnya. Dalvin melakukan tugasnya yakni mengirimkan setiap foto hasil seni Inggit ke temannya dari galeri seni.


Terlalu sibuk dengan membuat karya seni membuat Inggit sudah tak pernah lagi mengurusi Fandi. Inggit lebih asyik dengan imajinasinya dibanding berharap pada cinta Fandi yang tak pernah ada. Inggit tak tahu kalau pagi ini mertua dan adik iparnya yang menyebalkan kembali datang ke rumah mereka untuk melakukan kunjungan mendadak dan mencari kesalahan Inggit sekecil apapun.


Malangnya Inggit yang semalaman begadang baru tertidur di pagi hari dan tak tahu apa yang sedang terjadi di rumahnya. Mama Olla masuk ke dalam rumah dan melihat keadaan rumah yang berantakan. Yang lebih membuat Mama Olla terkejut adalah ia melihat putra kebanggaannya sedang menggoreng telur. Pinggiran telurnya agak gosong karena ditinggal untuk membuka pintu.


"Kenapa rumah kamu jadi seperti kapal pecah begini? Mana istri kamu? Kenapa malah kamu sendiri yang menggoreng sendiri telur untuk sarapan? Dia enggak mau ngurusin kamu? Apa saja kerjanya selama ini?" Mama Olla langsung mengomel pada Fandi.


"Inggit sepertinya masih tidur, Ma," jawab Fandi dengan sejujurnya.

__ADS_1


Fandi tak sadar kalau Mama Olla yang sangat emosi melihat kelakuan menantunya langsung pergi ke kamar Inggit dan menggedor pintu kamarnya dengan kencang. Inggit yang belum lama tertidur pun terkejut dan terbangun karena suara gendoran di pintu yang sangat kencang dan memekakkan telinga.


"Inggit, bangun kamu! Enak sekali kamu jam segini masih tidur! Buka pintunya! Dasar menantu tak tahu diri, kamu pikir kamu itu nyonya besar?" teriak Mama Olla dari depan pintu kamar Inggit. Inggit pun membukakan pintu kamarnya yang sengaja ia kunci dan langsung mendapat omelan.


"Oh ... bagus ya kamu asyik-asyikan tidur sementara suami kamu menyiapkan sendiri sarapannya? Istri macam apa kamu ini?" Mama Olla langsung memaki Inggit yang tak tahu apa yang sedang terjadi karena baru bangun tidur.


"Ada apa sih, Ma? Kenapa sih harus marah-marah?" tanya Inggit dengan santainya.


"Kamu nanya kenapa sama Mama? Suami kamu sarapan pagi masak sendiri sementara kamu asyik tidur di dalam kamar. Bisa tidak kamu mengurus suami kamu? Dasar perempuan malas! Begini nih kalau anak tak punya orang tua, enggak ada yang mendidik! Sudah miskin, banyak ulah pula! Kamu pikir kamu nyonya besar apa?" Mama Olla menumpahkan semua kesalahannya pada Inggit.


"Heh, kamu enggak mau ngurusin anak saya lagi? Kamu enggak mau jadi istrinya Fandi lagi? Kemampuan kamu tuh apa sih? Sudah tidak bisa memberi anak eh kamu tidak mau mengurusi Fandi pula! Lebih baik kamu bercerai saja dari Fandi! Fandi enggak butuh istri kayak kamu! Anak saya terlalu berharga untuk kamu, menantu kurang ajar yang tak tahu diri!" Kemarahan Mama Olla semakin bertambah saja.


Inggit mengepalkan tangannya dengan kesal. Dia juga tersulut emosinya dengan perkataan Mama Olla. Inggit tak bisa terus menerus menahan amarahnya jika dihina seperti ini. "Kenapa sih Mama selalu mengatakan kalau aku ini enggak bisa memberikan Mas Fandi anak? Aku tuh sehat, Ma. Mama jangan selalu menyudutkanku. Memangnya Mama tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga kami? Mama tahu kenapa sampai sekarang aku belum hamil?"

__ADS_1


"Inggit!" Fandi membentak Inggit. Fandi mencegah Inggit mengatakan semua rahasia pernikahan mereka. Fandi sadar, Inggit yang sekarang bukanlah Inggit penurut yang selama ini bisa ia perintah ini dan itu. Inggit yang dikenalnya sudah berubah, Inggit bahkan berani melawannya.


Inggit menengok ke arah Fandi lalu tersenyum menantang. "Kenapa, Mas? Mas takut?"


"Tutup mulut kamu, Git!" perintah Fandi.


Inggit tersenyum mendengar ancaman Fandi. Melihat Fandi yang terlihat ketakutan, Inggit semakin berbuat nekat saja. Ia menatap mertuanya sambil tersenyum smirk bak Joker. "Coba Mama tanya sama anak Mama, apa dia pernah meniduri aku selama 3 tahun ini?"


Mama Olla terlihat terkejut. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar mendengar perkataan Inggit. "Maksud kamu apa?"


"Inggit!" Fandi kembali mencegah Inggit mengatakan semua permasalahan mereka. Fandi membanting piring dan berjalan mendekat untuk mencegah Inggit berkata lebih banyak lagi.


Inggit tak peduli. Ia kesal karena selalu disalahkan selama ini. "Ya ... Mama tak salah dengar. Selama ini Mas Fandi tak pernah meniduriku sama sekali, Ma. Bagaimana aku bisa hamil kalau sampai sekarang aku tuh masih perawan?" Inggit tersenyum puas ke arah mertuanya. "Sekarang Mama tanya deh sama anak Mama, kenapa dia enggak mau meniduri aku? Aku wanita tulen dan cukup seksi loh, kenapa dia tak tertarik sama sekali? Jangan-jangan, kecurigaan Mama selama ini kalau anak Mama menyimpang dan tidak menyukai perempuan, benar lagi?" Inggit tersenyum puas ke arah Fandi. Baginya, ini adalah pembalasan yang pantas untuk suami yang tak pernah membela istrinya.

__ADS_1


"Apa benar itu, Fandi?"


****


__ADS_2