Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Minta Maaf


__ADS_3

Inggit mengacuhkan pertanyaan Fandi. Ia melakukan apa yang selama ini Fandi lakukan terhadapnya, bersikap dingin dan acuh. Rupanya rasa sakit hati yang dirasakan Inggit masih membekas dalam dirinya. Perasaan terhina karena terus ditolak oleh Fandi terus terbayang dan sudah menghancurkan harga diri Inggit.


Fandi kembali mengajukan pertanyaan yang sama pada Inggit. "Git, kamu belum jawab pertanyaanku. Ada hubungan apa kamu dengan tetangga sebelah kita?"


Inggit terus berjalan ke halaman belakang dan mengeluarkan isi kantong plastik yang dibawanya. Terdapat tanah liat, cat air dan canvas yang ia minta tolong Dalvin untuk belikan. "Tak ada apa-apa," jawab Inggit dengan dingin.


Inggit menyetel musik klasik agak kencang dan sibuk dengan tanah liat di tangannya. Inggit memang memiliki darah seni yang melekat dalam dirinya. Mungkin berasal dari orang tuanya dulu, Inggit sendiri tak tahu. Melihat orang tuanya saja Inggit tak pernah. Inggit hobby melukis dan membuat kerajinan seni dari tanah liat.


Fandi menghela nafas dalam. Ia kesal diacuhkan Inggit. Fandi masuk ke dalam kamarnya dan sengaja tidak menguncinya. Ia pikir Inggit akan menggodanya lagi seperti sebelumnya, ternyata apa yang Fandi pikirkan tidak terjadi. Inggit malah asyik mengerjakan karya seninya sampai malam dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Tak menggoda ataupun sekedar bertanya apakah Fandi mau makan atau tidak. Fandi merasa istrinya sangat aneh, bukan seperti Inggit yang biasa.


Fandi yang biasanya pulang larut malam bahkan terkadang menginap di kantor kini selalu pulang ke rumah tepat waktu. Ia makin penasaran dengan Inggit. Kenapa Inggit bisa dalam waktu singkat berubah dari agresif menjadi sangat acuh? Tak sabar terus menerus diacuhkan, Fandi kembali mengajak Inggit bicara.


"Kamu kenapa sih? Tak biasanya kamu mengacuhkan aku seperti ini, tau enggak!" protes Fandi.


"Lalu yang biasanya boleh mengacuhkan itu siapa? Hanya Mas Fandi saja gitu dan aku tak boleh?" sindir Inggit yang asyik mengerjakan patung miliknya.


"Bukan itu maksudku. Jadi kamu marah padaku? Oke, aku minta maaf atas kejadian waktu itu di kantorku. Kamu sendiri yang datang tanpa bilang dahulu. Aku tak suka saat bekerja diganggu. Untuk menebus kesalahanku, bagaimana kalau kita makan malam di luar bersama?" tawar Fandi.


"Tak usah, Mas. Aku sudah masak. Kalau Mas mau makan di luar, makan saja sendiri. Nanti biar aku saja yang habiskan, mubazir," kata Inggit dengan dingin. Inggit sama sekali tak melihat ke arah Fandi saat berbicara. Inggit kesal karena tak melihat adanya penyesalan dalam diri Fandi.


Fandi terlihat kesal karena niat baiknya mengajak makan malam Inggit malah ditolak mentah-mentah. Bukankah dia sudah minta maaf? Kenapa Inggit masih bersikap dingin padanya?


Fandi sengaja menahan dirinya. Ia tak mau terkesan memaksa Inggit pergi bersamanya. Ia pun memasang sikap sok cool padahal hatinya kesal bukan main karena ditolak Inggit. "Baiklah kalau kamu tak mau. Padahal aku mau mengajak kamu makan steak daging A5 yang super enak dan mahal. Kalau kamu tak mau ya sudah."

__ADS_1


Inggit tak menanggapi ucapan Fandi. Ia masih asyik dengan patung tanah liat yang dibuatnya. Fandi yang kesal pun meninggalkan Inggit dan masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar Fandi mengomel sendiri. Ia kesal karena Inggit terus mengacuhkannya. "Pasti semua ini ada hubungannya dengan tetangga sebelah yang centil itu. Sejak kapan sih mereka jadi dekat seperti itu? Awas saja kalau tetangga rese itu sampai mencuci otak Inggit!"


****


Hatchim!


Dalvin tiba-tiba bersin. "Siapa yang lagi membicarakanku ya?" batin Dalvin. Dalvin sedang berada di kantor miliknya. Anak buahnya meminta Dalvin untuk datang karena ada informasi penting yang ingin disampaikan.


"Bos, akhirnya dia mau mengaku!" lapor anak buah Dalvin.


"Bagus. Biar saya saja yang dengar sendiri pengakuannya!" Dalvin pun pergi meninggalkan kantornya yang nyaman. Ia menuju lantai bawah tanah ke tempat rahasia yang sengaja ia ciptakan agar tak ada yang tahu apa yang ia dan anak buahnya lakukan.


Di depan Dalvin nampak pria berusia sekitar 50 tahun dengan wajah babak belur habis dihajar anak buah Dalvin. Anak buah Dalvin dengan sigap memberikan tempat duduk untuk Dalvin.


"Bagaimana? Sudah mau mengaku?" tanya Dalvin dengan nada mengintimidasi.


"Tolong lepaskan saya. Kasihanilah saya. Saya punya istri dan anak yang masih membutuhkan saya. Jangan bunuh saya, saya mohon!" pinta pria di depan Dalvin. Matanya bengkak dan pelipisnya robek. Sadis benar cara anak buah Dalvin menginterogasinya. Kalau saja dia langsung mengaku, pasti luka yang ia terima tak sebanyak ini.


"Saya akan melepaskan kamu, kalau kamu menjawab jujur pertanyaan saya. Tak ada gunanya juga saya menahan kamu lebih lama di ruangan ini. Pilihannya adalah kamu keluar dari ruangan ini dalam keadaan hidup atau ... mati?" Dalvin menatap dengan tajam, pria di depannya sampai bergidik ngeri.


Dalvin memang tidak memukul dan menyiksa dengan tangannya. Namun ancaman Dalvin lebih menyeramkan dibanding yang dilakukan anak buahnya.

__ADS_1


"Jadi ... dimana Angel?" tanya Dalvin.


Pria di depannya menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu."


Dalvin tersenyum smirk, membuat pria di depannya merasakan aura yang lebih menyeramkan lagi dari sebelumnya. "Saya tak suka membuang waktu. Waktu saya sangat berharga untuk dihabiskan bersama orang tak berguna seperti kamu. Jawab jujur, dimana Angel? Bukankah kamu yang membawa Angel waktu itu?"


"Sa-saya tidak membawa Angel. A-anak itu ... sudah mati tertabrak mobil," jawab pria di depannya dengan terbata.


"ANGEL TAK MUNGKIN MATI!" teriak Dalvin dengan suara kencang. Dalvin berdiri dan menendang kursi pria itu dengan kencang. Emosi kini menguasai Dalvin.


Bruk!


Pria itu meringis kesakitan saat kursi yang didudukinya jatuh dan tubuhnya juga ikut jatuh. Mata pria itu membesar saat melihat Dalvin mendekat. Rasa takut kini menguasainya. Dalvin sangat berbahaya dan menyeramkan. Jauh lebih berbahaya dari anak buahnya.


Dalvin bersiap menendang wajah pria itu dengan sepatu bootsnya namun urung ia lakukan. Pria itu berteriak kencang. "Saya tahu plat nomor mobil yang menabraknya! Saya jujur, tolong ampuni saya. Saya hanya disuruh menjaga Angel tapi dia kabur dan tertabrak. Saya mohon ampuni saya!"


Dalvin menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskannya dengan kasar. "Baguslah kamu mau jujur. Kamu masih sayang nyawamu juga ternyata. Jadi, berapa nomor plat mobilnya?"


"B 0909 LO."


Dalvin langsung memerintah anak buahnya. "Cari plat nomor yang dia katakan. Kalau memang benar, bebaskan dia dan buang di pinggir jalan toll. Kalau dia berani membohongi saya, habisi saja nyawanya!"


****

__ADS_1


__ADS_2