Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Menangis Histeris


__ADS_3

Dalvin meninggalkan panggung saat melihat Inggit tiba-tiba berjongkok sambil menutup kedua telinganya. Dalvin berlari ke arah Inggit yang tiba-tiba menggigit tangan Fandi. Mulut Inggit terus meracau tak jelas. Tak lama Inggit jatuh pingsan.


"INGGIT!" teriak Dalvin seraya menangkap tubuh Inggit agar tidak jatuh ke lantai. Tangkapan Dalvin tepat sasaran. Inggit jatuh di pelukannya.


"Git, Git! Sadarlah!" Dalvin menepuk pipi Inggit mencoba menyadarkannya tak peduli banyak pasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan heran.


"Minggir! Biar aku saja!" Fandi mengusir Dalvin dengan kasar.


Dalvin tak bisa berbuat apa-apa selain mengalah. Dalvin sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa Inggit. Fandi yang lebih berhak dibanding dirinya.


Dengan terpaksa Dalvin menyerahkan Inggit pada Fandi yang langsung menggendongnya meninggalkan acara. Dalvin mengikuti langkah Fandi karena khawatir dengan keadaan Inggit. Fandi membawa Inggit ke rumah sakit.


"Pulanglah! Tak perlu menunggu Inggit. Dia bukan siapa-siapamu!" kata Fandi dengan ketus.


"Tak mau. Aku akan pergi kalau kulihat Inggit dalam keadaan baik-baik saja. Aku memang bukan siapa-siapa Inggit namun aku yang paling mengenal Inggit dibanding kamu, suaminya sendiri!" balas Dalvin.


"Kamu!" Fandi menahan amarahnya. Ia tak mau membuat keributan di rumah sakit. Sudah cukup tadi banyak yang mengambil gambar dirinya dan Dalvin yang memperebutkan Inggit. Jangan sampai citranya jadi jelek karena emosi sesaat.


Fandi dan Dalvin duduk tenang menunggu dokter yang memeriksa Inggit selesai. Tak lama suster memanggil, "Keluarga Ibu Inggit!"


"Iya!" jawab Fandi dan Dalvin kompak.


"Maaf, keluarga Ibu Inggit?" Keduanya cepat-cepat menghampiri suster.


"Iya, Suster. Saya suaminya," jawab Fandi.


"Saya tetangga sekaligus sahabatnya, Suster," jawab Dalvin tak mau kalah.


"Tolong tetap tenang ya. Ibu Inggit baru saja sadar!" pesan suster.


"Iya, Sus," jawab keduanya kompak.


Suster pun meninggalkan keduanya yang menghampiri Inggit.


"Gimana keadaan kamu, Git?" tanya keduanya lagi-lagi dengan kompak.


"Aku duluan yang nanya!"


"Aku yang duluan!"


"Aku suaminya!"


"Aku calon pacar dan calon suaminya kelak!"

__ADS_1


"Enak aja, jangan harap!"


"Suka-suka lah!"


Suster yang baru beberapa langkah pergi kembali lagi. "Kalau kalian tidak bisa tenang dan akur, maka tidak saya ijinkan bertemu Ibu Inggit!" ancam suster pada keduanya.


"Iya, Sus. Kami akan tenang kok."


"Betul. Kita akur kok, Sus."


Suster kembali meninggalkan Inggit. Fandi yang bertanya duluan pada Inggit. "Yang mana yang sakit, Git?"


Inggit memegang kepalanya yang terasa berdenyut. "Avin mana?"


"Avin? Tak ada yang namanya Avin," kata Fandi.


Inggit mencari ke belakang Fandi dan menemukan Dalvin yang menatapnya dengan tatapan khawatir. "Vin! Huaaa!"


Dalvin maju dan memeluk Inggit. "Tenanglah, aku ada di sini." Dalvin mengusap rambut Inggit dengan lembut dan menenangkannya.


"Git, kenapa kamu memeluknya? Aku yang suamimu, Git!" kata Fandi dengan wajah kesal.


"Biarin aja sih, Inggit maunya peluk aku weekkk!" Dalvin merasa menang satu langkah dibanding Fandi.


Inggit melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Fandi. "Mas, aku mau bicara sebentar dengan Mas Dalvin, boleh?"


"Please, Mas. Ada yang mau aku bicarakan dengan Mas Dalvin." Inggit menatap Fandi dengan penuh harap.


"Baiklah, jangan lama-lama dan jangan berbuat macam-macam! Ingat, kamu itu masih istriku, Git!" ujar Fandi.


"Iya, Mas."


Dengan berat hati Fandi pergi meninggalkan kamar rawat Inggit. Kini hanya tinggal Inggit dan Dalvin di dalam kamar rawat kelas VIP tersebut.


"Vin ... sejak kapan kamu tahu?" tanya Inggit.


"Tahu? Tahu apa?" tanya Dalvin bingung.


"Tahu kalau aku adalah ... Angel?"


Dalvin menatap Inggit tak percaya. "Kamu ... sudah mengingat semuanya?"


Inggit mengangguk. "Vin, bagaimana keadaan Papa dan Mama? Dimana mereka sekarang?"

__ADS_1


"Mereka ... sudah meninggal, Git." Dalvin begitu berat mengatakan kebenaran ini pada Inggit.


Inggit menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tak percaya dengan apa yang Dalvin katakan. "Tak mungkin, Vin. Papa dan Mama tak mungkin meninggal. Katakan padaku kalau semua itu bohong! Aku masih melihat Papa hidup dan berbicara, Vin. Papa tak mungkin meninggal!"


Seperti yang sudah diduga oleh Dalvin, Inggit menangis histeris sampai suara tangisannya terdengar keluar. Fandi cepat-cepat masuk bersama suster dan dokter jaga yang khawatir dengan keadaan Inggit.


"Git, kamu kenapa?" Fandi panik melihat Inggit menangis sambil berteriak-teriak.


"PAPA TAK MUNGKIN MENINGGAL! MAMA TAK MUNGKIN TINGGALKAN AKU! PAPA ... MAMA ...."


Inggit melempar selimut dan mencopot selang infus yang terpasang di tubuhnya dengan paksa. Fandi dan Dalvin berusaha menenangkan Inggit namun sia-sia. Sepuluh tahun lebih Inggit tak bertemu kedua orang tuanya, betapa hancur hatinya saat tahu kalau orang tua yang selama ini tak pernah ada di memorinya sekarang ketika memori itu kembali, kedua orang tuanya telah tiada.


Dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang agar Inggit tak lagi menangis histeris. Tak lama Inggit mulai tenang dan jatuh tertidur.


Fandi dan Dalvin bisa bernafas lega. Fandi lalu berdiri dan menarik kerah Dalvin dan membawanya keluar kamar. "Katakan, apa yang kamu lakukan sampai istriku histeris seperti itu!"


"Aku tak melakukan apapun!" jawab Dalvin dengan jujur.


"Alah, jangan kebanyakan berbohong deh. Inggit masih tenang saat kutinggalkan, kenapa tiba-tiba histeris? Apa yang kamu katakan padanya?" desak Fandi.


Dalvin melepaskan tangan Fandi dan menatapnya dengan wajah serius. "Aku tak berbohong. Inggit yang sudah mengingat semuanya. Aku hanya menjawab pertanyaannya saja. Sudah saatnya Inggit tahu semua tentang hidupnya." Dalvin menghempaskan tangan Fandi dan pergi meninggalkan rumah sakit.


****


Tatapan mata Inggit terlihat kosong dengan air mata yang terus menetes tanpa henti. Sejak terbangun dan menyadari kalau dirinya sudah kehilangan kedua orang tua yang disayanginya, Inggit jadi makin pendiam. Ia tak mau makan dan hanya melamun saja.


"Git, Mas bawa buah nih. Kamu mau yang mana?" bujuk Fandi.


"Git, mau nonton TV tidak?"


"Git, mau makan siang sekarang?"


"Git, kamu kenapa sih? Ayo, cerita sama aku ada apa? Bukankah aku suamimu? Katakan padaku apa yang sudah terjadi? Mungkin aku bisa mencari solusi yang terbaik atas masalahmu," bujuk Fandi untuk yang kesekian kalinya.


"Aku mau pulang, Mas," kata Inggit dengan suara lemah.


"Iya, aku akan bilang sama dokter. Kamu cerita dulu dong sama aku, ada apa?" tanya Fandi lagi.


Inggit tak menjawab. Ia kembali terdiam dan melamun sambil sesekali menangis. Fandi tak tahu lagi harus berbuat apa. Jika sebelumnya Inggit bersikap dingin padanya, kini Inggit semakin acuh dan tak peduli. Inggit seakan menjadi orang lain.


Sesampainya di rumah pun Inggit lebih banyak mengurung diri di ruang melukisnya. Kadang terdengar suara tangis yang memilukan, membuat Fandi sedih melihatnya. Mau menghibur pun Fandi tak tahu bagaimana.


Dengan membuang egonya, Fandi mengetuk pintu rumah Dalvin.

__ADS_1


"Loh? Tumben nyariin? Kenapa?" tanya Dalvin sambil melipat kedua tangannya di dada.


****


__ADS_2