Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Pengganggu Acara Orang Lain


__ADS_3

Fandi senang akhirnya Inggit mau pergi makan malam dengannya di luar. Ia yang sudah rapi pun menunggu Inggit di depan rumah, tak lama Inggit keluar. Inggit mengenakan dress pemberian Fandi saat mereka awal menikah dulu. Fandi terpukau dengan penampilan Inggit yang berbeda malam ini.


Fandi membukakan Inggit pintu mobil, hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan. Di restoran pun Fandi memperlakukan Inggit dengan spesial. Fandi terus menatap Inggit dan mengagumi kecantikannya. Fandi baru menyadari kalau istrinya sangat cantik, cara Inggit duduk pun terlihat anggun.


"Kemana saja aku selama ini, kenapa baru sekarang aku menyadari kalau istriku ternyata sangat cantik?" batin Fandi.


Tak mau suasana semakin canggung, Fandi pun bertanya kepada Inggit, "Kamu mau pesan apa?"


Inggit melihat-lihat menu makanan yang terlihat menggoda. "Yang enak apa ya?" tanya balik Inggit.


"Kayaknya sih menu steaknya paling enak," jawab Fandi. Sedang asyik melihat-lihat buku menu mereka kedatangan tamu tak diundang.


"Inggit?" Sebuah suara menyebalkan terdengar di telinga Fandi.


Inggit mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang memanggilnya. "Mas Dalvin?" Inggit tersenyum lebar pada tetangga sebelah rumahnya yang ternyata sedang berada di restoran yang sama. "Sama siapa, Mas?"


"Sendiri saja. Aku lapar dan kulihat ada restoran yang baru dibuka. Boleh aku gabung?" Tanpa menunggu jawaban Fandi, Dalvin duduk di samping Inggit.


"Heh, kamu tuh belum dikasih ijin. Kenapa seenaknya saja duduk?" kata Fandi.


"Boleh 'kan aku gabung, Git?" Dalvin malah bertanya pada Inggit dan mengacuhkan Fandi.


"I-iya, Mas. Silahkan. Kosong kok tidak ada orang."

__ADS_1


Dalvin tersenyum lebar, berbeda sekali dengan Fandi yang memanyunkan bibirnya dengan sebal. "Merusak suasana saja," gumam Fandi pelan.


Dalvin lalu memesan menu dan mengajak Inggit mengobrol. Mengacuhkan Dalvin yang menatapnya dengan tatapan sebal. "Git, kemarin temanku mengabari. Katanya ada seniman yang mencari kamu."


"Mencari aku? Mau apa ya, Mas?" tanya balik Inggit.


"Katanya dia penasaran dengan kamu. Hasil karya kamu sepertinya sedang ramai diperbincangkan deh. Aku kurang mengerti tentang seni, mereka bilang karya kamu mirip dengan seniman terkenal. Ada satu unsur yang melekat di dalamnya dan hanya seniman sejati yang bisa membacanya," jawab Dalvin serius.


"Unsur yang lekat? Apa itu ya, Mas?"


"Aku tak tahu. Temanku bilang, saat pameran berikutnya seniman itu mau bertemu kamu langsung. Kamu persiapkan saja karya-karya terbaikmu. Aku yakin, kali ini harga karya senimu akan naik berkali lipat!"


"Ehem!" Fandi berdehem untuk memberitahu kedua orang di depannya kalau masih ada dirinya yang diacuhkan. Fandi tak suka keduanya asyik di depannya sementara dirinya sendiri diacuhkan.


"Eh ada orang," sindir Dalvin membuat Inggit hampir tak kuat menahan tawanya.


"Tak perlu, Mas. Buang-buang uang saja. Nanti kalau kita renov, Mama kamu ngomel sama aku lagi," tolak Inggit.


Dalvin menertawakan jawaban Inggit. "Masa sih renovasi saja sampai diurusin sama mertua? Kayak enggak ada kerjaan saja."


"Orang luar enggak usah ikut campur rumah tangga orang lain deh," ketus Fandi. "Pergi saja cari tempat duduk lain!"


Fandi kini kembali berusaha meyakinkan Inggit. "Kamu tenang saja. Mama urusanku. Toh ini rumah kita berdua. Kamu mau request apa? Mau ruang kerja kamu diperbesar?"

__ADS_1


"Enggak usah, Mas. Kalau memang uang hasil seniku sudah banyak, aku akan menyewa ruko sendiri," tolak Inggit lagi.


Dua kali Fandi ditolak mentah-mentah. Kesempatan ini Dalvin manfaatkan untuk mendekati Inggit. "Aku tahu ruko yang cocok untuk memamerkan hasil karya seni kamu, Git. Kapan-kapan kita main ke sana ya!"


"Oh ya? Dimana tuh, Mas?" Inggit kembali tertarik dengan tawaran yang Dalvin berikan.


Fandi menatap keakraban istrinya dengan tetangga sebelah rumahnya dengan kesal. Jiwa persaingan dalam dirinya tak terima melihat istrinya direbut lelaki lain. Acara makan malam yang semula dipikir Fandi akan membuat hubungan mereka kembali akrab malah kacau karena tetangga sebelah rumahnya yang suka ikut campur.


Fandi malah menjadi obat nyamuk dan hanya bisa diam saja melihat keakraban Inggit dan Dalvin. Beberapa kali Fandi berusaha membuat topik obrolan yang seru namun Inggit menanggapinya dengan biasa saja. Berbeda saat Dalvin yang membuka topik, Inggit terlihat tertarik dan bahkan tertawa lepas.


Acara makan malam mereka bisa dibilang gagal. Pulang dari makan malam, Inggit kembali masuk ke dalam kamarnya dan tak banyak bicara. Fandi merasa kalah dan ia bukanlah orang yang bisa menerima kekalahan dengan mudah. "Hari ini belum berakhir, Git. Jangan panggil aku Fandi kalau begitu saja sudah membuatku menyerah!"


****


Dalvin tak langsung pulang setelah makan malam bersama Inggit. Dalvin pergi ke suatu tempat dimana tersimpan banyak kenangan manis.


Sebuah taman di pinggir kota tempat ia pertama kali bertemu dengan Angel, malaikat di hatinya. Sudah 10 tahun lebih berlalu sejak Angel hilang. Dalvin yang saat itu baru duduk di bangku SMP bertemu anak SD yang cantik dengan wajah manis dan ayu. Anak itu bernama Angel, warga baru di lingkungan tempatnya tinggal.


Mereka sering bertemu di taman sepulang sekolah. Angel adalah anak yang manis dan ramah. Mereka bermain ayunan dan jungkit-jungkit bersama. Jika ada yang meledek Dalvin, Angel akan maju dan berani mengomeli anak yang menjahilinya.


"Kamu dimana, Angel? Sudah lama aku mencari kamu namun tak juga kutemukan. Kalau memang kamu sudah tiada, dimana makammu? Aku tak bisa hidup tenang sebelum menemukanmu. Jika saja waktu itu aku terus bersama dan tak meninggalkanmu karena rasa penasaranku yang amat besar, pasti kamu masih ada saat ini di sampingku."


Dalvin mengusap wajahnya yang terasa lelah. Pencarian Angel tak semudah yang ia pikir. Terlalu banyak jejak yang dihilangkan karena malam itu bertepatan dengan malam ditemukannya kedua orang tua Angel yang sudah tak lagi bernyawa.

__ADS_1


"Semoga kamu masih hidup. Itu saja harapanku."


****


__ADS_2