Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Persaingan Dua Kubu


__ADS_3

"Benarkah? Wah, asli, bodoh sekali Fandi itu. Kalau aku jadi suami kamu, tak akan aku biarkan kamu nganggur, Git. Setiap malam akan aku ajak bersenang-senang," jawab Dalvin tanpa disaring dahulu.


"Apa sih, Mas? Aku malu ah mendengarnya!" protes Inggit.


"Eh, sorry, aku kadang suka lepas kendali kalau masalah begitu ha ... ha ...." Dalvin tertawa puas. "Eh, maaf lagi. Jujur, aku senang loh kamu belum pernah disentuh Fandi. Ini kesempatan buat aku. 3 bulan lagi kita nikah ya. Aku akan jadi lelaki pertama di hidup kamu, yes!" Dalvin seperti habis mencetak gol kemenangan saja.


"Menikah? 3 bulan lagi? Memang kamu pernah melamarku sebelumnya, Mas? Kok sudah merencanakan pernikahan saja sih?" protes Inggit.


"Aku tak peduli, pokoknya kamu harus menikah denganku. Titik."


Inggit tersenyum malu dengan jawaban Dalvin. "Sebenarnya, kamu juga yang pertama kali menciumku loh, Mas."


"Hah? Serius? Waduh, kok bisa si Fandi bodoh begitu sih? Jangan-jangan dia memang beneran suka sesama jenis lagi?" cibir Dalvin.


"Kalau itu ... aku tak yakin, Mas. Mas Fandi pernah cerita kalau dia dulu mencintai Naura, model dan artis terkenal itu. Sayangnya, Naura berkhianat. Mungkin karena pernah dikhianati, Mas Fandi jadi dingin dengan wanita. Entahlah. Aku juga tak yakin dengan semua tentangnya sejak aku ditipu habis-habisan," kata Inggit sambil tersenyum kecil. Senyum namun hati terasa tercubit.


"Naura? Sebentar, kayaknya aku kenal deh. Aku akan coba cari nomor kontaknya dan aku akan hubungi Naura secepat mungkin. Kalau kamu enggak percaya sama Fandi, maka kamu harus percaya sama aku. Aku enggak pernah membohongi kamu loh! Sekarang aku akan mendaftarkan perceraian kamu di pengadilan agama. Pokoknya kamu harus cerai secepatnya! Dengan begitu kita bisa langsung menikah!" kata Dalvin sambil tersenyum lebar.


"Pemaksaan ini namanya," cibir Inggit.


"Loh, memangnya tak mau?" tanya Dalvin dengan wajah serius. Hilang sudah senyum lebar dari wajahnya. "Jawab jujur, memangnya kamu tak mau menikah denganku?"


Dalvin mengangkat wajah Inggit dengan jari telunjuknya. Kini kedua mata mereka saling bertatapan. "Yakin?"


"Aku -"


Dalvin memajukan dirinya dan mencium bibir imut Inggit. "Aku orang pertama yang mencium kamu ... dua kali loh."


Wajah Inggit sudah memerah, ia tak mampu berkata-kata. Dalvin kembali memajukan dirinya dan mencium Inggit dengan lembut dan lebih lama lagi. Inggit pun perlahan membalas ciuman Dalvin.

__ADS_1


Dalvin yang melepaskan pagutannya lebih dahulu. "Jadi, pasti mau 'kan?"


Sambil malu-malu, Inggit menganggukkan kepalanya.


"Nah, gitu dong!" Dalvin kembali mencium Inggit, kali ini lebih hot dari sebelumnya. Inggit saja sampai kehabisan nafas dibuatnya.


"Inggit, ayo kita sarap ... an dulu." Mama Dalvin terkejut saat membuka pintu kamar Dalvin dan mendapati keduanya sedang berciuman. "Maaf Mama mengganggu, silahkan lanjutkan lagi!"


Inggit dan Dalvin melepaskan pagutann mereka dan menjadi kikuk dibuatnya. "Ah, Mama ganggu saja!"


"Ih, aku malu!"


****


Dalvin mencoba membuat beberapa berita miring tentang Pak Sumanto, sayangnya berita miring yang ia keluarkan selalu lenyap dibasmi oleh orang-orang suruhan pihak Pak Sumanto. Melaporkan ke polisi saat ini jelas tak mungkin, kekuasaan Pak Sumanto susah ditembus.


Dalvin mencari informasi tentang Fandi, hasilnya pun nihil. Sama seperti Om-nya, keponakannya ternyata sama licinnya. Dalvin malah melihat foto-foto kemesraan Inggit dengan Fandi, mereka dianggap pasangan serasi yang membuat banyak orang iri. "Cih, serasi darimana? Semua cuma pura-pura saja," cibir Dalvin.


Dalvin menepuk keningnya. Ia teringat perkataan Inggit tentang Naura. Dalvin pun segera menelepon Naura dan mengajaknya untuk bertemu.


Dalvin berencana akan makan siang bersama Naura. Dengan menyamar, Dalvin nekat menemui Naura. Beberapa hari ini Dalvin bersembunyi agar keberadaannya tak diketahui. Rumah keluarga Dalvin juga dijaga ketat oleh orang-orang yang menyamar. Semua demi keselamatan Dalvin dan Inggit. Selama bertemu Naura, anak buah Papa Dalvin selalu mengikuti.


"Mas Dalvin berbeda sekali penampilannya? Lagi menyamar?" Naura agak kaget melihat Dalvin.


"Agar aku tak dikenali. Kita langsung saja ke tujuanku menemuimu. Aku mau bertanya tentang hubunganmu dengan Fandi. Kenapa kamu putus?" tanya Dalvin.


"Jelas saja aku putus. Mana mau aku dengan lelaki egois macam dia? Mas Dalvin tahu, dia bilang kalau kami menikah, aku harus tinggal bersama Mama dan adiknya. Siapa yang mau? Mamanya rese dan adiknya matre. Aku mengajaknya untuk membeli rumah sendiri namun dia menolak. Kebetulan aku dapat kerjaan di luar negeri, ya ... aku memilih pekerjaan itu daripada bersama lelaki egois yang suka memaksakan kehendaknya sendiri," jawab Naura.


"Jadi ... bukan karena kamu ketahuan selingkuh dan berhubungan dengan dua laki-laki sekaligus?"

__ADS_1


"Kata siapa? Enak saja. Aku tidak seperti itu!" elak Naura.


"Sudah kuduga sih. Aku kenal kamu. Setahu aku, kamu tak akan berbuat seperti itu. Karir kamu cemerlang. Tak perlu melakukan hal seperti itu untuk membuat karirmu makin cemerlang. Terima kasih banyak Naura atas informasinya."


"Tunggu, Mas. Kalau memang Fandi yang menyebarkan berita itu, aku punya rahasia tentang dia."


"Rahasia apa?"


"Sebenarnya ... Fandi melakukan beberapa trik kotor." Naura memutarkan video yang berisi percakapan Fandi dengan seseorang. "Fandi tak tahu kalau aku duduk di belakangnya. Aku dengar, dia bergabung dalam sabotase bersama beberapa perusahaan lain untuk menghancurkan mega proyek Mangkudewa."


"Wow, sungguh informasi yang sangat berarti untukku. Terima kasih banyak Naura. Aku akan menggunakan informasi yang kamu berikan dengan sebaik-baiknya."


Sesampainya di rumah, Dalvin langsung menghubungi pemimpin proyek Mangkudewa. Sebenarnya Dalvin tak terlalu kenal, namun sosok Rezvan sudah ia lihat beberapa kali di televisi dan portal berita online. Pengusaha muda yang tampan tersebut berani melawan perusahaan besar yang nekat melakukan sabotase di proyek yang ia pegang. Kesempatan ini tak akan Dalvin sia-siakan.


"Pak Rezvan, saya punya sesuatu untuk Anda. Bisa Anda membantu saya?" Dalvin mengajukan tawaran kerjasama yang langsung disetujui oleh Rezvan setelah melihat bukti yang Dalvin miliki.


"Oke, saya setuju. Saya akan membantu Anda melalui siaran pers. Saya juga tak suka dengan orang-orang yang menggunakan kekuasaan untuk membungkam kebenaran. Jika suara Anda tak didengar, maka suara saya akan membuat suara Anda terdengar," kata Rezvan dengan penuh wibawa.


"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak. Mungkin tanpa Anda, ucapan saya hanyalah debu yang tak ada artinya. Hari ini, saya akan langsung menyebarkan berita tentang kematian Alvian ke sosial media. Mohon bantuannya ya, Pak!"


"Tentu. Saya akan membantu Anda semampu saya."


Dalvin pun mulai melakukan serangan demi serangan ke kubu Fandi dan Pak Sumanto. Berita tentang pembuangan limbah pabrik ke danau dengan akun anonim terus ia sebar. Beberapa hacker handal ia pekerjakan untuk membuat ramai sosial media.


Setiap kali beritanya di take down oleh pihak Pak Sumanto, Dalvin akan mengeluarkan lagi berita yang sama. Lama kelamaan netijen yang peka mulai ramai membicarakan tentang pencemaran lingkungan. Aktivis lingkungan pun mulai mencari kebenaran yang disebar di sosial media.


"Kurang ajar! Berani sekali dia mengusikku!" Pak Sumanto begitu murka dengan ulah Dalvin. "Buat saham perusahaannya anjlok!"


****

__ADS_1


__ADS_2