
Fandi tak bisa konsentrasi bekerja. Semua berkas kerja seakan menampilkan ekspresi wajah Inggit yang sangat sedih akibat penolakannya.
Fandi kini menatap paper bag yang Inggit bawa. Ada beberapa baju yang Inggit bawakan. Inggit juga membuat sarapan untuknya. Fandi bukannya berterima kasih tapi malah menolaknya mentah-mentah, menyia-nyiakan semua pengorbanan yang Inggit lakukan untuknya.
Fandi menghela nafas dalam dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Hatinya merasa bersalah pada Inggit. Gadis polos itu tak tahu kalau selama ini dirinya sudah memanfaatkan kepolosannya demi keuntungan pribadinya.
Fandi teringat saat Naura kekasihnya menolak lamarannya padahal Fandi sudah menyiapkan cincin berlian yang cantik dan mahal untuknya. "Aku tak mau menikah muda. Aku masih ingin mengejar karir. Aku tak mau tubuhku jadi jelek karena punya anak!" kata Naura dengan pedas.
"Kalau kamu tak mau punya anak dalam waktu dekat, kita bisa menundanya, Ra. Aku juga tak akan melarang kamu untuk tetap berkarir. Kamu bisa tetap bekerja setelah kita menikah nanti," bujuk Fandi.
"Oh ya? Lalu saat wartawan tahu kalau aku sudah menikah, kamu pikir bagaimana nasib karirku kelak? Karirku akan redup, Fan. Aku tak mau itu. Susah payah aku kejar karirku, tak akan aku mau melepaskannya hanya demi sebuah ikatan pernikahan!" Naura menaruh cincin yang Fandi berikan. Cincin bermahkotakan berlian yang harganya fantastis. Semua tak ada artinya di mata Naura, karir lebih penting dibanding cinta yang Fandi tawarkan.
"Naura, please. Pikirkan lagi keputusan kamu. Aku bisa berikan apapun yang kamu mau. Kenapa kamu masih saja mengejar karir? Aku akan berikan semua hartaku untuk kamu!" Fandi tak terima ditolak Naura.
"Kamu pikir aku cewek matre? Aku lebih memilih mengejar cita-citaku. Kalau kamu mau menikahiku, tunggulah 3 tahun lagi. Itu pun kalau aku belum menemukan lelaki lain," kata Naura dengan sombongnya.
Fandi menggelengkan kepalanya. "Aku tak akan menunggumu, Ra. Aku sudah memberi kamu kesempatan dan kamu sia-siakan." Fandi mengambil kembali kotak cincin yang Naura taruh. "Lupakan lamaranku karena aku akan melamar wanita lain yang lebih baik dari kamu."
Fandi yang sakit hati karena ditolak Naura ditambah ia menyaksikan sendiri Naura berselingkuh di depan matanya membuat Fandi sakit hati. Ia pun memilih secara acak wanita yang akan dinikahinya. Pilihan Fandi jatuh pada resepsionis kantornya yang lumayan cantik dan lugu. Fandi dengar Inggit adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.
"Ya, ini yang aku cari. Cocok sekali. Tak masalah kalau aku menyia-nyiakan pernikahan kami. Tak akan ada orang tua yang membelanya. Yang terpenting aku akan segera menikah dan semua berita miring itu akan hilang!" Fandi pun memutuskan untuk melamar Inggit, meski keluarganya tak setuju karena Inggit tak berasal dari kasta yang sama. Fandi pun berpura-pura mencintai Inggit, membuat gadis polos itu mempercayainya dan jatuh dalam jebakannya.
Kini, tiga tahun telah berlalu. Inggit, si gadis polos itu mulai menggodanya karena tekanan keluarganya apalagi Mamanya yang sangat ingin memiliki cucu. Gosip Fandi penyuka sesama jenis tak sepenuhnya hilang, kecuali Fandi benar-benar memiliki anak. Ada secercah rasa kasihan timbul dalam diri Fandi melihat penderitaan yang Inggit rasakan.
__ADS_1
"Aku berencana membuat Naura menyesal telah berselingkuh dan menolak lamaranku. Aku ingin Naura mengemis cintaku lagi lalu aku akan menceraikan Inggit yang masih suci agar bisa menemukan orang lain. Rencana yang sempurna tapi kenapa sekarang aku mulai dihinggapi rasa iba dan kasihan? Ada apa dengan diriku?" batin Fandi.
****
Dalvin memberikan tisu pada Inggit yang tak henti menangis sejak turun dari taksi. Dalvin bingung bagaimana cara membuat Inggit tidak bersedih lagi. Dalvin pun membujuk anak Inggit seperti membujuk anak kecil yang sedang menangis.
"Mau permen?" tanya Dalvin.
Inggit menggelengkan kepalanya.
"Cokelat?" tanya Dalvin lagi.
Inggit kembali menggelengkan kepalanya.
"Nonton bioskop?"
"Es krim?"
Inggit terus menolak tawaran Dalvin. Dalvin jadi pusing mau menawarkan apa lagi pada Inggit.
"Mau apa dong? Hmm ... bagaimana kalau kita berlari saja? Aku dengar kalau berlari akan meredakan rasa kesal di hati, mau coba?" Dalvin berdiri dan mengulurkan tangannya pada Inggit.
Inggit menghapus air matanya. Ia menatap Dalvin yang sejak tadi berusaha membuatnya berhenti menangis. Hanya Dalvin yang benar-benar peduli padanya. Inggit lalu membalas uluran tangan Dalvin. Dengan menggenggam tangan Inggit, Dalvin mengajak Inggit berlari kecil. Dalvin tak melepaskan tangan Inggit sama sekali. Mereka berlari sampai ke taman.
__ADS_1
Inggit sudah terlihat lebih baik namun sorot matanya masih menggambarkan kesedihan yang mendalam. Tak mau Inggit terlihat menyedihkan, Dalvin pamit sebentar. Tak lama Dalvin kembali dengan dua botol air mineral dan sebuah gitar di tangannya.
"Bagaimana kalau kita menyanyi saja? Kamu mau lagu apa? Sedih? Senang? Hmm ... kayaknya aku tahu deh lagu apa yang cocok buat kamu." Dalvin memetik gitar.
"Bila ingin melihat ikan di dalam kolam. Tenangkan dulu airnya sebening kaca. Bila mata tertuju pada gadis pendiam. Caranya tak sama menggoda dara lincah. Jangan, jangan dulu. Janganlah di ganggu. Biarkan saja biar duduk dengan tenang. Senyum, senyum dulu. Senyum dari jauh. Kalau dia senyum tandanya hatinya mau." *)
Inggit yang semula bersedih kini tersenyum mendengar lirik lagu yang dinyanyikan oleh Dalvin. Lagu yang sangat viral di aplikasi Itok Itok. Dalvin berdiri dan memainkan gitarnya sambil bergoyang membuat Inggit melupakan kesedihannya dan mulai tertawa melihat ulah lucu Dalvin.
"Bagaimana? Sudah lebih tenang?" Dalvin mengembalikan gitar yang dipinjamnya dari pengamen dan memberikan selembar uang seratus ribuan sebagai bayarannya.
Inggit tersenyum. "Sudah, Mas. Terima kasih banyak Mas Dalvin sudah menghiburku. Sekarang, aku mau membahagiakan hidupku. Aku tak mau hidup tertekan lagi."
"Bagus! Itu baru wanita kuat. Jangan terus bersedih dan lebih baik mengisi hidup dengan sesuatu yang bermanfaat. Semangat, Inggit!"
"Semangat, Dalvin!"
Keduanya pun tertawa bersama. Tak lama Dalvin pamit pada Inggit karena ada yang meneleponnya. Dalvin menjauh dan mengangkat telepon dengan suara pelan. Dalvin tak mau Inggit mendengar percakapan rahasianya.
"Bagaimana? Sudah ketemu? Bagus. Bawa ke markas. Kasih sedikit pelajaran agar dia tidak main-main dengan Dalvin Haris! Terus awasi dia, aku ada urusan. Aku akan ke sana setelah urusanku selesai. Ingat, jangan sampai mati, cukup lebam sedikit saja. Satu lagi, main cantik, jangan meninggalkan jejak sedikitpun!"
****
*) Judul lagu Ikan Dalam Kolam diciptakan oleh Husein Bawafie
__ADS_1