Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Aksi Pembalasan


__ADS_3

Pak Sumanto melakukan segala hal untuk mencegah Dalvin menghancurkan dirinya. Dalvin tak putus asa, meskipun berita miring tentang perusahaannya terus disebar oleh orang-orang Pak Sumanto, namun semua itu bisa dibuktikan dengan prestasi yang dimiliki oleh perusahaan milik keluarganya tersebut.


Saham yang semula turun, bisa kembali stabil. Bahkan ditutup dengan berada di level ARA (Auto Rejection Atas). Hal tersebut tentu saja membuat Pak Sumanto semakin kesal. Ia tahu kalau Dalvin kini memegang barang bukti yang disembunyikan oleh Alvian.


Pak Sumanto melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Ia marah besar pada Fandi yang dianggap telah gagal melakukan tugasnya dan malah membuat keadaan semakin kacau saja. "Semua ini gara-gara kamu! Disuruh mengambil lukisan saja tidak becus! Memangnya kamu tidak tahu apa, kalau istri kamu itu berbohong? Apa kamu tidak bisa membaca gelagatnya? Sudah berapa lama kamu nikah? Kenapa kamu tidak tahu kalau dia itu sudah berbohong?!" maki Pak Sumanto yang marah besar pada Fandi.


"Maaf, Om. Aku memang sudah 3 tahun menikah dengan Inggit, namun kami bukan suami istri yang sebenarnya. Inggit itu cuma topeng untuk meredam semua isu yang tidak benar di kalangan masyarakat tentang aku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya ketika berbohong atau jujur. Aku saja tidak menyangka kalau aku akan ditipu habis-habisan olehnya. Aku pikir semua kebaikanku selama ini akan berhasil membuatnya tertipu, namun ternyata tidak. Dia malah lebih memilih mempercayai lelaki itu dibanding aku. Om, mengenai kasus sabotase-"


Belum selesai Fandi berbicara, Pak Sumanto sudah kembali marah-marah. "Kasus sabotase? Masih berani kamu meminta pertolongan Om atas kasus yang menimpa perusahaan kamu? Kamu saja tidak bisa membantu Om, enak saja kamu mengharapkan minta dibantu oleh om? Memangnya urusan Om cuma mengurusi perusahaan kamu saja? Gara-gara kamu gagal mengambil lukisan ini, bukan hanya perusahaan kamu yang terancam, karir Om di dunia politik juga terancam!" maki Pak Sumanto.


"Kamu sih sok tahu, kamu sendiri yang meyakinkan Om kalau kamu bisa mengambil sendiri lukisan itu tanpa bantuan Om. Kalau tahu kamu akan gagal, sudah Om suruh anak buah Om untuk menghabisi mereka semua di rumah itu! Biar saja kalian mati seperti Om membunuh Alvian dan istrinya!"


Fandi merinding mendengar perkataan Om-nya. Ternyata Om-nya adalah pembunuh kedua orang tua Inggit. Fandi pikir, Om-nya hanya mengincar lukisan tersebut saja, namun ternyata Om-nya sudah berbuat di luar batas.


Fandi juga jadi takut, bagaimana jika Om-nya tambah marah dan malah nyawanya sendiri yang terancam. "Maaf, Om. Aku hanya ingin Imggit tertipu oleh kata-kataku. Aku mau mengambilnya dengan cara baik-baik saja. Apa yang bisa aku bantu lagi, Om?"

__ADS_1


Fandi kini tak bisa lagi mengharapkan bantuan dari Om-nya. Masalah kini semakin membesar dan melebar ke mana-mana. Bukan hanya tentang Om-nya yang bermasalah mengenai limbah pembuangan pabrik yang menyebabkan danau menjadi tercemar, netizen mulai membongkar rahasia kelam yang dimiliki oleh Om-nya.


Rupanya bukan sekali Pak Sumanto melakukan tindakan pembunuhan. Ada seorang netizen yang akhirnya berani speak up. Ia mengatakan kalau orang tuanya adalah salah satu pekerja di pabrik tersebut dan kini menghilang tanpa jejak.


Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Dalvin. Secepat kilat ia bergerak mencari netizen tersebut dan mengamankannya di tempat yang tak tersentuh oleh Pak Sumanto. Dia takut saksi tersebut akan menjadi korban berikutnya.


Saksi tersebut lalu menunjukkan beberapa barang bukti yang dia miliki. Dalvin pun mengumpulkan semuanya untuk digunakan sebagai senjata melawan Pak Sumanto.


Kredibilitas Pak Sumanto semakin turun semenjak mencuatnya kasus tentang pencemaran lingkungan dan upaya pembunuhan. Elektabilitasnya merosot tajam dibanding para pesaingnya yang lain. Bahkan beberapa partai politik yang tergabung untuk mengusung dirinya kini mulai mengundurkan diri. Mereka tak mau bekerja sama untuk mengusung seseorang yang memiliki masa lalu yang kelam.


"Selamat malam semua. Perkenalkan, saya adalah Mr. X. Suatu hari saat saya kecil, saya sedang bersembunyi di dalam suatu rumah, rumah tersebut adalah rumah milik salah seorang pelukis ternama yang terkenal dengan inisialnya a.n. Di depan rumah tersebut ada beberapa orang yang berjaga dan saya melihat sendiri seorang laki-laki sedang mengeksekusi pelukis a.n atau yang memiliki nama asli Alvian Nugraha,"


"Pelukis tersebut, seperti yang kalian ketahui, sudah lama tidak mengeluarkan karya seni terbarunya. Semua karena memang beliau sudah meninggal dunia. Saya adalah saksi hidup, bagaimana lelaki tersebut menganiaya pelukis tersebut sampai akhirnya meregang nyawa. Istrinya tercinta pun tak luput dari kekejaman seorang lelaki yang bernama ... Sumanto."


Penonton streaming dan di aplikasi semakin banyak saja. Dalvin kembali melanjutkan konferensi persnya. Dalvin tak peduli kalau kini keberadaan dirinya sedang dicari oleh banyak orang.

__ADS_1


"Begitu kejamnya lelaki tersebut sampai tega membuat satu keluarga tercerai-berai. Pak Alvian dan istrinya meninggal dunia akibat ulah kejamnya, sedangkan anak tercintanya mengalami kecelakaan. Kasus ini ditutup sebagai kasus perampokan biasa padahal sebenarnya kasus ini murni pembunuhan. Tak ada barang bukti karena sudah berhasil dilenyapkan oleh pelaku, namun pelaku tak menyadari bahwa ada satu orang saksi yang ada di lokasi kejadian ditambah dengan anaknya yang ternyata masih hidup sampai sekarang. Ya, saya adalah saksinya dan putri Bapak Alvian yang masih hidup juga sebagai saksinya."


"Tujuan Bapak Sumanto melakukan ini adalah untuk merebut barang bukti yang dimiliki oleh Pak Alvian mengenai kecurangan dirinya dalam hal pembuangan limbah pabrik. Seperti yang kita ketahui bersama, danau yang ada di foto ini dulu adalah danau yang bersih dan kini lihatlah keadaannya sekarang. Tercemar dan kotor. Semua karena limbah dari pabrik milik Pak Sumanto dibuang ke danau tersebut. Beberapa aktivis lingkungan sudah melakukan penyelidikan dan inilah hasilnya." Dalvin menampilkan beberapa video yang dikirimkan oleh aktivis lingkungan kepadanya.


"Barang bukti selanjutnya adalah video yang memperlihatkan sendiri bagaimana Pak Sumanto sedang menyuruh anak buahnya untuk membuang limbah tersebut ke danau. Bisa kalian lihat, dalam video ini seorang karyawan laki-laki yang protes padanya kini telah lenyap. Pihak keluarga sudah berusaha mencari namun tak juga ditemukan. Kemanakah dia berada? Apakah sama nasibnya seperti Bapak Alvian Nugraha dan istrinya? Apakah kalian masih mau memiliki pemimpin yang punya rekam jejak seorang pembunuh? Kalau saya sih ... tidak. Jadi, katakan tidak pada pembunuh!"


Sosial media kembali ramai dengan ulah Dalvin. Kubu lawan politik Pak Sumanto mulai angkat bicara. Kesempatan ini tidak mereka sia-siakan. Ini menjadi ajang untuk menjatuhkan saingan terkuat mereka. Pak Sumanto diserang dari berbagai pihak sampai tidak bisa memburu Dalvin. Wartawan pun mulai memburu Pak Sumanto untuk dimintai keterangan.


Pihak kepolisian yang semula tutup mulut dan tak mau ikut campur dengan masalah yang berhubungan dengan politik, kini terpaksa harus turun tangan karena masyarakat sudah mulai ramai membicarakan di sosial media mengenai kredibilitas kepolisian dalam mengusut tuntas kasus yang menimpa calon pemimpin besar negeri ini. Rezvan pun membantu Dalvin.


Rezvan membuat konferensi pers mengenai sabotase yang dilakukan oleh Fandi, pemilik grup Harun yang tak lain adalah keponakan dari Pak Sumanto.. Hal ini kembali dikaitkan dengan Pak Sumanto yang membuat kedua pihak tersebut semakin tersudutkan.


Kini netizen yang bertugas untuk menyerang kedua pihak tersebut. Di manakah Dalvin setelah membuat semua kekacauan ini? Dalvin sedang asyik menikmati indahnya malam bersama Inggit sambil minum secangkir susu hangat. "Saatnya kita nonton berita, Git. Kita lihat bagaimana mereka saling menghancurkan satu sama lain!" Dalvin tersenyum penuh kemenangan. Siang malam ia bekerja dan kini ia tinggal menonton bagaimana musuh-musuhnya hancur satu persatu.


****

__ADS_1


__ADS_2